
"Mengetahui apa Vincent? Aku tahu kok yang sedang kita lihat ini memang papan pengumuman," ujar Danny heran.
"Tu-tunggu Danny, memang benar yang kita lihat sekarang adalah papan pengumuman, lihat di bagian tengah itu, tertulis 'Best Fighter' kan?"
Danny melihat memang benar di sana ada tulisan tersebut dan di bawahnya ada sepuluh daftar nama-nama yang masuk di kategorinya.
"Hmmm, ini adalah orang-orang terkuat yang berada di tempat ini ya?"
Vincent mengangguk, raut mukanya terlihat penuh arti ketika melihat daftar nama itu, Danny bisa melihat Vincent ini adalah orang yang kuat dari luar dan dari dalam.
"Kalau kau berhasil masuk ke daftar ini, maka kamu sudah diakui di sini, banyak keuntungannya lho kalau sudah begitu."
"Hmmm, begitukah?"
"Ya, tentu, total para pria di sini ada seribu orang tidak termasuk para orang tua, perempuan dan anak-anak."
"Berarti di sini adalah seribu petarung dan hanya sepuluh yang bisa masuk dalam daftar ini ya ...."
"Ya Danny, persaingannya begitu ketat, begitu banyaknya macam-macam gaya bertarung, kau tidak bisa menilai kemampuan bertarungmu kecuali bertarung langsung dengan orang-orang ini,"
"Semakin banyak kau menang, posisimu akan semakin naik, kalau kalah berati yang terjadi sebaliknya."
Vincent memegang papan pengumuman itu, "Ini tidak wajib sih untuk diikuti, tapi aku sarankan jika kamu bisa bertarung, coba saja!"
__ADS_1
Danny melihat semangat Vincent yang berkobar-kobar dalam ketenangan sikapnya, "Hei, sebaiknya kau tidak perlu berharap banyak Danny."
Brock berjalan ke arah mereka, sembari menghembus-hembuskan nafasnya sendiri sepertinya ia masih kepedasan dengan makanan yang tadi, "Ya ampun, aku sampai minum satu galon air tadi ... haah ...."
"Hah?! Brock kau jangan menghabiskan persediaan air!"
"Ah, maaf aku sangat tidak tahan pedas Vincent," ujar Brock, Danny sendiri tidak menyangka pria besar itu tidak tahan pedas, memang benar kita tidak bisa melihat dari luar saja tentang siapa pun juga.
"Banyak yang sudah berjuang untuk berusaha untuk masuk di daftar itu, namun kebanyakan dari mereka gagal," ucap Brock, ia sepertinya memang mengetahui sesuatu tentang hal ini.
"Jadi inikah kompetisi itu? Untuk kita?"
Brock dan Vincent mengangguk bersamaan.
"Baiklah! Ini langkah yang tepat Danny, persiapkan dirimu, Brock kau juga!"
Brock hanya terdiam dengan ekspresi sedikit muram, meskipun telah disemangati temannya sekalipun rasanya memang dirinya sudah tidak tertarik dengan kompetisi ini.
***
Waktu istirahat telah selesai, orang-orang segera kembali ke sel dengan tertib.
Pintu sel terkunci dengan sendirinya setelah mereka masuk kedalamnya, "Lihat!" Vincent menunjuk ke sebuah layar di dinding sel mereka, terdapat sebuah layar kecil, mirip dengan tampilan LCD, layar itu menyatu dengan dinding di sana.
__ADS_1
"Wah? Apa ini?"
"Biasanya kita akan mendapat laporan kemajuan kita, terutama bagi kita yang sudah terdaftar di kompetisi ini," ujar Vincent
"Lihat!" Dalam layar itu di tampilkan bahwa Vincent saat ini tengah berada di posisi ke 980 dari total seribu petarung di sana, sedangkan Brock ada di posisi ke 550.
"Wah, ini benar-benar ketat."
"Kau benar Danny, ditambah lagi sistem yang dipakai membuat kita tidak boleh kalah sama sekali, atau kita akan turun peringkat," jelas Vincent.
"Oh, Danny dan kita juga bisa melihat detail dari setiap petarung di sini."
Lalu Vincent menekan lama satu nama dari sekian banyak nama di daftar itu, ia memilih namanya sendiri kemudian terlihat detail dari orang yang bersangkutan.
Terlihat statistik Vincent, tertulis 10-656-0 dari kiri ke kanan 'menang-kalah-seri' di sana juga terdapat foto, tanggal lahir, bahkan kata motivasi setiap petarung ada di sana.
Sedangkan Brock sendiri 100-50-25 Skor yang cukup tinggi, namun Brock hanya terdiam melihat statistiknya sendiri.
"Brock mengapa kamu muram begitu?"
"Oh, Danny, tidak aku hanya pikir hal ini memang tidak cocok buatku, sudah lama aku tidak ikut kompetisi ini lagi," ucap Brock, nampaknya memang ia memiliki alasan tertentu dibalik ia tidak ikut lagi.
"Tapi kalau kau berkehendak ikut, kami pasti mendukungmu Danny," tambah Brock sembari tersenyum kecil.
__ADS_1
"Baiklah! Inilah saatnya," ujar Vincent