Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 466: Kedatangan Raja


__ADS_3

“Uh....” Perlahan Patricia membuka matanya, seketika itu juga kepalanya terasa berat, mirip seperti bangun tidur namun masih mengantuk, namun di sisi lain hatinya berusaha membangunkan paksa tubuhnya.


Alhasil Patricia bisa kembali membuka matanya, terasa kabur, namun tidak lama kemudian jelas kembali.


Perasaan seperti ada api disekitar tubuhnya masih ada, namun tidak terasa seperti terbakar, melainkan hangat, namun tetap saja tidak nyaman.


Meski baru sadar dan membuka matanya, namun Patricia langsung ingat alasan mengapa ia terluka. Ingatannya masih bisa diandalkan meski tubuhnya terasa lemah.


“....”


Apa yang sebenarnya terjadi di sini?


“Ah, Patricia kau sudah sadar?” Terdengar suara yang tidak asing, seketika itu juga Patricia melihat rekannya yang berambut sebahu yang melihatnya dengan lega.


Patricia merasa nyaman di punggungnya, entah mengapa ia malah baru sadar sekarang, mungkinkah karena tadi ia hanya terfokus pada sakitnya saja?


Terkadang orang hanya fokus pada rasa sakit saja ketimbang hal lain, padahal selalu ada hal yang bukan rasa sakit, dan itu bukan hal buruk.


Kenyamanan yang ia rasakan sekarang ini itu karena ia berada di atas kasur yang cukup empuk.


Patricia mencoba mengangkat badannya, perlu usaha lebih, namun tidak sesusah yang ia bayangkan sebelumnya. Ia kemudian duduk di atas kasur yang nyaman itu.


Padahal seharusnya ia sedang ada di medan pertarungan dengan area kota yang hancur, namun mengapa malah sekarang ia berada di kamar yang damai?


Bola mata Patricia bergerak melihat sekitarnya, dan apa yang dilihatnya adalah ruangan kamar berukuran sedang dengan dinding kayu coklat sederhana. Dan di dekatnya ada rekannya yang terlihat mengantuk.


“Ah! Patricia!” Pria berambut sebahu yang berada di dekatnya itu akhirnya sadar seorang yang dijaganya sudah bangun.


“Kau baik-baik saja?” Vincent memastikan kondisi rekannya, mengingat ia tidak tahu persis apa yang terjadi dengan rekannya ini, selain karena kelelahan dan luka fisik yang dialaminya.


Patricia terdiam sejenak, ia sedang membandingkan apa yang dirasakannya sekarang dan yang sebelumnya.


“Lebih baik,” jawab Patricia pendek yang mewakili apa yang dirasakannya, mengingat memang itulah yang ia rasakan.


“Apa... yang terjadi?” tanya Patricia cepat.


Ia penasaran mengapa bisa berada di sini, apa yang terjadi sebelumnya?


Klek.


Bersamaan dengan pertanyaannya itu, terbukalah pintu kamar dan ada dua orang yang masuk ke tempat ini.


Brock rekannya, dan satu orang lagi yang memakai makhkota.

__ADS_1


“Aku yang membawamu kemari.” Orang tua dengan mahkota ini membuka obrolan dan mendekati Patricia.


Patricia terdiam, ia bisa merasakan aura kepemimpinan yang besar dari orang tua dengan mahkota ini.


“Aku Tarnatos,” ujar pria tua itu sembari memegang dadanya sendiri, seolah ia sedang menghormati kepada siapa ia sedang bicara.


“Beliaulah yang menyelamatkanmu,” ujar Brock yang ada di samping orang tua itu.


“Ah. Terima kasih Tuan Raja.” Patricia menundukkan kepalanya memberi hormat, jika bisa ia juga ingin berlutut demi mengungkapkan rasa terima kasih yang lebih lagi.


Namun meski keadaan tubuhnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, namun tetap saja masih tubuhnya masih belum siap untuk melakukan apapun yang dikehendakinya.


Patricia masih merasa ia perlu kekuatan lebih juga hanya untuk duduk di kasur, rasanya akan lebih baik bilamana ia membaringkan tubuhnya di sini.


“Panggil saja Tarnatos, kau bisa membaringkan tubuhmu.” Seolah sang raja sudah tahu apa yang dirasakannya. Vincent akhirnya membantu Patricia untuk berbaring kembali.


“Sudah... berapa lama?” tanya Patricia penasaran.


“Belum lama, kau hebat bisa pulih secepat ini,” jawab Vincent sembari tersenyum kecil.


Patricia pikir waktu sudah berjalan begitu cepat sampai sekarang, mengingat situasi yang berbeda dari sebelumnya, namun ternyata tidak seperti itu adanya.


Patricia tidak pernah berpikir ia bisa bertemu dengan orang hebat, apalagi seorang raja yang kini tengah melihat keadaannya.


Siapa lagi yang bisa memulihkannya dari kondisinya sebelumnya? Jikalau bukan orang hebat seperti beliau ini?


“Kerja bagus mengusir musuh, Patricia.” Nada suara Tarnatos terdengar ramah, namun tidak menghilangkan aura kewibawaan yang ada pada dirinya.


“Apa?” Patricia agak terkejut, bola matanya membesar.


