Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 446: Wajah Lama


__ADS_3

ACT 446


SRRRR....


“!” Pria berkulit putih itu terkejut karena ia kini mengenakan jubah api yang melindunginya dari serangan iblis tadi.


Dan ia bisa melihat juga pedangnya kini dilingkupi oleh api yang besar, tidak merusaknya, namun menguatkannya sampai ke tahap selanjutnya.


‘Ini sihir pria berambut panjang itu... seharusnya tanpa ini pun aku masih bisa mengatasinya sendiri.’ Pria berkulit putih itu tak merasa butuh bantuan, namun bukannya ia menolak juga jika ia mendapat sih.


Lagipula memang faktanya ia terdesak dan tidak terpikir lagi selain menerima serangan musuh mentah-mentah.


Tidak hanya pria berkulit putih saja, namun juga semua roang di tempat yang sama menerima sihir yang sama, jubah api yang begitu kuat yang kini memang sudah rusak karena serangan sihir gelap musuhnya tadi.


“Kak!”


Pria berkulit hitam itu mendengar suara dari pria berkulit hitam, seolah menyadarkannya akan sesuatu.


“Kalau begitu ini dia!” Pria berkulit putih itu meng-eratkan pegangan pada pedangnya dan mempusatkan kekuatan fisik dan sihirnya dengan kuat.


“Manusia?!” Makhluk besar itu tidak menyangka serangannya mampu diatasi seperti ini, padahal ia sudah menggunakan kekuatan energi gelap sampai menghancurkan sebagian besar area pusat kota Kerajaan Timur ini.


Namun mengapa malah tidak ada satupun yang terkena dampaknya? Melihat ini membuat Makhluk besar ini frustasi, dan juga kini pertahanannya sudah terbuka lebar untuk musuh.


Alasan menggunakan zirah hitam tentunya sudah dapat terlihat di sini, yakni untuk melindungi tubuhnya dan membuatnya bisa terus fokus menyerang.


Namun kini pertahanannya sudah hancur dan serangan terbesar yang ia lakukan tidak melenyapkan musuhnya sama sekali.


Jleb!


“HAAAH!” Pria berkulit putih maju dan berhasil menusuk bagian mulut dari makhluk besar itu, tidak ada lagi aura kekuatan merah pelindung yang sebelumnya ada, bisa dipastikan karena makhluk besar ini mengerahkan seluruh tenaganya dan sampai-sampai membuat pertahanannya sendiri mengendur dengan hebat.


“ARRGHHH!”


Blugh!

__ADS_1


Pada akhirnya pedang pria berkulit putih itu menancap dengan tepat pada mulut makhluk besar itu dan di saat itu juga setelah erangan yang memekakan telinga, makhluk besar itu pun tumbang.


Hup!


Pria berkulit putih itu mendarat di antara reruntuhan bangunan, ia tidak merasa musuhnya bisa bangkit kembali, meski kemungkinannya ada, namun sangat kecil adanya.


Pria berkulit agak hitam itu kini berada di sampingnya. “Kekuatan iblis ini jauh dibawah yang pernah kita lawan sebelumnya kak.”


Pria berkulit putih tidak mengatakan apapun dan menatap makhluk besar ini perlahan menghitam dan berubah jadi abu.


Eksistensi murni energi kegelapan dari makhluk itu sudah benar-benar menghilang, dan kini tidak perlu khawatir akan apa yang dipikirkan pertama kali tadi.


“Lagipula apa yang sekarang ada pada kita?” Pria berkulit hitam itu heran akan keberadaan jubah berwujud api yang tiba-tiba muncul padanya.


“Mari kita ke sana,” ajak pria berkulit putih, mereka berjalan pelan mendekat pada kedua pria yang sedang bersama satu sama lain.


*


“Vincent! Hei kau tak apa?” Brock melihat Vincent yang terduduk dan terlihat tidak kuat menahan berat tubuhnya sendiri, seolah ia sedang kepayahan untuk tetap sadar di tengah rasa kantuk yang hebat.


“Kenapa Vincent?!” Brock sudah tahu akan alasan mengapa Vincent bisa seperti ini. Apalagi kalau bukan jubah berbentuk api yang sekarang dikenakannya ini.


Secara sederhananya Vincent mengeluarkan sihirnya, namun tidak hanya untuk dirinya saja, melainkan untuk orang lain juga.


