
'Tuan Arthur mengenalnya?' Danny tidak menyangka juga ksatria suci kenal dengan makhluk ini.
HUUUSSH....
Sementara itu tubuh Arthur kini diselimuti oleh cahaya kuning. Mengingatkan Danny pada kejadian lampau.
"!" Danny ingat, ksatria suci seharusnya beranggotakan lima orang. Namun pada akhirnya tersiar kabar soal salah satu yang gugur di medan pertempuran.
'Apa yang dibicarakan ini... Tuan Thor?' batin Danny, ia tidak terpikir kemungkinan lain selain ini.
Berita yang tersebar memang sudah cukup lama dan selama perjalanannya sampai sekarang Danny memang kurang mengikuti berita soal apa yang terjadi di dunia luar.
Namun bukan berati ia tidak tahu apapun juga, fakta bahwa salah satu ksatria suci telah gugur adalah hal yang tersebar luas, bahkan untuk orang yang tidak mengikuti berita sekalipun.
Tapi mengapa berita tentang ksatria suci ini tidak disembunyikan saja? Mengingat akan menjadi memori tidak indah jika tersebar keluar.
Namun pada akhirnya tidak seperti itu, Arthur dan rekannya yang lain bersepakat untuk memberitahu perihal ini pada khalayak umum.
Hal ini membuka mata semua orang, sehebat apapun ksatria suci, namun tetap saja mereka adalah manusia, tidak ada yang bisa menghentikan akhir yang menjemput.
Meski begitu popularitas dan ketenaran mereka tetap terjaga, meski harus kehilangan salah satu anggotanya.
Jika bukan itu apa lagi yang bisa menjelaskan soal 'balas dendam' ini?
'Kalau tidak salah, Tuan Thor gugur di... tempat ini....' Danny akhirnya ingat jelas kabar yang sempat ia dengar lama sekali, bahkan sebelum ia memulai misinya mencari batu permata mulia.
'Domer....' Danny merenung, baru pertama kali ia mendengar nama itu, ia tidak punya ide apapun soal siapa dan apa kekuatan iblis ini.
Tidak ada waktu untuk menggali informasi seperti itu, iblis bergerak cepat dan tidak membiarkan hal merugikan itu terjadi.
Dengan tiadanya informasi lawan, pada akhirnya Danny hanya bisa bersiaga untuk kemungkinan apapun.
"Tenang, aku hanya mengujimu. Aku tidak punya urusan selain dengan dia." Domer mengangkat tangan kanannya menuju pada pemuda yang tak lain tak bukan adalah Danny sendiri.
Danny terdiam, ia pikir iblis besar ini hanya punya urusan dengan Arthur, mengingat dia banyak berbicara dengan ksatria suci itu.
'Pemuda itu maksudnya aku?' Danny akhirnya tahu iblis bernama Domer ini punya urusan dengannya.
Para iblis mulai muncul tidak peduli di mana ia sedang berada, dan kali ini terjadi cukup cepat.
'Aku bisa mengendalikan kekuatan kecepatan ini dengan mudah....' Danny ingat akan bagaimana ia bisa menyerang musuh yang begitu banyak itu.
'Namun itu karena kekuatan mereka berada di bawah, karena itulah aku tidak perlu memaksa kekuatan batu permata ini....'
Sejauh ini Danny berpikir dalam batinnya sendiri, fakta bahwa ia bisa mengalahkan iblis tingkat bawah dengan mudah, namun bagaimana dengan sekarang?
Bahkan untuk melihat pergerakannya saja sudah sulit? Danny kini sadar pada akhirnya memang ia tidak punya pilihan lain selain bersiap-siap.
__ADS_1
'Sudah cukup ragu... lelah sekali....'
Danny menatap ke lawannya dengan serius, ia sadar akan satu hal ini, yakni bahwa tidak ada gunanya melihat kenyataan yang ada.
Tidak ada gunanya takut akan rasa sakit yang akan terjadi, tidak ada gunanya terus memikirkannya.
Dengan memikirkan apa yang akan terjadi apakah itu membantunya sekarang? Danny sadar tidak sama sekali.
"Haaah...." Danny menarik nafas panjang, ia tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan diri yang sudah dibangun susah payah.
"Oi, anak muda pergilah ini urusan Arthur." Pria dengan kapak besar di punggungnya tidak senang melihat Danny menguatkan aura kekuatannya seperti itu.
Danny terdiam, ia paham apa yang dikatakan Tuan Worther padanya, iblis itu memang punya urusan dengan para ksatria suci, namun ia tidak peduli lagi.
Danny merasakan kekuatan Arthur semakin lama semakin kuat, yang pada akhirnya memang sudah jelas dia akan melakukan sesuatu di sini.
"Coba saja hentikan aku." Danny berancang-ancang dan melompat ke depan, sangat cepat, seolah-olah menghilang dari tempatnya.
