
Ronde pertama akhirnya selesai, para petarung di berikan waktu istirahat selama tiga menit, Danny segera kembali menuju Brock dan Vincent yang tengah menantinya kembali.
Brock segera menyodorkan sebotol air pada Danny sedangkan Vincent mengelap air keringatnya yang nampaknya membanjiri wajah Danny saat itu.
"Danny mengapa keringatmu deras begini sedangkan kamu memang belum melakukan apa-apa di sana?"
"Oh? Maaf Vincent, nampaknya aku terlalu gugup di arena, ini kali pertama bagiku," ujar Danny pelan, terlihat kegugupannya itu menjadi sebuah halangan tersendiri selain lawannya itu.
"Oh, tidak perlu khawatir Danny, ambil waktu yang tepat- tidak usah buru-buru, matangkan teknik dan strategi yang akan kau gunakan nanti untuk melawannya."
"Terimakasih Brock, saranmu sangat menenangkanku, kuharap di ronde selanjutnya aku bisa lebih baik."
Brock mengacungkan jempolnya sedikit dan mengerdipkan sebelah matanya, Danny membalasnya dengan melakukan hal yang sama.
TENG!
Ronde kedua telah dimulai saat ini, adalah pertengahan dari keseluruhan pertandingan yang dihelat hari ini.
__ADS_1
"Baiklah! Ayo Danny kau pasti bisa!" Vincent tak kalah untuk memberi semangat pada teman barunya itu.
Kedua petarung kembali memasuki arena, kepalan tinju masih berada di sekitaran wajah mereka, menunggu waktu saja untuk mereka luncurkan.
Sama seperti ronde sebelumnya, mereka kembali menunggu-menunggu-menunggu, entah sampai kapan ini akan berlanjut, bahkan penulis sudah tidak bisa menjabarkan apa yang mereka lakukan saat ini.
"Hei, Brock, bagaimana menurutmu Danny ini?"
"Dia adalah seorang laki-laki,"
"Tentu saja, aku tidak tanya jenis kelaminnya, tidak mungkin aku tidak mengetahuinya dari awal kalau dia adalah laki-laki, kecuali memang dia adalah Trap."
"Lupakan Brock, lupakan saja- tidak seharusnya aku mengatakan hal ini juga."
"Tapi yang pasti," Vincent mengepalkan tangannya yang sedikit luka itu.
"Aku percaya pada Danny." Air mata (bukan air mata sungguhan) menunjukkan keyakinannya pada Danny, bahkan Vincent mulai bisa percaya padanya.
__ADS_1
Melihat Vincent yang percaya dan begitu optimis pada Danny, membuat Brock sedikit tergugah, ia merasa bahwa memang kita harus bersikap optimis dan penuh pengharapan apapun bagaimana pun kondisinya.
***
Brock kembali mengingat pertandingannya dahulu, sudah sekitar satu tahun lalu.
Kemenangan sudah didepan matanya, namun harapan menang itu sirna karena lawannya lebih tangguh dan mampu membalikkan keadaan.
Senyuman bangganya, keoptimisannya bahkan perasaan bangga pada dirinya sendiri mulai hilang perlahan dari diri Brock.
Lawannya itu, yang telah membalikkan keadaan, mengukir luka yang cukup besar, pada wajahnya saat ini, bagian kiri di area mata Brock harus robek dan mengeluarkan darah.
Kini itu membekas sampai sekarang, robekan seperti sayatan pisau yang mengarah dari atas bagian mata kiri sampai ke bagian bawahnya.
Untungnya cidera itu tidak sampai membahayakan matanya, namun yang paling membekas yang terjadi pada dirinya adalah kekuatan mentalnya itu sendiri.
Lawannya sendiri bangga dan mencoba mempermalukan Brock akan kepercayaan dirinya itu menyisakan ketidakpercayaan dan keheranan Brock akan mengapa ia bisa kalah.
__ADS_1
Kenyataan bahwa ia terlalu percaya diri akan kemampuannya, layaknya ia tengah berada di atas awan namun kemudian ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa terbang, kenyataan itu menghempaskan dengan keras bahkan sampai tanahpun ikut retak dibuatnya.
Para penggemar Brock pun mulai meninggalkannya, ya kalian tidak salah dengar, di kompetisi ini juga kita bisa mendapatkan penggemar namun itu tidak lebih dari sekedar pendukungmu saja, mereka biasanya mendukung dan menyemangati para pertarung, namun itu terkadang membuat para petarung terlena dan membuatnya melakukan segala cara agar pendukungnya senang.