Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 464: Usaha Tidak Sia-Sia


__ADS_3

SHHHHH!


Hempasan angin kencang masih berlangsung, menyapu sekitaran area sekitar pusat kota Kerajaan Timur ini.


Kekuatan sihir angin yang begitu hebat yang tidak disangka bisa dikeluarkan oleh gadis kecil seperti ini.


Meski kekuatan yang digunakan oleh gadis ini sebagian besar bukanlah kekuatan aslinya, namun bisa mengendalikannya saja itu suatu hal yang hebat.


Tidak mudah untuk mengendalikan kekuatan dari luar, yang di mana apapun bisa terjadi, tidak sepenuhnya aman untuk dilakukan.


Bisa saja kekuatan dari luar itu tidak stabil dan bukannya membantu situasi malah sebaliknya, membahayakan nyawa orang yang menerima kekuatan itu.


Itulah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi ketika seorang menerima kekuatan dari luar. Yang di mana cara seperti ini jarang dilakukan oleh para pengguna sihir, mengingat risiko yang bisa terjadi.


Untuk apa melakukan cara yang tidak pasti seperti ini? Seperti pedang bermata dua yang tidak hanya menguntungkan, namun juga membahayakan.


Risiko terendah yang bisa terjadi adalah keegagalan mengenadalikan kekuatan itu dan pada akhirnya tidak akan bisa berkontribusi apa-apa.


Lain halnya dengan gadis ini yang bisa menggunakan sihir miliknya dan juga kekuatan luar yang ada padanya. Membuat satu jenis serangan campuran dengan kekuatan yang tidak biasa.


“... Kita... kalah kak.” Gill terbaring menatap lemah kakaknya yang juga dalam kondisi yang sama.


Matanya membesar dan biru, babak belur, yang membuat ekspresi pria besar agak kehitaman ini sulit dikenali.


Jack juga terluka, namun tidak separah adiknya, mengingat ia punya teknik bertahan tersendiri, berbeda dengan adiknya yang suka rusuh.


Meskipun lukanya tidak terlalu parah, namun tetap saja ia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri. Terkadang tidak hanya luka luar yang bisa menyebabkan kondisi seseorang jadi lemah.


Inilah akibat dari pertarungan tadi yang sudah menguras energi mereka sampai akhirnya jadi seperti ini.


Dengan hempasan angin yang begitu kencang dan kuat ini, bukankah seharusnya bisa menerbangkan mereka bersama dengan puing-puing besar yang ada?


Tidak secepat itu, tanpa kita sadari sebelumnya tubuh Jack dan Gill diselimuti oleh kekuatan pertahanan merah yang besar, yang membuat mereka tidak beranjak sedikitpun.


Tidak peduli seberapa kencang, kuat, besar, angin yang tercipta sekarang, tetap tidak bisa membuat pertahanan merah yang ada pada mereka melemah.


Apakah itu kekuatan kedua pria ini yang digunakan tepat saat serangan besar ini terjadi? Sayangnya bukan, karena kita tahu Jack dan Gill sudah kehabisan tenaganya.


Kekuatan pertahanan merah itu berasal dari gadis yang mengeluarkan serangan ini.


Patricia tidak hanya melancarkan serangannya saja, namun juga memikirkan apa yang bisa terjadi pada orang di sekitarnya, untuk itulah ia melakukan hal ini.

__ADS_1


“Kita malah ditolong.” Gill menatap kakaknya, nada suaranya terdengar berat dan tidak ada nada kebanggaan yang biasa terdengar darinya.


Harga dirinya menurun drastis, mengingat ia dan kakaknya tadi berniat menolong gadis itu, dan yang terjadi malah sebaliknya.


“Apa setengah... elf itu kebal... terhadap apapun?” Gill terdengar penasaran, ia tidak berhasil mengakhiri pertarungan hanya dengan satu serangan tadi, padahal serangannya itu seharusnya bisa merepotkan lawannya lebih lama lagi.


Jack terdiam sejenak. Ia menatap ke langit, terlihat tenang dan menerima apa adanya. “Itu lebih... dari cukup.” Begitulah komentarnya.


Pada kenyataannya Jack tidak bisa mengikuti jejak adiknya yang berhasil melancarkan serangan separah itu pada musuhnya, meski pada akhirnya kembali pulih dengan cepat juga.


Semenjak gadis bergaun hijau itus serius, di situlah terlihat jelas perbedaaan kekuatan mereka, yang kedatangan mereka kemari pun bisa dibilang hanya untuk dikalahkan sang setengah elf ini.


Segala usaha yang mereka lakukan dan rencana mereka untuk bertemu dengan seorang yang sudah menolong mereka dahulu sudah berantakan, dan tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan sekarang.


Jack tahu, ada saatnya ketika seberapa banyaknya persiapan dan usaha yang dilakukan, namun tetap tidak bisa menjamin hasil sesuai dengan apa yang diharapkan.


Hal itu berlaku untuk sekarang. Yang di mana seberapa banyak persiapan dan rencana yang mereka lakukan, namun tetap saja musuhnya itu sudah terlampau kuat dan bisa mengatasi usaha dan rencana apapun yang mereka lakukan.


