Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 161: Masih Ada Harapan? (2)


__ADS_3

Kibo telah mengajukan pertanyaan untuk sang bapak itu, kini ia sedang menunggu jawaban darinya.


Sebuah jawaban yang akan menentukan akan seperti apa perjalanan mereka untuk mengikuti kompetisi di dekat kerajaan barat, apakah semua perjalanan akan sia-sia ataukah akan membuahkan hasil?


Kekhawatiran Kibo adalah tentang waktu diadakannya kompetisi itu, sangat mendesak, waktu yang ditetapkan ada dua hari yang tersisa dari sekarang


Bahkan jika sudah memakai kecepatan penuh kuda selama sehari tidak akan cukup pula untuk mengejar tempat yang tidak dekat itu, kuda mereka bukanlah robot yang bisa membawa mereka tanpa henti ke tempat kompetisi itu diadakan.


"Sebenarnya untuk mencapai dekat pusat kota kerajaan barat ada beberapa jalan yang bisa diambil, namun ada satu jalan yang tercepat diantara jalan lain ...." Bapak-bapak mulai menjelaskan tentunya.


"Jalan tercepat?! Benarkah?" Kibo mulai antusias, harapannya mulai naik dan ia berharap penjelasan dari Bapak-bapak dapat memenuhi harapannya.


"Ya, diantara dari banyaknya jalan itu, saya akan jelaskan dua diantaranya."


"Jalan pertama adalah tentu saja jalan utama, Tuan-tuan sekalian akan bisa mencapai dekat pusat kota kerajaan barat namun harus terlebih dahulu melintasi area berbukit, menanjak dan menurun yang cukup banyak," ujar sang Bapak.

__ADS_1


"Berbukit?"


Kibo tidak yakin apakah ini jalan tercepatnya? Maksudnya bila memang jalanan menanjak dan menurun dengan tajam tentu saja kedua hal itu akan memperlambat pergerakan mereka. Yang berarti kemungkinan mereka terlambat semakin besar.


"Kalau begitu ...."


"Ba-bagaimana dengan jalan kedua?" tanya Kibo, ia kali ini berharap jalur jalan kedua tidak lebih buruk dibanding dengan jalan pertama yang telah didengarnya.


"Jalur kedua adalah jalanan yang menembus melalui hutan, namun jalan itu berbatu dan sulit dilalui ...."


"Tidak, jalur kedua yang saya bicarakan itu memiliki jarak tempuh yang lebih pendek, jadi Tuan-tuan sekalian bisa lebih cepat menuju dekat pusat kota kerajaan barat."


"Karena jalan kedua itu bisa disebut jalan pintas menuju ke dekat pusat kota kerajaan barat," ujar Bapak itu.


Ketika Kibo mendengar hal seperti ini, ia sangat senang karena memiliki harapan agar mereka bisa mengikuti kompetisi di dekat kerajaan barat itu.

__ADS_1


Kibo tersenyum tanda perasaannya lebih tenang, ia tidak perlu takut lagi harus memikirkan 'tidak sempat untuk mengikuti kompetisi' jelas-jelas ia pasti akan memilih jalur kedua yang telah dikatakan oleh bapak itu.


"Kalau begitu—"


Belum sampai Kibo menuntaskan kata-katanya, Bapak itu langsung kembali melanjutkan penjelasannya secara tiba-tiba.


"Namun saya menyarankan agar tidak mengambil jalur yang kedua Tuan." Entah mengapa perasaan Kibo menjadi tidak enak saat ini.


Tidak ada pilihan lain untuk Kibo selain menanyakan mengapa sang bapak mengatakan hal seperti itu, mengapa harapannya yang naik perlahan harus kembali tergoncang? Sebenarnya apa lagi yang akan terjadi?


"A-ada apa pak?" Kibo malah meragukan harapannya saat ini, firasatnya yang tajam kini menimbulkan pemikiran negatif ke dalam pemikirannya itu.


Bapak itu pun kembali akan menjelaskan penjelasan yang terpotong itu, dari yang Kibo perhatikan nampaknya bapak ini adalah orang yang kuat dari semenjak ia bercakap-cakap dengannya, ia bersikap seperti biasa tanpa merasa ketakutan berlebih apalagi sampai menghindar dari mereka, meskipun ia tahu bahwa dirinya memiliki pengalaman buruk sama dengan yang lain.


"Karena di jalur kedua itu ...."

__ADS_1


__ADS_2