
Quan Cho adalah seorang petarung, matanya sipit, tubuhnya sedikit kurang berisi, gaya rambutnya sedikit panjang mirip dengan Vincent, namun teksturnya lebih terlihat halus dan luwes.
Kumisnya belah dua tipis dan terlihat elegan, bibirnya samapula tipisnya, tidak ada sama sekali senyum di bibirnya itu, lagipula saat ini memang bukan waktunya untuk melakukan hal itu, dalam kasus ini, senyuman tidak dapat membawa kemenangan bagi para petarung.
Kuku-kuku pada jari tangannya sedikit panjang daripada umumnya, namun itu terlihat bersih karena ia menjaganya, berbeda dengan orang lain yang kurang menjaga kebersihan kebersihan kukunya sendiri yang seringkali memang disepelekan.
Bulu-bulu kaki halus menghiasi juga pada bagian kakinya yang sedikit kecil, nampak alami, tidak ada tanda-tanda pencukuran di sana.
Ia menjadi lawan pertama bagi Danny, terlepas dari penampilan luarnya sepertinya dia ini juga merupakan petarung yang tidak di remehkan, ini seperti akan memecahkan misteri dari suatu kasus di mana setiap kemungkinan bisa saja terjadi.
Danny belum mengetahui apa-apa tentang petarung ini, ia akan terus waspada mengamati setiap gerak-geriknya layaknya seperti kucing yang tengah memburu tikus.
Para penonton di dekat arena Danny bertarung malah sibuk mengobrol satu sama lain, yang fokus memperhatikan hanyalah Brock dan Vincent saja, mungkinkah mereka merindukan aksi baku hantam yang seru?
Namun keinginan para penonton belum juga terwujud, waktu terus berjalan, tak ada kata mundur mereka harus tetap maju menghadapi setiap apa yang menanti mereka di depannya.
__ADS_1
Postur tubuh Quan Cho kurang lebih sama dengan Danny, ia terus mengambil ancang-ancang, melompat-lompat kecil serta matanya yang sipit itu menatap Danny dengan tajam di balik kepalan tinju yang ia letakkan di depan wajahnya itu.
Danny memasang kuda-kuda, kedua petarung saling mengitari arena tanpa adanya satu pun serangan yang mereka lancarnya, Vincent hanya bisa berharap para penonton tidak tidur ketika melihat pertarungan ini.
"Zzzzz ...."
Danny, kau pasti bisa, jangan malu-malu kau bukanlah introvert! Ayo hempaskan dia dengan seluruh keinginanmu yang menggebu-gebu! Biarlah ia meratap, buatlah dia takut padamu, jadilah pemenang! Batin Vincent mulai berteriak-teriak saat ini.
Di sisi lain Brock melihat bahwa pertarungan ini adalah pertarungan yang penuh aksi diam-diaman, namun Brock terus memperhatikan detail-detail sekecil apapun di pertarungan kali ini.
"Hah?!"
Vincent kaget mendengar hal itu, bagaimana mungkin celananya itu rusak tanpa sepengetahuannya?
"Ka- kau bercanda kan Brock?"
__ADS_1
"Hmmm," Brock kembali memperhatikan dengan seksama celana merah pendek yang dipakai Danny itu.
"Kurasa tidak, aku melihat sekitar 0,3 centi adanya robekan di sisi bagian kanan celanamu itu."
"APA?!"
Vincent mencoba memastikan sendiri dengan mata kepalanya sendiri namun ia tidak mampu melihat bagian robekan yang dimaksud Brock itu.
Namun karena celana kesayangannya itu telah diberikan pada Danny, Vincent tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain ia harus merelakannya.
Separuh waktu telah berjalan, belum ada tanda-tanda dari siapapun yang akan segera menyerang. Sedangkan dari arena yang lain bahkan sudah ada yang menang karena K.O.
Nampaknya para petarung tidak mengindahkan lagi waktu pertandingan yang ada, mereka lebih suka mengakhirinya dengan cepat dan elegan.
Ronde pertama hampir selesai, belum ada suatu hal yang menarik di pertarungan Danny dan Quan Cho, menyisakan dengkuran yang begitu kencang saat pertandingan ini berlangsung.
__ADS_1
TENG!