
Meski itu adalah kenyataannya, lalu apa? Apakah dengan mengeluh, sang raja iblis bisa mengerti dan kemudian mengalah begitu saja?
Dari sini Danny sadar, ia tidak bisa berekspektasi lawannya kali ini sama dengan yang sebelumnya.
Tidak ada gunanya melihat kenyataan tanpa tekad yang kuat. Ini adalah momen, di mana kebenaran akan diungkap.
Alasan mengapa ia masih hidup sampai sekarang, dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya.
'Kenapa kematian tidak menginginkanku?'
Di hadapannya ada jawaban yang menanti. Tidak peduli semustahil apapun, selama percaya tidak ada yang tidak mungkin.
"Archifer, aku adalah nerakamu yang sesungguhnya."
Danny mengangkat kepalanya, tidak peduli ketika tubuhnya menolaknya sekalipun ia tetap melakukannya.
Ia mengepalkan kedua tangannya, dan melihat sang raja iblis dengan mahkota emas berkilau tersenyum penuh penasaran, tatapan hausnya seolah mengisyaratkan ia menginginkan kepuasan sesungguhnya.
Wajahnya.... separuh daging dan tengkorak....
"MENARIK!" Archifer tersenyum lebar, sudah lama sekali sejak ia melihat seorang yang berani melihat wajahnya secara langsung.
SSSHHHHH!
Danny menguatkan kekuatan dan tekadnya, ia percaya dengan apa yang ada padanya, tidak peduli apa yang terjadi, ia tidak mau memvonis masa depannya sendiri!
'Jikalau aku mati, aku bisa bersama kakek....'
'Dan jika tidak, raja iblis sudah menemui akhirnya.'
"HAAAAAH!" Danny maju ke depan, sementara aura kekuatannya bersinar warna-warni terang, menghampiri Archifer yang dengan tangan terbuka menyambut serangannya.
BUAK!
BUAGH!
Danny melancarkan rangkaian serangan fisik sangat cepat, bahkan membuat hempasan aura yang kuat yang menghentikan hujan dan menghembuskan awan gelap, tidak lupa dengan suara dentuman kuat dan lagi hempasan angin dahsyat.
Archifer menerima rentetan serangan itu dengan cekatan dan terkesan santai. Tidak perlu diragukan akan bagaimana performa sang raja iblis sendiri.
Secara teori Archifer sudah lebih banyak melihat dan mengalami langsung pertarungan, jadi tidak heran ia cukup santai meladeni serangan Danny.
Seolah mengisyaratkan dia juga menghormati dan mengakui usaha yang dilakukan pemuda ini. Ia tidak hanya mengulur waktu, namun ingin melihat seberapa jauh usaha yang dilakukan lawannya.
__ADS_1
DDDRRRTTT!
KRAK!
Sebuah retakan dimensi tercipta tiap kali kedua makhluk ini baku hantam, sungguhlah tidak main-main mereka ini.
'!' Danny berusaha tidak terkejut dengan kekuatan sang raja iblis, namun tetap saja hal itu sulit dilakukan.
"Seharusnya kumusnahkan manusia dari awal."
Sang raja iblis masih sempat mengatakan hal santai di tengah pertarungan.
Padahal Danny sudah menggempurnya dengan semua kekuatan yang ada dalam dirinya.
KRAK!
Pada akhirnya dimensi kota buatan benar-benar hancur akibat ledakan energi yang hebat, yang membuat Danny dan Archifer masing-masing terhempas ke belakang.
KRAAK!
Bluuuuurpp!
"!" Danny melihat sekitar, sekarang ia sedang di dalam air!
Terumbu karang indah, dan ikan yang berenang ke sana ke mari menguatkan apa yang dilihatnya memang tidak salah.
"Kegelapan: Hancur." Sementara itu Archifer menatap tajam lawannya dan seketika itu juga aura gelap mulai menghampiri Danny.
Bahkan karena suaranya juga membuat gelombang besar di dalam air seketika itu juga.
Danny kini bisa melihat aura gelap yang sedang menghampiri dirinya, ia sekarang bisa melihat serangannya dengan jelas.
Apakah serangannya melambat karena di dalam air?
Hmm....
Terkadang alasan sederhana adalah jawaban pertanyaan serius.
Namun pada akhirnya itu hanyalah dugaan saja.
'Kekuatan gelap lagi....' Danny melihat aura kekuatan gelap najis semakin mendekat ke arahnya, dan ia masih mikir apa yang harus dilakukannya.
'Tidak mungkin dibiarkan saja.'
__ADS_1
Memang ia menerima kekuatan gelap dari Raven dan kekuatannya jadi lebih efektif.
Namun bukan berarti ia menormalisasikan kekuatan gelap agar diterima begitu saja.
Bagaimanapun juga kekuatan gelap bukanlah spealisme-nya meski ia masih hidup sampai sekarang.
Andai saja kekuatan gelap sesederhana itu, tentu Danny tidak berpikir dua kali untuk menyerapnya saja.
Namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Kekuatan sang raja ini lebih memuakkan dari apapun.
Jika dibiarkan bukannya bagus malah sebaliknya. Danny tahu betul akan hal itu.
Danny menutup matanya, ia tahu kekuatan gelap itu bisa mengejarnya ke mana saja.
'Kalau begitu....'
SRING!
Danny memuka matanya, dan seketika itu juga dimensi lautan ini retak dan kemudian hancur seketika itu juga.
"HAAH!" Bersamaan dengan itu energi gelap menghilang.
"Hmph." Archifer menyilangkan tangannya, ia tidak terlihat terkejut.
SYUT!
Dalam kedipan mata selanjutnya, Danny kini berada di sebuah tempat, lebih tepatnya di atas bukit yang tinggi.
Bahkan awan pun terlihat begitu dekat yang menunjukkan memang keberadaannya sedang di puncak sekarang.
"Kau merepotkan." Archifer berada di sisi lain di bukit, sorot matanya tajam.
'....' Danny tidak merasa tatapan dari seorang raja ini membuatnya nyaman, malahan sebaliknya.
Wajah setengah daging dan setengah tengkorak itu terasa mengintimidasi. Seolah siapapun yang melihatnya pasti tidak akan lupa lagi seumur hidupnya.
Shhhh....
Hilir angin sejuk terasa begitu nyata, apalagi sekarang matahari sudah tenggelam di barat. Tempat yang sangat pas untuk bersantai menghabiskan waktu.
Namun tidak bagi Danny. Sekarang ia sedang mengurusi hal yang lebih penting daripada bersantai.
Archifer menghentikan tatapan tajamnya dan kemudian memandang sekelilingnya. Ternyata sang raja iblis ini pemerhati juga.
__ADS_1
"Dunia akan indah dengan kematianmu." Perkataan ini tepat keluar setelah sang raja iblis itu melihat sekeliling.
"...." Yah, kurang lebih Danny mengerti apa yang dikatakannya.