Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 468: Titik Terang


__ADS_3

Patricia tidak habis pikir mengapa sang raja melakukan hal ini. Jikalau tahu Kerajaan Timur tidak akan bertahan, mengapa masih ada prajurit, ksatria yang masih berjuang?


Mengapa mereka tidak ikut pindah ke dunia buatan sang raja yang damai ini? Dan malah menderita bahkan mati di dunia nyata?


Tarnatos terdiam mendengar pertanyaan gadis yang masih tidak berdaya ini. Ia bisa mengerti mengapa nada suaranya berubah jadi berat dan ekspresinya yang tidak percaya begitu.


Vincent tertunduk, ia merasakan emosi rekannya yang begitu dalam. Pada akhirnya ia juga teringat lagi akan bagaimana prajurit yang menderita dan masih saja berjuang di tengah kehancuran yang hebat.


Muncullah pertanyaan, mengapa sang raja tidak peduli akan orang-orang yang berjuang di dunia nyata itu?


Mengapa pemimpin sepertinya malah lari dari masalah dan bersembunyi seperti pengecut?


"Aku tidak punya pilihan lain." Nada bicara Tarnatos terdengar lemah, sang raja ternyata punya alasan tersendiri mengapa ia melakukan hal ini.


Patricia terdiam. Ia berusaha tidak peduli akan rasa sesak yang ada di dadanya ini, atau jika ia terus mengikutinya maka tidak ada hal lain yang terucap selain terus menyalahkan sang raja.


"...." Brock dan Vincent terdiam, ia yang sudah tahu alasan sang raja tidak mengganggu bagaimana raja sendiri yang akan menjelaskannya.


"Jika aku tidak menggunakan kekuatan untuk membuat dunia palsu ini... aku akan kehilangan rakyatku." Tarnatos berjalan ke samping tempat tidur Patricia, melihat ke luar jendela yang di mana banyak orang berkerumun, sedang Patricia masih menatapnya dengan seksama.


Tampak dengan jelas sorot mata sang raja yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, yang di mana mengisyaratkan ia begitu peduli akan keberlangsungan hidup rakyatnya sendiri.


Yang jika dipikir bagaimanapun, para rakyat Kerajaan Timur sudah pasti akan jadi korban keganasan iblis yang sudah jelas-jelas terjadi sekarang ini.


Iblis akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya, dan itu memaksa sang Raja Kerajaan Timur ini untuk mengevakuasi rakyatnya ke tempat aman yang tidak dijangkau oleh makhluk berbahaya itu.


Jadi itulah alasannya mengapa suasana begitu hening saat dia dan teman-temannya datang kembali ke kota.


"Keputusanku itu tidak disetujui semua orang." Tarnatos akhirnya mengungkapkan alasan mengapa gadis ini melihat para ksatria dan mungkin orang lain yang masih ada di dunia nyata.


Yang itu terjadi karena idealisme mereka tidak sejalan dengan sang raja. Bagi mereka lebih baik berjuang di dunia nyata dibanding melarikan diri dari iblis.


"Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk meyakinkan mereka." Tarnatos tidak memaksa semua orang di kerajaan untuk menuruti perintahnya.


"...." Patricia terdiam mendengar alasan yang diutarakan itu, sang raja ternyata bersikap netral dan mementingkan rakyatnya sendiri dibandingkan harus berjuang melawan iblis dan menderita.

__ADS_1


Apakah itu adalah hal yang benar?


Pada akhirnya ini tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan orang. Di mana sang raja berjuang tidak peduli apapun yang terjadi, dan mengusir iblis dari wilayahnya.


Yang sayang sekali itu tidak terwujud di sini, bahkan sang raja sudah tahu kekuatan iblis berbahaya dan memilih menjauhi rencana yang tidak realistis seperti itu.


Meski tidak sesuai harapan, namun pada akhirnya Patricia hanya terdiam lemas di kasur, menyalahkan sang raja karena tidak mau meyakinkan semua orang agar selamat juga tidak ada artinya.


Semua yang tinggal di kota memilih jalannya untuk tetap di sana, dan Tarnatos tidak berusaha memanipulasi mereka.


Apakah memberikan kebebasan adalah hal yang paling tepat yang dilakukan sang raja ini?


