Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 257: Salah Sangka


__ADS_3

"Brock! Kita akan membawa Danny kemana!?"


Terlihat Brock sedang memangku Danny dan Vincent sedang berlari di antara pepohonan hutan itu.


"Kita sudah bersembunyi cukup lama Vincent! Kita akan kembali ke tempat bekas penjara di mana ada banyak orang di sana!"


"Mengapa kita ke sana lagi Brock!?"


"Di sanalah tempat terbaik karena banyak orang yang bisa membantu kita! Berkumpul bersama-sama lebih baik dibanding hanya kita berdua!"


"Oh begitukah!? Baiklah aku setuju denganmu Brock! Tapi mengapa cuaca cerah tadi malah berubah sekejap menjadi hujan deras seperti ini!?"


Vincent yang tengah berlari itu merasa ada yang aneh dengan perubahan cuaca yang tidak wajar seperti ini, ia merasa agak kesal karena dengan cuaca seperti ini membuatnya sulit untuk berlari dengan cepat.


"Hah!? Mana aku tahu Vincent!? Jangan tanyakan pada aku yang tidak tahu alam! Tanyakan saja pada yang ahlinya?"


"Apa!? Kau pikir kita sedang berada di mana!? Mana ada seorang ahli cuaca di tempat seperti ini!?" Vincent menyelanya dengan cepat.


"Kalau begitu jangan tanyakan aku tentang hal itu! Kau tahu aku pasti tidak tahu kan!?"


"Brock!? Mengapa kau kesal seperti itu!? Apa yang membuatmu sampai naik darah!?"


"Diam Vincent! Sebentar lagi kita akan sampai di tempat tujuan kita, ke tempat bekas bangunan penjara itu!"


"He-hei Brock, apa kau mendengar sesuatu yang berbunyi?" Vincent merasa mendengar sesuatu seperti alat musik yang sedang dimainkan ketika mereka sedang berlari ke arah tempat bekas bangunan penjara sekaligus tempat pertarungan Danny dan Yizi melawan Arthur itu.

__ADS_1


"Hm, apakah hanya perasaanku saja?" Vincent pikir mungkin ia sedikit berhalusinasi mendengar sesuatu karena hujan deras ini membuatnya agak mengantuk.


Brock mendengar apa yang dikatakan Vincent, untuk kali ini ia tidak berdebat dengannya. "Kau benar Vincent, aku pun mendengar sesuatu bunyi-bunyian alat musik yang terdengar dari arah bekas bangunan penjara itu."


"Huh? Benarkah? Kalau begitu kita harus cepat-cepat menuju ke sana, aku penasaran apakah ada orang yang sedang memainkan alat musik di sana? Untuk apa dia melakukan hal itu coba!?" Vincent menambah nada tinggi di ucapan kalimat terakhirnya; ia merasa aneh dengan seseorang yang memainkan alat musik di tengah cuaca seperti ini, terasa mencurigakan.


Brock dan Vincent akhirnya sampai di tempat awal mereka; mereka berdua melihat seorang gadis yang tengah terduduk di tanah sedang memainkan sebuah alat musik yang ia tiup.


Vincent tidak tahu siapa gadis muda yang nampak tengah bersedih ini, ia berpikir mungkin saja dia adalah salah seorang dari bekas tahanan oleh kelompok Dark Shadow, layaknya dirinya, Brock, dan Danny.


"Brock, apa kau mengenali gadis muda itu?"


Brock kemudian memperhatikan gadis yang seperti tengah menangis itu, ia tidak punya gambaran apapun mengenai dia; ia baru pertama kali melihatnya juga.


"Tidak, aku tidak tahu siapa dia, dan pula alasan mengapa ia terduduk sedih di sana."


"HAH!? Berakting!? Kau pikir ini adalah panggung drama!?" Brock lagi-lagi tersulut emosi ketika mendengar perkataan Vincent yang tidak masuk akal itu.


"Yah! Aku hanya mengutarakan pendapatku saja! Kau tidak sampai perlu marah begitu kan!?"


Gadis muda itu kemudian menyadari bahwa ia tidak sendirian di sana, ia melihat ke seberang di depannya ia melihat dua orang pria-tidak tiga orang pria; hanya saja pria yang satunya di gotong oleh pria yang bertubuh besar.