“Dia pergi?” Patricia tidak mengira akan hal ini, mengingat sebelumnya ia tidak sadarkan diri setelah menggunakan sihir terakhirnya.


Ia pikir ia sudah diselamatkan juga oleh kedua rekannya dari musuhnya, namun ternyata tidak seperti itu.


Tapi tidak mungkin juga seorang raja mengatakan hal yang tidak benar. Patricia tidak punya pilihan lain selain percaya padanya.


“....” Gadis ini terdiam, tidak terpikirkan olehnya akan orang sehebat ini berterima kasih padanya.


“Ah, tidak Tuan. Itu bukan karena saya.” Patricia sedikit menundukkan wajahnya, ia merasa tidak pantas menerima pujian dari hasil yang bukan usahanya sendiri.


Ia hanya menggunakan kekuatan yang dipinjamkan rekannya sendiri dan melakukan apa yang harus dilakukan, dan lagi, bisa membuat musuh sekuat itu mundur tidaklah terbayangkan olehnya.


Pasalnya tidak ada yang bisa ia lakukan selain berjuang sampai akhir, dan tidak berharap banyak soal apa yang akan terjadi setelahnya. Yang pada kenyataannya ternyata usahanya itu lebih dari apa yang ia pikirkan.

__ADS_1


Bisa saja memang musuhnya itu mundur karena alasan lain dan bukan karena serangan sihir yang ia lancarkan sebelumnya. Meng.ingat beberapa orang sudah bekerja keras demi melawan musuh yang kuat itu


“....” Tarnatos melihat gadis ini sudah berjuang keras, tidak peduli dengan keadaannya, dia masih tetap berjuang sampai akhir.


Tarnatos tahu apa yang dikatakan gadis itu memang benar, musuhnya yang menyerang pusat kota Kerajaan Timur benar-benar kuat dan sulit ditangani.


Namun masih ada orang-orang yang memperjuangkan apa yang mereka percaya, termasuk gadis ini.


Selama masih ada hal yang diperjuangkan, tidak peduli bagaimana hasilnya, tidak akan mengubah fakta gadis bernama Patrcia ini layak menerima ucapan terima kasih dari sang Raja, Tarnatos.


Membuat musuh yang kuat untuk mundur tidak semudah membalikkan telapak kaki, melainkan sebaliknya dengan kemungkinan yang amat kecil. Namun pad akhirnya dewi keberuntungan masih berpihak pada mereka.


Dan kini, setelah sang raja melihat beberapa orang yang ditemuinya, kini tiba saatnya ia melihat kondisi gadis ini.


Yang ia tahu dia adalah pengikut Danny. Tarnatos sudah mengumpulkan informasi sebelumnya.


Tidak mudah baginya untuk memulihkan kondisi gadis bernama Patricia ini, mengingat luka luar yang berarti dan terlebih lagi kondisi dalamnya.


Energi sihir yang tak stabil dalam tubuhnya lebih berbahaya ketimbang luka luar yang masih bisa diberi pertolongan pertama. Tarnatos tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan apa yang ia tahu dan bisa soal ilmu pemulihan demi mengembalikan kondisi gadis ini.


Dan bukan hanya karena usahanya saja, namun juga tekad yang kuat dari gadis ini yang membuatnya bisa bertahan juga. Karena kasus energi sihir yang tak stabil cukup jarang dan teknik pemulihan yang hebat juga tidak akan berarti bilamana korban tidak bisa berjuang akan kondisinya sendiri.


Tekad hidup yang kuat yang membuatnya bisa kembali sadar, bahkan lebih cepat dari yang seharusnya. Kini Tarnatos bisa melihat energi sihir gadis ini sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.


“Ah.. bagaimana dengan dua orang asing... itu?” tanya Patricia cepat, pasalnya sebelum ia berani mengambil tindakan, kedua pria asing itulah yang menolongnya dengan melindunginya dari musuh super kuat setengah elf itu.


“Mereka baik-baik saja, ada di ruangan lain.” Brock menjawab pertanyaan Patricia.


“Huh....” Patricia menghela nafas lega, meski ia tidak tahu dan tidak kenal siapa kedua pria asing yang muncul itu, tetap saja jasa mereka yang menolongnya sebagai orang asing tidak akan terlupakan, dan terlebih lagi apa yang terjadi bilamana kedua orang itu tidak hadir?


Ini adalah keajaiban. Begitulah Patricia memandangnya, ketika Danny menghilang entah kemana, namun keberadaan dua orang asing itu membuatnya bisa bertahan sampai sekarang ini.


Kini setelah tahu musuhnya itu sudah mundur, apakah ini saatnya untuk merasa tenang dan santai-santai saja?


Pada akhirnya tidak seperti itu. Terasa begitu jelas aura keseriusan yang ada di ruangan kamar ini, Tarnatos, Vincent, Brock dan Patricia tahu ini bukanlah akhirnya, musuh bisa saja melakukan apapun demi mencapai tujuannya.


“Danny menghilang.” Patricia memecah keheningan yang terjadi beberapa saat ini.


Brock dan Vincent terdiam, mereka juga sudah tahu akan hal ini.


“Apa kalian tahu kemungkinan apa yang bisa menyebabkannya menghilang?” tanya sang raja.


“Karena Danny target utamanya,” ujar Brock mengungkapkan pendapatnya.

__ADS_1


__ADS_2