“Kau tidak perlu melakukan ini.” Brock begitu khawatir dengan keadaan pria berambut sebahu ini. Namun ia tidak bisa melakukan apapun untuk membuat rekannya ini lebih baik, karena sihir pemulihan tidak dikuasainya.


Namun jika keinginan Brock seperti itu maka apakah ia bisa bertahan dari serangan besar energi gelap sebelumnya tanpa jubah api ini?


Brock terdiam memikirkan ini, ia tahu keadaan pertahanannya sekarang tidaklah begitu baik, jika saja menerima serangan kejutan skala besar seperti itu, tentu saja kondisinya tidak akan baik-baik saja seperti ini.


Namun meskipun begitu, ia tetap tidak mengerti mengapa Vincent sebegitu gegabahnya dengan menggunakan sihir kuat seperti ini selain untuk dirinya sendiri?


Menggunakan sihir kuat untuk diri sendiri sebagai pertahanan bukanlah hal yang terlalu berat, terutama jika si pengguna sudah menguasainya. Namun lain hal dengan menggunakan sihir bagi orang lain.


Dibutuhkan lebih dari sekedar kekuatan yang besar, konsentrasi tinggi, dan yang paling terutama adalah siap menghadapi risikonya.

__ADS_1


Keadaan Vincent sekarang adalah akibat dari apa yang telah dilakukannya dan kini tubuhnya lemas, selemas-lemasnya.


Tap.


‘Kalian?” Brock tersadar kini kedua pria asing yang muncul tiba-tiba ini kini menatapnya dengan tatapan yang bersahabat.


“Jubah itu?” Brock melihat dua orang asing itu juga memakai jubah berwujud api yang sama dengannya.


Vincent tidak hanya memikirkan rekannya yang sekarang, namun juga bahkan orang asing yang tak dikenal pun ia rela menggunakan sihir perlindungan yang setara. Baru kali ini Brock melihat sikap serius tingkat lanjut dari makhluk hidup bernama Vincent ini.


“Temanmu itu baik?” tanya pria dengan kulit agak hitam, raut wajahnya seolah penasaran dan sama sekali tidak khawatir dengan keadaan seorang yang sedang dilihatnya itu.


Mendengar pertanyaan itu tidak membuat Brock langsung bisa menjawabnya, ia terdiam sejenak dan hanya mengamati kekuatan sihir dari rekannya saja.


“Temanmu itu memberikan perlindungan sihirnya pada kami. Padahal itu tidak perlu,” ujar pria berkulit putih.


“Tapi sudah terlambat juga....” tambah pria berkulit agak hitam.


Brock merasakan kekuatan yang terpancar dari mereka memang kuat dan sedikit aneh, maka wajar saja jika mereka malah berkata ‘tidak butuh’ akan pertolongan yang dilakukan oleh rekannya ini.


Padahal mereka bisa saja mengucapkan ‘terima kasih’ meski tahu apa yang mereka terima itu tidak begitu diharapkannya. Namun pada akhirnya Brock tidak mungkin bisa mengatur pikiran orang lain.


“KALIAN TIDAK BUTUH?!” Vincent seketika itu sadar dan terperanjat dan pada akhirnya jubah api yang ada padanya dan rekannya menghilang perlahan.


Entah mengapa ia bisa sadar lagi dengan cepat, padahal jelas-jelas aura kekuatannya menurun drastis akibat penggunaan sihir yang besar tadi..


“Ah dia baik-baik saja kak.” Pria berkulit agak hitam seolah tahu pria berambut panjang ini akan segera sadar lagi.


“KAU MENGAGETKANKU SAJA!”


BUAG!


“Brock, tinjuanmu bisa membuatku pingsan lebih lama daripada mengeluarkan sihir. Tapi abaikan itu, aku akan bertanya satu kali, siapa kalian?” Vincent dengan seketika itu juga memasang sorot mata tajam, ia ingin tahu identitas dari kedua orang yang tiba-tiba datang ke tempat ini.


“Baiklah aku akan menjawab satu kali juga, aku Jack dan ini adikku Gill,’ jawab pria berkulit putih cepat, dan lagi dengan mimik wajah yang seperti tadi, bersahabat.

__ADS_1


__ADS_2