BUM!
"Heh." Domer menangkis pukulan Danny yang cepat dengan tangan kanannya, seketika itu juga hempasan kuat tercipta.
SHHHH!
"Hei!" Jessica tidak percaya anak muda itu malah mengabaikan peringatan rekannya dan malah menyerang ke depan.
"Hah, pamer." Sedang Raven menghela nafasnya, ia pikir anak muda ini akan menunggu dan membiarkan para ksatria suci menanganinya,
Tidakkah lebih baik Domer dan Arthur menyelesaikan urusannya terlebih dahulu? Setelah itu baru pemuda itu melakukan apa yang diinginkannya? Setidaknya itulah yang terpikir dalam benak makhluk hitam ini.
Namun pada akhirnya Danny malah maju ke depan tidak peduli dengan Arthur, tidak terduga, namun sudah terjadi, mau bagaimana lagi?
Sssshhhhh....
Danny masih berupaya untuk mengerahkan kekuatan dalam tinjunya itu, tinjuan tangan kanannya itu bisa dihentikan dengan satu tangan oleh iblis merah ini.
'Refleknya cepat, aku harus lebih cepat!' Danny tahu ia tidak bisa mengandalkan kekuatan saat menggunakan kekuatan batu permata mulia ini.
SSSSHHHHHHH....
Aura yang terpancar dari Danny makin kuat, makin terang, sangat cepat terkumpul yang mustahil dilakukan oleh manusia biasa.
'Aku hanya perlu lebih cepat darinya!'
SYUT!
TRANGG!
__ADS_1
Seketika itu juga Danny bergerak sangat cepat, bahkan gerakan Domer tertinggal, Danny sudah menendang bagian lain di depan wajahnya, iblis itu masih berada di posisi yang sama.
'!'
SYUT!
Namun sayang seribu sayang, serangan yang sudah lebih cepat itu malah hanya mengenai salah satu lingkaran sihir yang mengelilingi iblis merah besar ini.
'Lingkaran sihir...' Danny merasakan kekuatan yang hebat hanya dari lingkaran sihir merah ini, seolah iblis ini punya pertahanan hidup yang siap melindunginya kapanpun.
Danny berhasil menghancurkan lingkaran sihir iblis itu, namun bertepatan dengan itu dia sadar dan akhirnya mundur ke belakang.
"Cepat juga untuk ukuran manusia...." Domer menatap Danny serius, ia tidak menyangka bisa kalah cepat oleh pemuda targetnya ini.
Danny terdiam, ia sudah mengerahkan kekuatan yang dibisanya, serangannya belum berhasil, namun ini belum berakhir.
'Dia bisa saja balas menyerangku tadi....' Danny tahu celah terbuka lebar setelah seranganya tertahan oleh sihir yang mengelilingi iblis itu, namun mengapa dia tidak menyerangnya langsung?
"!"
BUAGH!
BUM!
Tanpa bisa disangka siapapun Arthur datang dari belakang dan meninju Danny tepat di wajahnya, membuat pemuda itu terlempar jauh ke belakang, melewati musuhnya sendiri.
"Hmph." Worther menyilangkan tangannya di dada, ia terlihat puas dengan apa yang terjadi sekarang, seolah berkata 'itulah yang kau dapat jikalau ikut campur urusan orang lain'.
"...." Sedang Raven masih berdiri tak melakukan apapun yang berarti, ia bahkan tidak menolong Danny yang tiba-tiba diserang oleh ksatria suci itu.
"Biar dia belajar dari pengalaman saja." Raven tidak melihat apa yang dilakukan Danny salah, hanya saja caranya kurang tepat. Membuktikan diri di saat seperti ini bukanlah hal yang bagus.
"Arthur...." Hellen menaruh tangannya di dada, ia bisa mengerti mengapa rekannya itu melakukan hal seperti ini, tidak mungkin ia membiarkan urusan ini dilakukan orang lain. Arthur bukan tipe orang yang meninggalkan tanggung jawabnya sendiri.
Dan tanggung jawabnya sekarang adalah untuk menghabisi makhluk yang telah membuat temannya meninggalkan dunia ini.
"Kau menyerang temanmu sendiri?" Domer terlihat penasaran.
Arthur berdiri dengan kekuatan yang luar biasa, mengepalkan kedua tangannya, mengangkat tangan kanannya ke depan dan seketika itu juga muncullah pedang kuning yang bercahaya terang.
HUSH!
Tak menunggu aba-aba lagi, Arthur melesat ke depan mengayunkan pedangnya ke arah targetnya dengan cepat.
HUSSH!
TRANG!
__ADS_1
"!"
"Tidak secepat itu Tuan." Terlihat Danny menghentikan serangan pedang ksatria suci itu dengan tinjunya sendiri, sorot matanya berubah menjadi merah terang, begitupula dengan aura di seluruh tubuhnya.