Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 261: Merelakan


__ADS_3

"Tuan Arthur dan temannya mengevakuasi seluruh orang yang berada di dalam penjara, mereka sudah berada di tempat yang aman sekarang," jelas gadis itu.


Brock hanya bisa terdiam ketika mendengar Tuan Arthur pergi bersama dengan seluruh orang yang di tahan oleh kelompok Dark Shadow.


"Lalu mengapa kau tidak ikut pergi Patricia?" Brock penasaran mengapa gadis itu masih ada di tempat ini, padahal ia tahu bahwa Tuan Arthur mengevakuasi seluruh bekas korban penculikan, lantas mengapa dia masih ada di sini?


"Aku tidak tahu, ketika Tuan Arthur dan temannya memulai menggunakan sihir teleportasi untuk memindahkan kami semua, sebenarnya aku ikut bersama dengan orang lain; hanya saja aku tidak mengerti mengapa hanya aku saja yang tetap berada di sini sedangkan yang lain sudah menghilang."


"A-apa?" Brock heran mengetahui hanya gadis itu saja yang tidak ikut pergi bersama dengan sihir teleportasi itu? Apa yang terjadi sebenarnya?


"Aku pun sama sekali tidak mengerti mengapa bisa seperti ini, hanya aku saja seorang yang tidak ikut berpindah dalam sihir teleportasi itu ...." Patricia juga tidak bisa menjelaskan apapun mengenai kejadian saat itu.


"Mu-mungkin saja karena takdir tidak bisa memisahkan antara aku dan Danny." Patricia saat ini berbicara dengan kepercayaannya itu.


"Me-mereka meninggalkan kita!? Bagaimana ini Brock!?" Vincent merasa khawatir bagaimana keadaan mereka sekarang setelah hanya bertiga saat ini.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan selain harus menemukan jalan pulang kita sendiri, kau tahu? Kita sekarang bebas dari kehidupan terbelenggu selama ini."


"Oh ya, dulu sewaktu kami di sel Danny pernah menawarkan agar kami ikut bersamanya dalam perjalanan yang sedang di embannya itu." Brock hendak menceritakan sebagian kecil momen bersama Danny saat itu.


"Be-benarkah?" Patricia merasa tertarik untuk mendengarkannya.


"Ya, kami sempat ragu, namun pada akhirnya kami menyetujuinya; namun aku tidak menyangka Danny akan meninggalkan kita lebih dulu.


Patricia tertunduk dan terlihat masih sedih.


"Danny menceritakan banyak hal pada kami berdua, itu termasuk dengan cerita yang tidak masuk akal ketika kami pertama kali mendengarnya."

__ADS_1


Patricia kembali mengangkat kepalanya, ia ingat kembali apa yang Danny ceritakan sewaktu ia bertemu Kakek Leith pertama kali saat Danny berlatih daya tahan tubuhnya itu.


Danny juga telah menceritakan segalanya pada Patricia, hal yang tidak masuk akal dan sulit untuk dipercayai.


"Iblis?"


Brock serius ketika melihat Patricia mengatakan hal yang seperti itu. "Sesuatu seperti itu, iblis akan menyerang dunia ini dengan rencananya yang masih tidak diketahui."


"Aku tahu ini kedengarannya mustahil dan berlebihan, namun nyatanya aku percaya pada perkataan Danny saat ketika di sel penjara."


Brock mengutarakan bagaimana rasa percayanya pada Danny karena telah mendengar cerita pemuda itu; ia tahu ia belum menemui bukti apapun mengenai perkataan Danny tentang iblis ini, namun tetap saja ia percaya terhadapnya.


Vincent sependapat dengan Brock, ia hanya mengangguk-angguk tanda setuju akan perkataan Brock; ia menilai Danny bukanlah tipe orang yang berbohong dari awalnya.


Cerita Danny terdengar seperti dongeng yang menakut-nakuti anak-anak saja pada awalnya, namun Brock dan Vincent memercayainya bukan karena itu terdengar mustahil atau apapun, hanya saja rasanya ia bisa 'mengalami' cerita yang diceritakan Danny yang mereka dengar ketika sewaktu mereka bertiga berada di sel penjara.


