Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 239: Yang Kuatlah Yang Akan Bertahan


__ADS_3

Yizi yang terbawa panik karena Danny menujukkan tanda-tanda kesakitan itu pada akhirnya berusaha untuk menenangkan Danny.


Ia mendengar bahwa Danny ingin sekali lepas dari rasa sakitnya itu, namun ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membantu anak muda itu.


Di tengah kacaunya situasi ini, Konsentrasi Yizi malah buyar dan aura kemerahan yang muncul dari tubuhnya hilang seketika itu juga.


Dan tidak berselang lama Yizi merasakan sakit yang benar-benar sangat sakit yang tidak pernah ia rasakan selama hidupnya juga, setidaknya sampai ia saat ini merasakan rasa sakit seperti ini.


Mulanya rasanya tidak terlalu sakit, namun dari waktu ke waktu rasa sakitnya akhirnya tidak tertahankan juga.


"ARRRGH!"


Yizi malah saat ini ikut ambruk dan berguling serta meringkuk sama dengan apa yang Danny lakukan saat ini.


Sa-sakit! Konsentrasiku akan kekuatan sihirku sendiri hilang! Aku saat ini tidak bisa meredakan rasa sakit menggunakan sihirku akibat serangan Arthur tadi lagi! Tak kusangka akan begitu sakit rasanya!


Saat ini dua pria ini tengah berteriak-teriak dengan keras akibat rasa sakit yang tengah mereka rasakan itu.


Berguling-guling meringkuk dan berteriak, itulah yang mereka berdua lakukan.


"Berisik sekali ...."


Tanpa bisa diduga siapapun juga Arthur tiba-tiba berada di depan mereka berdua yang sedang kesakitan saat ini.


Danny dan Yizi yang hanya mempedulikan rasa sakit itu sama sekali tidak memerhatikan keadaan sekitarnya kali ini, mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran Arthur saat ini.


Arthur telah kembali berdiri setelah terkena dua kali serangan telak besar Danny, ia bangkit lebih cepat daripada perkiraan siapapun juga.


Saat ini sang ksatria suci merasa heran mengapa dua orang yang telah bertarung dengannya itu berguling-guling di tanah sembari berteriak dengan keras, tipikal orang yang sedang kesakitan.


Aura kuning sihir milik Arthur pun telah hilang, sepertinya energi sihirnya yang telah meredakan dampak serangan yang dilancarkan oleh Danny; dengan kata lain serangan Danny memang mengenainya dengan telak, namun tidak begitu berdampak pada tubuhnya karena ia memakai sihir pelindung untuk melindungi tubuhnya sendiri.


"Kalian memang telah salah memilih lawan, rasa sakit kalian adalah akibat karena kalian tidak mau tunduk pada apa yang akan kulakukan."

__ADS_1


Lagi-lagi Arthur berbicara dengan dingin, tampak tidak ada rasa kasihan pada raut wajahnya yang ada hanyalah rasa seperti menahan kesal.


"Mendengar teriakan kalian membuatku muak, bagaimana kalau aku mengakhiri rasa sakit kalian saat ini juga?"


Tangan Arthur hendak meraih Danny yang tengah kesakitan itu, namun ia menyadari ada hal yang belum ia sadari hingga ia tidak jadi menyentuh anak muda itu.


Arthur kembali ke area luar dengan berjalan kaki. "A-apa ini? "


Arthur melihat tembok tanah berbentuk kotak besar yang menjulang tinggi sampai ke atas, mirip dengan bangunan besar hanya saja terbuat dari tanah dan berbentuk kotak.


Sang Ksatria Suci merasakan energi kehidupan dari balik tembok tanah besar ini, hingga akhirnya timbullah rasa penasaran akan kemunculan tak beralasan tembok besar ini.


"Mengapa orang-orang ini bersembunyi? Aku harus menanyakan langsung pada mereka."


Arthur menyentuh tembok besar tanah itu, lalu ia menggunakan sebuah sihir agar tembok itu bisa ia singkirkan.


"Sihir Tanah: Penghilang Tembok Kotak Besar!"


"Apa ini?!"


Brock yang memakai sihir itu mendapat sinyal bahwa sihir yang sedang ia gunakan ini mendapat perintah akan dihilangkan; tentu saja melihat hal ini ia tidak tinggal diam.


Brock terus menekan tanah dengan kedua tangannya sembari memperkuat energi sihirnya agar tetap kuat demi yang bertujuan agar sihir tembok tanah yang ia gunakan itu tidak diganggu pihak luar.


Si-siapa yang mencoba menghilangkan sihir tembok tanah ini?!


