
Dia manusia yang begitu unik, sampai-sampai bisa membuatku seperti ini, aku tidak tahu mengapa sihir apinya bisa sekuat itu, namun aku yakin dengan pasti ia pasti banyak mengasah sihir api yang dimilikinya itu.
Tifee tersenyum, bukan senyum senang seperti biasanya, namun seperti merasa terpacu karena bertemu dengan seseorang yang mampu membuatnya menjadi seperti ini.
"Kau ... pasti belajar banyak mengenai sihir api ya?" Tifee ingin tahu mengapa sihir api yang dikeluarkan oleh pria berambut sebahu ini sebegitu kuat dan panasnya hingga akhirnya pertahanannya pun harus mengakui kekuatannya.
Vincent cukup banyak mengeluarkan tenaga untuk mengeluarkan sihir api sebesar dan sekuat itu, maka dari itu meskipun pernafasannya kembali seperti semula, tidak bisa mengembalikkan kekuatan yang terkuras dari dalam tubuhnya itu.
Ia pun tersenyum, keringat terus-terusan membanjiri tubuhnya. "Hanya itu yang kubisa, dan kupikir tidak ada salahnya terus mengasah kekuatanku, dan perlu kau ketahui juga Tifee, hampir lika tahun aku tidak menggunakan kekuatan sihir."
Tentunya ketika ia berada di dalam penjara dan dalam pengaruh kekuatan kelompok Dark Shadow, mustahil baginya untuk menggunakan sihir pada waktu itu.
"Sepertinya seranganku sedikit mengenaimu ya?" Vincent serius mengenai hal ini, sekaligus merasa lega karena usahanya membuahkan hasil, sihir apinya mampu memberi dampak pada iblis jahat itu.
"Sepertinya kau bukanlah manusia yang lemah menurut dugaanku tadi, kekuatanmu ini cukup mengejutkanku ...." Tifee mengakui bahwa memang kekuatan pria berambut sebahu ini tidak seperti yang diperkirakannya sebelumnya.
"Dan lagi, kenyataan bahwa kau bisa membaca seluruh gerakan seranganku bahkan tanpa melihatnya sekalipun, sungguh aneh, tapi aku sekarang sudah mengerti ...."
Vincent tahu akhirnya datang saat di mana iblis itu tahu akan kemampuannya itu, yang memang telah ditunjukkannya secara jelas seperti itu.
"Kau mampu untuk melihat masa depan sebelum semuanya terjadi ya." Raut wajah Tifee serius, kondisi tubuhnya masih terlihat berasap dan beberapa bagian baju hitam zirah itu terlihat hancur perlahan.
__ADS_1
"Aku pikir kau akan segera mengetahuinya, dan memang seperti itulah adanya." Vincent mengakui kemampuannya sendiri, ia tahu bahwa memang iblis itu akan tahu dengan sendirinya bahwa dirinya punya kemampuan seperti itu.
Tifee akhirnya tahu dengan pasti bahwa memang si pria ini memiliki suatu kemampuan unik, terlebih lagi kemampuannya mirip seperti dirinya itu.
Dan iblis itu hanya terdiam ketika mengetahui dugaan awalnya itu ternyata benar adanya, entah mengapa ia merasa aneh karena melihat musuhnya yang seorang manusia sudah melihat masa depan sebelum semuanya terjadi, dan kini ia sendiri yang punya kekuatan seperti itu tidak bisa digunakannya di tengah kemampuan (Trap)Destiny-nya ini.
"Ada apa? Kau bilang aku sudah kehilangan akal sehat bukan? Dan sampai saat ini masih begitu, apakah kau tidak ingin segera mengakhiriku?" Lagi-lagi kata pancingan keluar dari mulut pria itu, ia sudah tahu apa yang akan terjadi, iblis itu akan tetap menyerangnya dan kembali memojokkannya.
Hush!
Tifee melesat ke depan dengan wajah yang kembali beringas seakan-akan serigala yang akan menerkam mangsanya, ia tidak peduli dengan apapun yang terjadi asalkan manusia yang menghalanginya itu binasa; ia berputar dengan cepat dan melancarkan tendangan kaki kanan yang kuat hingga muncul gelombang udara yang hebat.