Jack melihat ada sisi positif, yang di mana ia dan adiknya tidak perlu menghabiskan waktu untuk sesuatu yang mustahil seperti ini.


Dan beruntungnya mereka sekarang yang tidak dibiarkan dalam keadaan seperti ini. Mereka berdua tidak menyangka malah akan dilindungi oleh gadis berambut panjang rekan seorang yang mereka cari itu.


Tidak menyangka juga gadis itu begitu terampil menggunakan sihir dengan kekuatan yang hebat seperti ini, bisa dibilang level kekuatannya ini di atas rata-rata orang yang menguasai sihir, memang mengesankan.


Tapi apakah serangan itu cukup kuat untuk mengatasi musuh yang punya kekuatan yang sulit dijabarkan seperti itu?


Jika dipikir dengan logika sehat maka tidak mungkin serangan seperti ini bisa mengatasi sang setengah elf itu, tidak peduli betapa besar serangan yang dilancarkan, dengan satu atau dua cara pasti bisa dihentikan oleh gadis bergaun hijau itu.


Berkaca dari pertarungan yang sebelumnya tentunya, jadi Jack dan Gill pun tidak berharap banyak akan serangan gadis rambut panjang ini, namun ada rasa lega yang mereka rasakan setelah tahu ternyata pertarungan tidak berhenti ketika mereka sudah tumbang.


“?” Berselang dengan itu, kekuatan sihir angin gadis ini mulai mereda, yang pada akhirnya membuat situasi berangsur-angsur jadi seperti semula.


Jack merasa ada yang berbeda di sini, sesuatu yang tidak ia pikirkan sebelumnya.


“Apa ... yang ... terjadi?” Gill mengungkapkan pertanyaannya sekaligus keheranannya di sini, mengingat ia juga merasa ada yang aneh.


“Kenapa... dia...?” Jack tidak bisa menahan rasa penasarannya, tubuhnya bergetar, tidak cukup hanya berbaring dan merasakan hawa keberadaan sang setengah elf itu, ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri.


Mereka berdua sama sekali tidak bisa merasakan hawa keberadaan musuhnya.


*

__ADS_1


“Uh.” Sementara itu di waktu yang sama, terlihat pria berambut sebahu sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Takut dengan keberadaannya yang tidak bisa bergerak.


“Vin.” Tiba-tiba terdengar suara pria berat di dekatnya yang sedang berdiri. Pria berambut sebahu itu tidak mengubris apa yang ia dengar.


“....”


“Hei Vin.” Suara pria berat itu kembali terdengar, kini dengan nada yang dalam dan lebih keras dari sebelumnya.


“VINCENT!”


“HWAH!” Vincent langsung melepaskan tangan dari wajahnya, kaget dengan nada keras yang familiar ini.


“BROCK?! KENAPA KAU MENGAGETKANKU?!” Vincent protes dengan temannya yang malah berteriak tanpa alasan yang jelas. Padahal jarak antar mereka tidak begitu jauh.


“KAU SENDIRI YANG TIDAK SADAR AKU PANGGIL.” Brock naik pitam, tidak terima ia yang malah disalahkan di sini.


“Kau memanggilku?” tanya Vincent heran, ia baru sadar sekarang.


“Namaku bukan Vin, tapi Vincent.” Ia mengangkat jari telunjuknya ke atas, ia serius memberi tahu hal ini pada temannya sendiri... yang sudah lama bersama dengannya.


“....”


“Baiklah, stop. Lihat di sekelilingmu.” Brock terlihat menggunakan seluruh kemampuannya untuk menahan dirinya agar tidak murka di sini.


Vincent langsung menuruti apa yang dikatakan rekan besarnya itu. “Oh. Sejak kapan?”


Ia bisa melihat sekujur tubuhnya dan juga rekannya terselimuti oleh sesuatu yang berwarna merah.


“Tepat ketika ledakan terjadi. Sihir perlindungan, kita selamat,” jelas Brock, ia sadar akan hal ini dari awal tadi.


Perlahan namun pasti tubuh kedua orang ini, yang tadinya berat mulai terasa normal kembali.


Vincent mengamati apa yang telah terjadi di depan, dan dari hasil pengamatannya ini, ia menemukan sesuatu yang mengejutkan.


“Brock inilah saatnya.” Vincent melihat ke depan dengan tatapan yang penuh harapan.


“Kau benar.” Brock paham dengan apa yang dikatakan rekannya, yang tidak biasanya begitu. Kini perlahan namun pasti mereka melangkahkan kaki ke tempat pertarungan Danny sebelumnya.


Tak berapa lama kemudian Vincent dan Brock sampai ke lokasi yang dimaksud, mereka menemukan dua orang pria besar yang telah menyelamatkan mereka terbaring dengan luka yang berarti dan rekan mereka, Patricia yang masih berlutut di sana.


“Patricia!” Dengan cekatan Vincent bergerak lebih cepat ketika melihat Patricia yang jatuh ke perlahan ke depan.

__ADS_1


Greb.


__ADS_2