Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 214: Berjalannya Rencana


__ADS_3

"Ahaha ... begitukah? Terima kasih atas pujianmu ...."


"Tapi ini adalah pertemuan terakhirku denganmu Yizi ... setelah ini aku tidak yakin bisa bertemu lagi denganmu ...."


"Aku tahu Kibo, kau telah berusaha sedemikian kerasnya demi kelompok kita ini ...."


"Aku meminta satu hal padamu ... jangan pernah menyalahkan dirimu karena sesuatu hal yang telah terjadi ... tetaplah menjadi dirimu sampai akhir ...."


Kibo tersenyum mendengar sahabatnya yang berkata bijak itu, rasa-rasanya ia tidak pernah berkata bijak seperti itu sebelumnya.


"Oh, dan lagi Kibo ... mungkin saja ada beberapa hal lagi yang harus kau urus ... pastikan lakukan yang terbaik ya!"


"A-apa?"


Sekelebat cahaya terang tiba-tiba muncul setelah Yizi mengatakan hal terakhirnya itu, Kibo hanya bisa melihat bahwa cahaya putih menyilaukan itu sedang menelannya saat ini.


***


"Tuan Kibo!"


"Tuan! Apakah Tuan baik-baik saja?"


"Uuh ...."

__ADS_1


Kibo menyadari dirinya sudah berada di di lantai saat ini, ia tidak menyadari dirinya telah terjatuh dan nampaknya kesadaran yang hilang telah kembali berkumpul pada dirinya itu.


Ia berusaha untuk bangkit, dibantu oleh teman-temannya yang lain, mereka telah menangani luka luar dari tuannya itu.


A-aku kembali sadar ....


Tadi aku bermimpi cukup aneh ....


Rasa-rasanya aku bertemu dengan Yizi kembali ... dan dia menyuruhku agar melakukan yang terbaik ....


Itu ... pasti akan kulakukan saat ini ....


Kibo telah bisa berdiri dengan kuat saat ini, tubuhnya seakan mati rasa semua, namun ia merasa bahwa semuanya baik-baik saja setidaknya karena dirinya itu masih bernafas.


"Tuan Kibo, kami tidak bisa melepaskan borgol pada kedua tangan dan kaki Tuan, sudah kami coba namun masing-masing dari kami sama sekali tidak bisa membukanya dengan tangan kami ...."


Kibo tidak masalah jika dirinya harus menjadi yang terakhir demi lepasnya ikatan borgol itu, ia lebih mementingkan keselamatan para anggotanya daripada keselamatannya sendiri.


"A-apakah Tuan Kibo masih mampu untuk mengeluarkan sihir?"


"Ah ... kurasa ak-"


Belum selesai Kibo berbicara, mereka harus dikagetkan dengan pintu masuk sel yang sepertinya tengah dibuka dari luar.

__ADS_1


Kejadian ini membuat para pria besar di sana lebih waspada akan apa yang akan terjadi dengan begitu dibukanya pintu sel itu.


Seperti biasa suara khas pintu sel yang terbuka, membuat siapapun yang mendengarkannya merasa ngilu karens suara besi bergesek itu.


Dan terlihat sosok yang membuka pintu itu, dia memakai jubah merah yang menutupi badannya dan topeng iblis merah, penampilannya sedikit mengerikan bagi orang yang baru pertama kali melihatnya.


"Si-siapa kau?!"


Para pria besar itu bersiaga dan berjaga-jaga jikalau pria berjubah merah itu dengan tiba-tiba melancarkan serangan pada mereka.


"A-apa? Kalian belum selesai melepaskan diri?"


Pria asing itu kemudian membuka topengnya agar setiap orang di ruangan ini bisa melihat identitasnya yang sebenarnya.


"Tu-tuan Thor ...."


Thor melihat kondisi Kibo yang lemah dan terlihat tersiksa, ia sendiri bisa mengetahui bahwa pasti pria keriting itu sudah menggunakan sihir dalam batas maksimalnya.


"Kibo ... kau sudah melakukan yang terbaik ...."


Thor mendekati pria keriting yang terlihat kelelahan itu, nafasnya tersengal-sengal seperti orang yang kesusahan untuk menghirup oksigen di sekitarnya.


Thor memegang borgol pada tangan dan kaki Kibo dan seketika itu juga hancurlah borgol yang mengikatnya itu.

__ADS_1


"Tu-tuan Thor?" Kibo yang terlihat dalam kondisi yang kurang bagus itu memaksakan untuk menyapa Thor.


"Kerja bagus, mari kita pergi dari sini bersama ...."


__ADS_2