Buak!
"Uaakgh!" Ia terhempas dengan cepat, namun matanya masih tetap menatap dengan tajam pada iblis itu, ia lagi-lagi tidak memedulikan rasa sakit yang dirasanya itu.
"Tidak semudah yang kuperkirakan," gumam pria berambut sebahu itu, ia tahu perkataan sebelumnya sudah pasti menyinggung perasaan iblis itu, dan pada akhirnya dia akan melakukan apapun untuk mengakhirinya.
Nafas kembali dikumpulkannya, pandangan mata tajamnya masih menatap mata tajam yang lain yaitu si iblis itu yang menghampirinya dengan cepat saat ia terhempas itu, lebih cepat dari pada Vincent yang saat ini terhempas.
Satu-satunya hal yang kembali bisa dilakukannya adalah sebuah pertaruhan terakhir yang bisa diandalkannya di tengah situsasi hidup dan mati ini, kembali melawan iblis itu dengan segenap kekuatan dan tekadnya yang membara itu.
__ADS_1
"Matilah kau manusia yang telah menghalangi jalanku!" Tinjuan beraura merah mendekat dengan cepat ke arah Vincent saat ini beserta dengan gelombang udara yang hebat, tidak memberinya kesempatan sedikitpun untuk mengelak ataupun berbicara.
"Sihir Api: Tornado Api!" Beriringan dengan serangan yang datang padanya, Vincent menghembuskan nafas dalamnya yang telah dikumpulkannya sedari tadi, dari jarak yang cukup dekat untuk sekali lagi ia merisikokan serangannya untuk menghentikan iblis jahat itu.
"Argh!" Tinjuan Tifee tidak sempat sampai pada musuhnya, yang ada ia terhempas ke belakang oleh pusaran api yang tercipta dari kekuatan manusia yang tengah dilawannya itu.
Api berputar yang dahsyat layaknya tornado langsung mengenai Tifee tanpa sedikitpun bisa dihindarinya, tentunya karena ia masuk ke dalam pusaran api yang besar itu, ia melayang-layang ke atas dan semakin lama pusaran itu menjauh dari Vincent.
"Sial! Kau manusia berani-beraninya kau mempermalukanku seperti ini?!" Mata Tifee menatap tajam pada Vincent dan seketika itu juga terlihat raut keputusasaan dari air matanya itu, seakan ia benar-benar tidak mempercayai apa yang terjadi pada dirinya itu.
Semburan pusaran api yang menjulang ke atas itu masih berlangsung, tergantung seberapa banyak nafas Vincent yang tersisa demi melangsungkan serangan sihir apinya ini.
Tubuh Tifee berputar-putar di antara pusaran api itu, ia sepertinya sedang memikirkan cara bagaimana agar bisa keluar dari sihir merepotkan manusia ini.
Vincent terus mengendalikan putaran sihir apinya dan memaksanya untuk pergi ke arah cairan lava yang berada di laut itu, dan benar saja rencananya saat ini adalah membuat iblis itu terjatuh tepat di atas cairan yang panas itu.
Tifee yang perlahan menuju ke arah cairan lava itu tahu seketika itu juga rencana manusia itu, dia ingin mengakhirinya dengan cara menjatuhkannya ke bawah sana.
"Sial kau Manusia! Tidak mungkin aku akan dihancurkan oleh kemampuanku sendiri!" Tifee menguatkan dirinya sendiri, ia melawan putaran udara api itu dengan kekuatannya sendiri, dan dengan begitu pergerakan tornado api itu tidak akan bisa lebih menyeretnya lagi ke arah cairan lava itu.
Tifeebisa mengendalikan tubuhnya agar bisa tetap di tengah melayang di antara pusaran tornado api itu, dan mempertahankan posisinya itu demi agar dirinya tidak diseret ke cairan lava itu dan berakhir di sana.
__ADS_1
Vincent pada akhirnya sampai pada batasnya, ia kehabisan nafas dan lututnya sudah tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya, ia bertumpu pada kaki kanannya saat ini karena kelelahan setelah mengeluarkan serangan sihir tornado api miliknya itu.