Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 88: Bertemu Kembali


__ADS_3

Vincent tertunduk, "Yah, bagaimana mengatakannya ya ... bisa dibilang aku suka berkompetisi, meskipun kau lihat statistikku sangat jelek tapi selama aku bisa menikmatinya, aku akan berusaha semaksimal mungkin apapun hasilnya nanti, dan seperti yang kau tahu, mungkin saja aku tidak berbakat dalam pertarungan haha ...."


Vincent tertawa untuk menutupi segala kenyataan bahwa kekalahannya itu adalah kelemahannya, layaknya ia mengubah persepsi kekalahan menjadi sebuah semangat yang tidak memandang apapun bahkan sebuah kekalahan, dan lebih memilih mempusatkan fikiran dan menikmati setiap hal yang telah ia kerjakan dengan keras, termasuk dalam banyaknya pertarungan yang ia lakukan.


Danny ikut tersenyum, ia berpendapat sama dengan apa yang dikatakan oleh Vincent, atau mungkin saja bisa dibilang Danny kagum dengan sosok Vincent. Mengapa? Karena dirinya selalu bisa melihat suatu hal yang berbeda dibanding dengan apa yang dilihat orang lain.


Tidak heran Vincent adalah seseorang yang terkadang sulit di tebak, sikapnya yang spontan membuatnya memancarkan sinar pada orang di sekelilingnya.


***


Dalam beberapa hari ke depan Danny akhirnya bisa lebih beradaptasi dengan kehidupan barunya itu, bahkan bisa di bilang ia sudah mulai lumayan dekat dengan Brock dan Vincent.


Kompetisi benar-benar sebuah acara yang nampaknya tanpa henti, dibalik persaingan yang ada, ini sepertinya memang untuk menemukan petarung terhebat dalam kelompok Dark Shadow tersebut.


Sampai saat ini memang kelompok ini tengah mencarinya, namun tidak di sadari oleh satupun dari antara para petarung itu.


***


"Danny makan yang banyak, besok malam adalah pertandingan keduamu, kau harus mempersiapkan diri lebih lagi," ujat Vincent sembari memberikan ikan asin untuk di makan Danny.

__ADS_1


"Hah? Vincent aku baik-baik saja, nanti kamu malah tidak kenyang lho memberikan makanan bagiku."


"Ah, sudahlah lagipula aku tidak banyak makan, makan saja hehe ...."


Malam terakhir persiapan mereka, makan malam berlangsung dengan tertib, di sini terlihat bahwa para petarung sudah mempersiapkan diri untuk pertandingan esok hari


Setelah selesai makan, seperti biasa mereka harus mencuci alat makan masing-masing, lalu beristirahat sejenak, Danny memutuskan untuk pergi ke dapur yang dimana biasanya tidak ada seorang pun di sana.


"Patricia?"


Perempuan berambut panjang yang diikat oleh ikat rambut berwarna merah itu menoleh padanya.


"Kau Patricia kan?"


"Kau sendiri Danny?"


Keduanya entah mengapa saling tidak percaya akan apa yang mereka lihat, ini adalah pertemuan tidak terduga bagi mereka selama dua minggu lebih mereka tidak bertemu.


"Bagaimana kondisimu Patricia?"

__ADS_1


"Oh, aku? Aku baik-baik saja, aku tinggal di area gedung sebelah yang khusus para perempuan dan anak-anak, dan di area sampingnya lagi ada fasilitas kesehatan dan bangunan tempat tinggal orang lanjut usia ...."


"Begitukah, sepertinya memang area ini cukup luas ya?" Patricia mengangguk mengiyakan.


"Lantas mengapa hanya kamu sendiri yang berada di sini?"


"Oh, aku tengah merapikan perabotan, para perempuan lain sudah pergi ke ruangan khusus mereka di gedung sebelah."


"Oh iya, ngomong-ngomong kebutuhan makan kalian kami yang urus lho, bahan pokok, menu makanan semuanya kami urus."


"Oh, begitukah? Aku baru tahu sekarang ...."


"Memang selama ini yang kamu lihat hanyalah tersedianya makanan di mejamu kan? Nah sekarang kau tahu penyebab makanan itu bisa ada di sana haha," ujar Patricia sambil tertawa.


"Bagaimana kondisi kehidupan di sana dan para manula?"


"Kurasa baik-baik saja sampai saat ini, kuharap memang seperti ini," ujar Patricia sambil tertunduk.


"Bagaimana dengan Arthur?"

__ADS_1


__ADS_2