Patricia jadi lebih tenang sekarang, pada akhirnya Raja Tarnatos punya alasan tersendiri untuk menjalankan rencananya seperti ini.


Tidak semua rencana yang dibuat sempurna. Hanya inilah yang bisa diperbuat oleh Tarnatos.


"Kau tidak perlu mengerti." Tarnatos tahu apa yang dibuatnya ini tidak sepenuhnya benar, jadi orang lain boleh berpikir apa saja tentangnya.


Patricia berusaha bangkit dari tempat tidurnya kembali, dan ia perlahan melihat ke jendela luar kamar, kebetulan kamar tempatnya ini ada di lantai atas, sehingga melihat bisa pemandangan di bawah lebih jelas.


Banyak orang yang terlihat murung dan terkesan muram, seolah mereka sedang berbagi cerita yang bermakna satu sama lain.


'Begitu ya,' batin Patricia dalam hatinya, ia mengerti orang yang selamat di dunia buatan ini tidak sepenuhnya senang, malahan sebaliknya.


Tidak ada pilihan selain mati dengan bangga atau hidup dengan penyelesalan.


"Lalu... kenapa Tuan Raja tidak menanyakan dulu... keputusan kami?" tanya Patricia dengan nada serius.


"Danny butuh kalian," jawab Tarnatos singkat.


Terlepas dari pertemuan pertama sekalipun, tidak membuat Tarnatos tidak kenal dengan ketiga orang ini.


Ia sudah mengumpulkan informasi mengenai Danny, berikut dengan teman-temannya. Hal itu ternyata berguna untuk sekarang ini.


Memang benar, Tarnatos tidak mungkin membiarkan rekan Danny, mengingat pemuda itu akan melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Setidaknya ucapkan selamat tinggal dahulu sebelum mengakhiri ini." Tarnatos memandang gadis ini serius. Pendiriannya tidak berubah untuk memberi kebebasan dalam menentukan pilihannya.


"...." Itu terdengar tegas dan kurang enak, namun pada Patricia mengerti sekarang.


Tidak peduli bagaimana perasaannya sekarang, atau bagaimana pendapatnya. Patricia tahu ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan sang raja ini.


"Kalian bertiga, istirahatlah dahulu selagi masih sempat." Tarnatos berbalik mengakhiri pembicaraan, berjalan keluar kamar.


Klek.


"Hm." Brock terkesan bagaimana jiwa sosial temannya ternyata lebih tinggi dari dugaannya.


"Kita beruntung diselamatkan raja." Vincent tertunduk, ia juga awalnya tidak baik-baik saja ketika mendengar penjelasan raja, namun seiring dengan berjalannya waktu, ia menerimanya juga.


Bisa saja sang raja tidak muncul dan situasi jadi lebih buruk, tentunya mereka tidak akan berada di sini sekarang.


"Apa kita bisa ... mencari Danny?" Patricia pikir mungkin ada cara untuk menemukan keberadaan rekannya itu.


"...." Vincent dan Brock terdiam, seolah memikirkan sesuatu.


"Bayangan hitam adalah kuncinya." Vincent terlihat serius sekarang. Tidak peduli seberapa kecil kemungkinannya, namun tetap saja ia tidak bisa mengabaikannya.


Entah mengapa pria berambut sebahu ini yakin dengan pasti apa yang dilihat rekan wanitanya itu adalah hal yang sama yang ia kenal dahulu..


"Arthur." Mata pria besar ini melotot, tidak terlihat mengerikan tapi mengisyaratkan ia sadar akan sesuatu.


"!" Vincent langsung menangkap apa yang dimaksud rekannya ini, mengingat memang nama yang disebutkan itu punya andil besar dengan bayangan hitam atau Dark Shadow.


Bukan kebetulan makhluk hitam yang mereka kenal mendatangkan Arthur, entah apa alasan menangkapnya saat itu, dan kini mereka punya teori liar yang mungkin saja bisa jadi cahaya di tengah kegelapan ini.


Meski Arthur akhirnya berhasil mengalahkan makhluk hitam itu, namun bukan berarti semua berakhir di situ.


Danny, Arthur, dan Dark Shadow.... Ketiga hal yang tidak terpisahkan dari masa lalu kedua pria ini.


*

__ADS_1


__ADS_2