Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 370: Perbedaan


__ADS_3

Serupa tapi tak sama, begitulah menurut pendapat Danny mengenai Cecilia dan Patricia ini, meskipun pada awalnya penampilan mereka hampir mirip namun pada akhirnya Danny menemukan tidak sedikit juga perbedaan di antara mereka.


Cecilia dan Patricia sama ramahnya, namun Cecilia lebih mudah malu dan lembut, sedangkan Patricia ramah dan energik, yang terkadang bisa bersikap yang lain juga sebenarnya.


Patricia lebih ceria dan memancarkan energi positif, bahkan perkataan yang keluar dari mulutnya terkadang bisa lebih baik terlepas dari sifatnya yang energik itu, bersemangat dan berani, sedangkan Cecilia anggun dan sopan serta selalu memancarkan energi menenangkan pada orang di sekitarnya.


Dua orang ini berbeda, sudah jelas dan tidak bisa diganggu gugat lagi, Danny akhirnya tahu apa yang telah dilakukannya, yakni menyemburkan amarah pada orang yang berbeda dan tidak tahu apa-apa yang dalam kenyataannya bukanlah hal yang baik untuk dilakukan, ia terus memikirkan hal ini.


"Ah, aku ini bicara apa?!" Patricia malah saat ini merasa terlalu bijak dan menjadi kehilangan dirinya sendiri, ia tidak seharusnya bersikap lemah lembut pada temannya ini bukan? Temannya yang belum sadar itu harus digebraknya agar kembali sadar dengan apa yang harus dilakukannya itu.


"Jadi Danny! Jangan lagi mengingat masa lalumu itu ya! Jika teringat lagi, sampaikan padaku lagi dan aku tidak keberatan untuk mengingatkanmu lagi hmph!" Patricia membuang mukanya sembari menyilangkan tangannya di dada meskipun dengan nada keras ia tidak terdengar marah ataupun kesal dengan temannya ini, malahan sikapnya itu terkesan dibuat-buat olehnya.


"Huft ...." Danny menahan agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat temannya ini tersinggung, tapi apa daya ia tidak kuasa untuk menghentikan apa yang ingin ia lepaskan itu.


"Hahaha!"


"Hah?!" Patricia tentu saja tidak terima temannya tertawa seperti itu, memangnya ada yang lucu?


"Aduh ...." Danny mengusap air matanya kesedihan dan juga kegeliannya itu, tidak disangkanya ia bisa terhibur oleh sikap temannya yang seperti ini.


Danny melihat Patricia begitu bijak dalam menasihatinya, namun ternyata memang ada bagian dirinya yang membuat nasihat itu seolah disampaikan dari dalam hati, yaitu bagaimana tadi bagian akhir Patricia menasihatinya itu.


Setelah beberapa saat Danny tenang, ia akhirnya tahu bagaimana nasihat temannya itu sudah benar-benar diterima olehnya, yang pasti ia kembali diingatkan akan kesalahan yang dibuatnya itu.


"Aku mengerti ... tidak seharusnya aku terikat pada masa lalu di belakangku." Danny akhirnya kembali di mana ia harus berpikir positif, terkadang mengingat masa lalu tidak benar-benar memberikannya semangat untuk maju malah sebaliknya, ia merasa tersiksa ketika terus-terusan ingat pada masa lalu itu.

__ADS_1


Patricia kembali melihat Danny, ia bisa melihat perubahan ekspresi kembali dari temannya itu, kini ia terlihat lebih tenang meskipun wajahnya masih diliputi sedikit kebimbangan.


Gadis itu pula tidak lantas melupakan akan apa yang terjadi tadi, dan kini ia ingin agar semuanya jelas, klarifikasi dari temannya Danny sangat dibutuhkannya saat ini, meskipun ia tahu jawaban singkat darinya memang telah didengarnya sebelumnya.


"Aku yang selalu ingin bertualang bersamamu Danny, dan aku baru tahu ternyata kamu harus kembali teringat akan temanmu itu, apa itu artinya kamu terbebani karena keberadaanku selama ini?"


Danny terkejut dan melihat langsung pada temannya itu, ia tidak benar-benar bermaksud seperti itu, lagipula tadi ia hanya dikendalikan oleh perasaannya saja.


"Bukan begitu Patricia! Abaikan saja perkataanku tadi, yang kusampaikan sebelumnya hanyalah keluhanku atas diriku sendiri, kau tidak ada hubungannya dengan ini." Danny berusaha untuk menjelaskan akan perkataannya tadi, ia tidak begitu bisa berpikir jernih sebelumnya.


"Benarkah? Tapi sebelumnya kau memarahiku juga~" Nada Patricia malah terdengar seperti orang manja, ia seolah tengah mengungkit hal yang tadi di alaminya dan minta pertanggungjawaban pada seorang yang memarahinya itu.


"Memangnya kau ini anak-anak?!" Danny juga malah terpancing karena temannya berlaku seperti itu, ia meninggikan nadanya seolah-olah tidak percaya akan sikap temannya yang seperti sedang main-main itu.


"Danny kau jahat~" Patricia menepuk dada temannya berkali-kali, kini mereka berdua seperti tengah bertengkar dalam urusan pribadi yang hanya diketahui oleh mereka sendiri.


Danny yang terus-terusan dipukul dengan lembut itu hanya bisa terdiam, ia memang telah memberinya penjelasan tadi, namun entah mengapa si temannya ini menanyakan hal yang sama kedua kalinya, apakah memang dia benar-benar memikirkannya?


