Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 51: Berangkat


__ADS_3

Akhirnya Danny dan Patricia berangkat dari sawah hijau yang indah itu, melihat burung-burung berada di udara membuat suasana memang menjadi nyaman


"Lihat Danny!"


"Huh?"


Patricia menunjuk keatas, burung-burung yang tengah terbang diatas mereka.


"Oh? burung yang indah ya.."


"Iya bangau putih yang indah..."


"Kau tahu banyak soal burung?"


"Hm? tidak juga..."


***


Setelah mereka melintasi persawahan, mereka tiba di sebuah jalan berpasir yang cukup muat untuk sebuah kereta kuda, namun sepertinya tidak ada kereta kuda yang lewat sekarang.


"Selanjutnya kita akan kemana Danny?"


"Kita akan cari tempat beristirahat, apakah di sekitar sini ada penginapan?"


Patricia mengangkat tangan ke dagunya, memikirkan jawabannya


"Eh?"


"Kau juga tidak tahu?"


Patricia berlaga tenang, dan memasang kedua tangannya di pinggangnya,


"Aku kan petualang sepertimu... jadi belum banyak hal yang ku ketahui hehe.."


Lantas mereka berdua melintasi jalanan berpasir coklat satu arah itu, seakan berharap bertemu seseorang yang tahu akan daerah tersebut.


Lagipula jalanan itu hanya dibatasi pohon rimbun, sama seperti jalan setapak yang telah dilewati sebelumnya namun lebih baik dan tidak bikin cepat capek.


Namun sampai sore berlalu, mereka tidak menemukan sesuatu atau seseorang untuk membantu mereka, pada akhirnya hari sudah mulai gelap

__ADS_1


"Kita harus bermalam di antara pepohonan ini.."


"Hah?!" Patricia terkejut dengan keputusan Danny


"Lebih baik kita terus berjalan, lagipula kau masih kuat kan?"


"..."


Danny tidak bisa menolak permintaan Patricia, ia mengatakan hal itu karena mengingat kemungkinan terburuknya mereka harus menginap di wilayah ini.


"Apakah kau punya..."


Clek!


"Ah ya... itulah yang sekarang dibutuhkan..."


"Hehehe.. Serahkan berbagai peralatan pendukung padaku!"


Hanya dengan bermodalkan sebuah senter, mereka harus melalui jalan tersebut, dengan berjaga-jaga sekitaran mereka..


HACHI!


"!"


"!"


"Apa itu?" Danny mulai mendekati asal suara tersebut


"Da..Danny...hati-hati..." Patricia mengikuti dari belakang dengan mengendap-endap


"Hei.." Danny menoleh spontan padanya


"Apa kau takut?"


"Takut? ohoho...tidak aku kan petualang..." ujarnya sambil menyembunyikan ketakutannya dengan tidak rapi


SREEEK..


Terlihat seorang pria tua, tengah berdiam diri, duduk diatas rerimbunnya daun dan sedang menghangatkan diri dengan sebuah api unggun yang ia buat sendiri dengan patahan ranting yang agak besar dan berbagai dedahanan pohon.

__ADS_1


"Tu..tuan..." Danny mulai memanggil sosok pria tua itu perlahan


Agak-agaknya Kakek tua itu sedang memejamkan matanya, mungkin sedang menikmati hangatnya api yang ia buat itu


Akhirnya Danny memutuskan untuk mendekati kakek itu..


"Ka..kek?"


"Hmmhmm..."


Kakek tua itu hanya mengeram


Danny mencoba menyentuh punggung kakek tersebut


Dan tiba-tiba kakek itu bangun dan setengah tersadar akan keberadaan Danny dan Patricia


"...Apakah yang kalian berdua yang sedang lakukan ini?" ujarnya sambil mengucek-ngucek matanya


"Kek, justru saya penasaran sama kakek yang sendirian disini.."


"!"


Kakek itu tersadar sepenuhnya


"Hah?! Kau?!"


"Y...ya?" Danny keheranan karena kakek itu terlihat terkejut melihatnya


"Akhirnya, Danny kau datang!"


Entah mengapa kakek itu terlihat bahagia, padahal Danny tidak kenal kakek itu, dan juga mengapa kakek tersebut kenal dengannya.


"Kau kenal kakek ini Danny?" bisik Patricia


"Aku.." Danny berusaha mengingat siapa kakek ini sebenarnya..


Pria tua beruban putih yang sangat banyak, urat-urat yang menonjol tanda ia memang sudah melewati banyak hal, kumisnya yang begitu tebal, begitupula dengan janggutnya.


Siapa kakek ini?

__ADS_1


"Kalau kau disini berarti.." Kakek itu mulai berbicara


"Apakah kau sudah memiliki batu sihir merah?"


__ADS_2