Brock dan Vincent saat ini penasaran hal tidak masuk akal mana yang dimaksud oleh Patricia ini.


"Aku bertualang bersamanya dalam pencarian lima batu permata mulia; dia harus mendapatkan ke-lima batu agar tujuan utamanya bisa tercapai."


"Mulanya aku tidak tahu apapun tentang hal ini, namun yang kutahu dengan pasti adalah Danny akan sangat membutuhkan kekuatan lima batu permata mulia ini agar bisa mengalahkan para iblis."


"Sesuatu yang bisa mngalahkan para iblis?" Brock tercengang ketika mendengar hal itu.


Patricia mengangguk. "Ya, dan ia sudah memiliki dua batu saat ini; setiap kekuatan batu yang ia cari pada awalnya ia harus berlatih tubuhnya dahulu agar bisa menerima kekuatan besar dari batu permata mulia itu."


Brock menilai Patricia cukup tahu banyak mengenai Danny.

__ADS_1


"Semua ini untuk mengalahkan sesuatu yang mustahil untuk dikalahkan?" Vincent mengatakan hal yang rumit namun sebenarnya mudah untuk dimengerti.


"Kurasa begitu, Danny mengemban misi yang begitu berat itu seorang diri ketika aku belum bertemu dengannya, ia mengalami berbagai kehilangan di masa lalunya; maka dari itu aku yang tidak bisa apa-apa ini selalu ingin mengikutinya." Patricia tersenyum lembut dan tulus sambil mengusap pipi Danny, yang ternyata ada beberapa tetesan air mata yang keluar dari matanya saat ini.


"Ups, aku tidak seharusnya sedih kembali ... aku tidak mau membuat Danny menjadi kedinginan kembali ...." Patricia mengusap kembali air matanya itu.


Brock tahu apa yang dimaksudkan oleh Patricia, sederhananya adalah jika ia menangis maka alam pun ikut menangis juga.


"Jika Danny saat ini sudah tiada, aku sama sekali tidak tahu akan apa yang akan terjadi, mengenai iblis ataupun kejadian yang akan terjadi ...." Patricia tidak mengetahui apapun tentang itu, hanya Danny yang tahu.


"Aku pikir, mungkin saja akan ada yang bisa menghentikan mereka? Danny sudah mengakhiri perjuangannya di sini." Kini Patricia khawatir akan bagaimana ke-depannya ketika Danny yang mengetahui hal mengerikan ini harus tiada secara tiba-tiba saat ini.


Brock dan Vincent terdiam, mereka berdua tahu, memang hanya Danny lah yang paling tahu mengenai hal ini, namun mengapa ia harus terlebih dahulu meninggalkan mereka? Di saat banyak sekali hal yang tidak mereka tahu.


Brock mulai berbicara apa adanya pada gadis itu sekarang.


"Aku tahu Patricia, hal ini memang berat- namun pada akhirnya kita harus merelakan Danny, tentang hal seperti masa depan atau apapun kita tidak perlu takut, semua hal yang terjadi akan terjadi dan kita akan segera mengetahuinya, baik ataupun buruk."


"Biarlah kini Danny beristirahata dengan tenang- ia layak untuk kita hormati di saat terakhirnya seperti ini."


"Kita harus segera menguburkan Danny." Brock tahu perbincangan ini memakan waktu yang cukup lama, namun ia juga tahu Danny harus segera mendapatkan peristirahatan terakhir yang layak sebagai penghormatan terakhir juga.


Patricia setuju dengan usulan pria besar itu; ia harus merelakan kepergian temannya itu demi kebaikan dirinya sendiri juga.


"Terima kasih Danny, telah mau bersamaku meskipun hanya sementara; aku sangat menghargai waktu yang kita habiskan, terima kasih telah mengajariku berbagai macam hal, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengamu."


Patricia akhirnya menyerahkan tubuh Danny pada Brock, ia memangku kembali tubuh Danny.

__ADS_1


"Baiklah kita akan ke area hutan dan mencari tempat yang bagus untuk menguburkan Danny," ajak Brock pada Patricia dan Vincent.


__ADS_2