Danny tidak yakin sepenuhnya begitu, bahkan dapat dilihat dengan jelas Patricia sepertinya hanya bercanda dengannya, dilihat dari perlakuannya yang tidak biasa itu, dan tidak terasa seperti tengah serius.


Setelah beberapa saat Patricia menghentikan tindakannya itu, dan ketika tangannya masih menyentuh dada temannya itu, ia mendekatkan kepalanya dan bersandar pada dada pria itu.


Patricia merasa nyaman dengan melakukan hal seperti ini, rasanya ketika baru mengetahui masa lalu orang yang berharga baginya itu cukup menyenangkan, kini ia berpikir bisa lebih dekat lagi dengannya.


"A- ada apa Patricia?" Danny kebingungan dengan teman perempuannya itu yang tiba-tiba menyenderkan kepalanya pada dadanya itu, dan lagi menutup matanya seperti tengah nyaman berada di dekatnya seperti itu.

__ADS_1


"Jangan khawatir Danny, masa lalu-mu memang tidak terlalu baik, namun kamu bisa memperjuangkan masa depan agar bisa lebih baik lagi." Patricia mengatakan ini sembari menutup matanya, ia juga mendengar detak jantung Danny yang sedikit berdebar-debar, yang memang tidak dipedulikannya asal ia bisa berada di dekatnya.


Tidak berselang lama sikap Patricia yang agak aneh itu membuat Danny sedikit penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis ini sekarang, dan membiarkan dia dekat dengannya tidak membuat dirinya nyaman juga, ia agak sedikit gugup karena Patricia adalah temannya sendiri, dan lagi ia perempuan yang berwajah cantik.


"Terima kasih Patricia atas dukunganmu, sekarang menyingkirlah dariku." Danny menegaskan nada bicara di kalimat terakhirnya, ia tahu benar teman perempuannya itu tidak semestinya berada terlalu dekat dengannya, ia memintanya agar sedikit memberi jarak agar bisa duduk dengan leluasa, sejujurnya Patricia tidak terlalu berat namun berada terlalu dekat dengannya, sekali lagi ini tidak semestinya.


"Jahat sekali~" Lagi-lagi nada manja Patricia terdengar kembali, dengan alasan apakah dia menjadi nyaman berada di dekatnya seperti itu tidak diketahuinya, namun Danny sadar jika ada yang bisa menyenangkan temannya itu maka ia akan membiarkan dia seperti ini sebentar, meskipun rasa gugup tetap ada padanya.


Danny merenung kembali, beruntung ia memiliki teman yang pengertian seperti Patricia, ia yang lebih mementingkan perasannya sendiri sebagai pria agaknya terlalu berlebihan, dan yang harusnya Patricia sebagai wanita yang mementingkan perasaan malah mengenyampingkan itu dan memilih untuk mendengarkan dan menilainya dengan sisi kenyataan yang ada.


Perbedaan yang terbalik, Danny menyadari hal ini maka dari itu ia bertekad untuk melepaskan masa lalu yang mengikatnya itu, sedikit demi sedikit tak apa dan itu lebih baik dibanding dengan tidak sama sekali.


Setelah beberapa saat Patricia bersandar di dada temannya itu, ia merasa puas, ia bangkit duduk kembali dan melihat ke depan pemandangan yang indah itu.


Patricia ingin mengucapkan terima kasih karena Danny telah membiarkannya dekat dengannya untuk beberapa saat, tidak ada niatan lebih darinya selain memang ia merasakan kenyamanan ketika sedang berada di dekatnya.


Membiarkannya sementara berada sedekat itu sudah merupakan kebahagiaan baginya, bahkan kebahagiaan yang dirasanya ini lebih besar dibanding dengan kesedihan penyalahan tanpa sebab yang juga dilakukan oleh temannya itu, gadis itu merasakan hal ini sekarang.


Entah mengapa kenyamanan yang ada di dalam hatinya terus tumbuh pada pria yang ada di sebelahnya itu, perasaan yang tiba-tiba seperti ini diiringi dengan keinginan jelas, seperti yang tadi dimintanya ketika ia ingin bersandar sebentar padanya.


Senyuman kecil manis tergurat di wajah gadis itu, ia tidak malu lagi pada seorang yang ia kagumi di sebelahnya itu, melainkan merasa telah memberikan apa yang bisa diberikannya, dan itu membuat kegugupannya menurun dengan cukup drastis dan bisa menghadapi seorang yang berharga baginya.


"Mengapa tiba-tiba seperti itu Patricia?" Danny sendiri ingin tahu mengapa Patricia tiba-tiba mendekatinya dan bersandar padanya, bukankah hal itu harusnya ia lakukan pada orang yang berharga baginya?


Patricia yang masih tersenyum kecil menatap wajah Danny dengan cepat. "Ada deh!"

__ADS_1


Setelah mengatakan kalimat singkat itu Patricia kembali mengarahkan pandangannya pada suasana pantai yang indah karena jika lebih lama dilihat olehnya wajah seorang yang berharga baginya, bisa-bisa ia kehilangan kontrol lagi dan akhirnya merasa gugup.


Danny keheranan dengan sikap temannya yang tidak terasa biasa itu, namun terlepas dari perbuatannya yang mengherankan itu, Danny senang Patricia bisa mengerti akan penjelasannya dan tidak lagi tersinggung karena sebelumnya ia menyemburkan amarah liarnya itu.


__ADS_2