
Archifer terdiam melihat pemuda yang sama, berdiri menatapnya santai.
Kini wujudnya sudah normal lagi, bukan tengkorak polos.
‘Ho.’ Lagi-lagi hal yang mengejutkan terjadi. Pemuda ini sudah memecahkan rekor dalam mengejutkan raja iblis.
Archifer berbalik dan melihatnya dengan seerius.
“Yah tempatmu enak juga.” Danny merasa hangat setelah berendam dalam lava.
Raven terdiam tak percaya dengan apa yang dilihatnya. ‘Kenapa bisa?’
Beragam pertanyaan pun muncul, namun satu hal yang ia tahu, semua ini belum selesai!
HUSHH!
Tanpa pikir panjang raja iblis segera melesat ke depan, dan menghantamkan banyak serangan!
BUM!
Hempasan yang kuat pun tercipta, membuat gadis cantik berpakaian hitam itu terlempar jauh!
“Sial!” Inilah akibat kekuatannya diserap, jadi lemas begini!
BUMMMM!
DUAAAR!
Serangan fisik super mega besar pun tak terhindarkan.
‘KENAPA DIA BISA?’ Kesabaran raja iblis hampir habis, ia tidak menduga akan terjadinya hal seperti ini.
Ini sudah lebih dari dipermainkan namanya, kenapa belum juga kalah!?
“Heeheh….” Danny tertawa sembari mengatasi semua serangan yang dilancarkan padanya, terasa sangat mudah sampai membuatnya tak bisa menahannya.
__ADS_1
“!” Alis mata raja iblis turun tajam.
Ia mengangkat tangannya ke atas, dan dengan penuh dedikasi mengivestasikan semua kekuatan gelapnya.
“Pedang Gelap: Kematian.”
SWRUUUZHHHH!
Terciptalah pedang super duper besar, sebuah senjata mengerikan yang bahkan lebih besar dari lapangan bola.
Danny baru pertama kali melihat pedang sebesar itu, namun ekspresinya sama sekali tak berubah.
Hawa keputusasaan luar biasa terpancar dari raja iblis. Membuat siapapun musuhnya ketar-ketir dan tidak berdaya.
Tekanan yang bahkan melebihi beban hidup terberat manapun. Merusak akal sehat targetnya.
“Hoaam.” Namun yang terjadi malah Danny yang menguap bosan.
‘Lama sekali.’ Danny mengeluh, tapi yah mau bagaimana lagi.
“….” Archifer tetap mengumpulkan energinya, mempersiapkan sebuah serangan yang tidak masuk akal. Yang bahkan bisa membuat tempatnya sendiri hancur.
*
“Uwow!” Raven terbangun di dataran antah berantah, lagi-lagi ia sudah terhempas jauh, dan untunglah dewi keberuntungan masih menolongnya, ia tidak terjatuh ke dalam lava panas.
Tapi kelegaannya tak berlangsung lama, getaran yang hebat disertai energi tak masuk akal membuatnya terdiam tak percaya.
‘Apa yang….?’ Raven merasakan kekuatan yang amat hebat, yang tentu saja itu adalah raja iblis sendiri.
Sebuah kekuatan besar yang mengerikan yang bahkan tidak bisa dipikirkan.
“ITU!?” Mata gadis itu terbuka lebar melhat pedang super duper besar dengan kekuatan gelap yang mengerikan.
Blugh.
__ADS_1
Baru saja bangkit sebentar kakinya sudah lemas lagi, kini ia bertumpu pada kedua lututnya.
Raven terdiam, tahu betul bagaimana serangan itu akan berdampak nanti.
Memang tidak bisa dipungkiri, pertarungan mereka berdua sudah diluar nalar, kini malah lebih diluar nalar lagi.
“Serangan bunuh diri,” gumam Raven, yah itulah kenyataan yang terlihat sekarang dan yang tak lama lagi akan terjadi.
Kenapa bisa-bisanya sang raja iblis melakukan ini? Bukankah dia masih punya banyak trik rahasia dan serangan memanjakan mata lain? Tapi kenapa?
Raven lagi-lagi terdiam memikirkan ini semua, dan ia langsung menemukan jawabannya.
Setelah kekuatannya disedot, Raven bisa merasakan kekuatan raja iblis dengan jelas.
Mungkin karena ada hubungan atau apalah, Raven tahu Archifer sudah menggunakan kartu as-nya.
Tidak ada lagi permainan, semuanya akan berakhir dengan keseriusan dan supremasi raja iblis. Dia akan mengakhiri ini dengan cepat, meski ada harga yang harus dibayar,
Sangg raja iblis meresikokan dirinya sendii dan bahkan merelakan tempat ini untuk hancur.
Sebuah keputusan yang tak disangka diambil olehnya.
Kalau begitu ini bisa jadi akhir untuk pemuda itu dan dirinya….
“Danny….” Raven terdiam, ia menutup matanya, bukan saatnya meratapi nasib, tapi ia harus berjuang sampai akhir!
***
DRTTTTTT…..
ZRSSSHHH!
Pedang gelap super duper besar sudah tercipta, sorot raja iblis terlihat tajam.
“Ada kata-kata terakhir?” tanyanya dengan nada meremehkan.
__ADS_1
Danny memandang raja iblis itu, tak ada keraguan sedikitpun dari wajahnya.
“Kau tahu Archifer? Kau sudah kalah.” Danny menunjuknya dengan wajah tersenyum.