Uukkh, energi sihir yang dikeluarkan dari luar lebih kuat daripada energi sihirku, siapa sebenarnya yang mempunyai kekuatan seperti ini?!


Brock mencoba mempertahankan sihirnya tembok tanahnya meskipun pada akhirnya tembok tanah itu tetap menyusut ke tanah karena besarnya kekuatan lawan yang memaksa untuk menghilangkan sihir ini.


Ti-tidak bisa! Tembok tanah ini akan tetap hilang pada akhirnya!


Brock akhirnya menghentikan usaha sia-sianya itu dan memperingatkan setiap orang yang bersamanya di dalam tembok itu agar tetap waspada apapun yang terjadi karena ia belum tahu siapa yang berusaha untuk menghilangkan pertahanan tembok tanah ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian tembok tanah yang tadinya besar dan tinggi itu sudah menyusut kembali ke tanah dengan tidak menyisakan bekas apapun.


Orang-orang yang ada di dalam tembok pertahanan itu kaget dan tertegun ketika melihat seseorang yang tidak asing lagi bagi mereka, sang ksatria suci Arthur yang tengah menatap mereka secara tajam.


"Ada apa ini? Mengapa kalian bersembunyi? Apakah ada sesuatu yang membahayakan?"


Arthur merasa penasaran mengapa orang-orang memasang mimik muka seperti orang ketakutan ketika melihat dirinya itu.


Tidak ada satu orang pun di antara orang banyak itu mampu membalas pertanyaan Arthur itu, masing-masing dari mereka nampaknya mempunyai alasan yang sama yaitu: Ia bukan Arthur yang mereka tahu sama sekali.


Arthur yang diam saja menunggu jawaban pada akhirnya merasa bosan karena menunggu. "Tidak ada jawaban? Tak apa ... aku hanya ingin mendengar alasan mengapa kalian bersembunyi, namun karena aku tidak mendapatkan jawaban apapun dari kalian, kuanggap tindakan kalian ini hanyalah bermain-main saja."


Arthur tersenyum pada orang banyak itu, bukan senyum manis yang diharapkan orang banyak, namun senyum datar yang dipaksakan dan sama sekali tidak natural- tidak ada emosi apapun dalam senyuman sang ksatria suci itu.


Arthur akhirnya bergegas untuk mendekati kembali kedua orang yang kesakitan tadi, begitu ia kembali menghampiri mereka; keadaan mereka masih sama hanya saja mereka tidak berguling-guling dengan cepat dan berteriak dengan keras lagi, sepertinya keadaannya telah agak membaik namun mereka masih nampak merasakan kesakitan yang sama.


Arthur memegang sebelah kaki Danny dengan tangan kanannya dan sebelah kaki Yizi dengan tangan kanannya, ia menyeret mereka keluar dari wilayah bangunan bekas penjara itu menuju tempat orang banyak tadi.


Brock dan Vincent terkaget ketika melihat Danny yang merintih kesakitan dan tidak mampu berbuat apapun; begitupula dengan para pria besar anggota Alliance Fight's, reaksi mereka tidak jauh berbeda ketika melihat pemimpin mereka diperlukan seperti itu.


Arthur dalam keadaan kotor, mukanya penuh dengan debu bekas pertarungan tadi, tidak lupa pada badan dan kakinya tidak terlalu berbeda dengan keadaan wajahnya.


Arthur melepaskan kedua orang yang masih bergelut dengan rasa sakitnya itu, mereka berdua tidak lagi berteriak secara keras hanya saja rintihan-rintihan pilu masih terdengar dari mereka berdua.


"Danny!" Brock memanggil anak muda itu karena memang ia khawatir padanya, Vincent sendiri ingin ikut berteriak, namun ia tidak mampu melakukannya karena tubuhnya masih lemah akibat terserang serangan tidak sengaja Yizi.


"Tuan Yizi!" Begitupula dengan para pria besar anggota Alliance Fight's, mereka benar-benar khawatir dengan kondisi pemimpin mereka saat ini; pemandangan ini membawa mereka pada tiga tahun lalu di mana pemimpin mereka sebelumnya Kibo harus terbunuh di tangan sang ksatria suci.


"Baiklah! Aku perkenalkan pada kalian, Danny dan Yizi! Mereka adalah penjahat yang menentang hukum!"


Arthur berbicara selayaknya seseorang yang tengah membawa acara, ini seolah-olah terlihat bahwa apa yang dilakukannya itu benar dan memang harus dilakukan.


Namun di mata orang banyak ini tindakan Arthur sama sekali jauh dari kata benar dan baik, mereka malah saat ini ketakutan karena perbuatan Arthur yang kejam itu.

__ADS_1


__ADS_2