"Ah! Dia menyadari kehadiran kita Brock! Di-dia bukan musuh atau apapun kan? Bisa jadi ada musuh yang menyamar dan menjadi gadis cantik seperti dia!?"


Pandangan Vincent berubah-ubah soal kemunculan gadis muda di tengah derasnya hujan ini, mulanya dari ia mengira dia adalah bekas tahanan sepertinya, kemudian ia berpikir gadis itu tengah berakting, dan terakhir ia menduga gadis itu adalah seorang musuh; sungguh jalan pemikiran yang benar-benar luas sekali.

__ADS_1


Brock memerhatikan gadis itu, dia memang menyadari kehadirannya dan Vincent, namun gadis itu belum mengetahui siapa yang tengah ia gotong saat ini.


"Mari kita dekati dia Vincent." ajak Brock, ia berjalan mendekati gadis muda itu.


"Tu-tunggu Brock! K-kau tidak curiga pada gadis asing yang sendirian ini!? Bisa saja ada musuh hendak menjebak kita, he-hei!" Vincent memikirkan hal yang tidak dipikirkan orang lain, kewaspadaannya saat ini meningkat dengan tajam, namun sayangnya kewaspadaan dan kecurigaannya tidak berpengaruh apapun pada temannya itu.


Brock sendiri mengabaikan sikap Vincent yang terlalu curiga pada gadis yang terlihat putus asa dalam kesedihannya itu.


Vincent mengikuti jejak Brock pelan di belakangnya, dengan kewaspadaan yang masih kuat dari dirinya itu. "Te-tenang saja Brock! Jika sesuatu terjadi padamu, aku ada dibelakangmu untuk memberimu pertolongan!"


Gadis itu kemudian menghentikan permainan musiknya itu, karena ia tahu rasanya alam sudah mengerti bagaimana perasaannya saat ini; ia rasa sudah cukup ia berbagi rasa kesedihannya pada alam saat ini.


Tak lama kemudian Brock sampai di dekat gadis muda itu, terlihat jelas kesedihan yang nampak dari mata biru cerah gadis muda itu; siapapun yang melihatnya saat ini seketika itu juga langsung bisa mengetahui bahwa gadis ini sedang berada di kesedihan yang dalam.


Brock tidak berpikir akan diam saja melihat gadis itu sendirian di sini, ia penasaran mengapa dia hanya sendirian dan tidak bersama dengan orang-orang bekas tahanan kelompok Dark Shadow.


"Mengapa kau duduk di sini sendirian?" Brock berusaha untuk berkomunikasi dengan gadis muda itu; alasan mengapa ia terduduk sendirian di tengah hujan deras seperti ini.


Karena kesedihannya, gadis muda itu tidak begitu peka lagi akan keadaan sekitarnya, meskipun ia tahu bahwa ada orang lain di sini, ia lebih peduli tentang perasaannya yang sedih itu dan kesedihannya yang lebih berlarut lagi.


"Da-Danny ... mengapa kau meninggalkanku?" gumam gadis muda itu dalam keterpurukannya saat ini, perlahan dalam duduknya itu ia menundukkan kepalanya menyembunyikannya di antara kedua kakinya saat ini.


Ia masih tenggelam dalam kesedihan yang dirasakannya saat ini; kehilangan arah dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, apakah ia harus berhenti di sini dan berhenti menjalani hidup yang diinginkannya? Ia sama sekali tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa di saat kejadian yang tidak pernah ia pikirkan terjadi saat ini.


Curah hujan masih deras membasahi mereka saat ini, meskipun gadis muda itu berhenti bermain seruling, namun alam masih menunjukkan kesedihannya sama seperti gadis muda itu saat ini.

__ADS_1


Brock menyadari sesuatu, meskipun hanya ucapan bernada kecil, telinganya yang cukup tajam itu bisa mendengar ucapan gadis muda itu dengan cukup jelas meskipun suara gadis itu harus bercampur dengan derasnya suara hujan saat ini.


"Ka-kau bilang ... Danny?"


__ADS_2