Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 535: Dua Pandangan Dua Jalan


__ADS_3

Harapan abu-abu-lah yang diberikannya. Tindakannya ini tidak dimaksukan untuk memberi harapan pada lawannya, melainkan menyadarkannya akan kenyataan yang sesungguhnya.


Tidaklah bijak jika raja sepertinya hanya mengandalkan kekuatan saja dan tidak mempertimbangkan hal lain. Archifer masih bisa menahan kesabarannya untuk tidak cepat-cepat mengakhiri pemuda itu.


Tidak dapat dipungkiri, Archifer pikir tidak ada lagi yang menarik perhatiannya sejak pemusnahan ras ribuan tahun lalu. Ia sudah mengalahkan banyak musuh dengan kekuatan beragam. Setelahnya ia pikir tidak ada yang bisa memuaskannya lagi.


Namun pemuda bernama Danny itu membuktikannya salah. Archifer begitu terhibur dan bahkan dia bisa mengejutkannya berkali-kali. Sayang sekali jika ia tidak melihat batas kemampuan musuhnya ini.


Lebih bagus mana, memberi harapan palsu atau mendengar kenyataan pahit? Sudah kurang baik apalagi ia pada Danny?


"Danny, ini bukan masalahmu." Archifer mencoba melihat ini dari sudut pandang pemuda itu.


Danny terdiam, ia paham akan maksud dari musuhnya itu.


"Masalah nenek moyangku?" terka Danny, dan setelahnya Archifer tidak mengatakan apapun lagi.


Danny tidak bisa menyangkalnya. Memang ia baru sebentar hidup di dunia ini dan harus dikejutkan dengan berbagai macam hal yang terjadi. Dalam waktu singkat ia tahu dunia tidak seindah yang ia pikirkan.


Belum soal masalah pribadi dan sosial yang banyak jenisnya. Terlalyu banyak masalah yang ada di muka bumi ini.


Namun masalah tidak sepenuhnya buruk juga. Terkadang ada hal positif yang bisa diambil dari masalah, dan itu membuat orang lebih maju dan berpikir.


"Masalahku satu, kau." Danny menunjuk ke depan dengan tatapan tajam dan penuh tekad, tidak peduli akan luka berat yang dialaminya.

__ADS_1


Tidak ada yang sepenuhnya benar atau salah, yang ada hanyalah perbedaan pendapat. Danny tahu dipihaknya ia tidak bisa membiarkan iblis merajalela, sementara iblis tahu ini adalah kesempatan terbuka memanfaatkan kesalahan manusia di masa lalu. Memastikan manusia sadar akan kekuatan yang mereka punya.


Entah itu manusia yang terlalu percaya diri atau iblis yang memanfaatkan kesempatan, batas garis abu-abu inilah yang membuat Danny tidak mengerti pikiran Archifer, begitupula sebaliknya.


Katakan saja Danny percaya dan bergabung dengan ras iblis, namun setelahnya apa? Apa iblis benar-benar bisa menjaga komitmennya, berkaca dari mereka yang sudah membantu manusia di masa lalu?


Adakah jaminan kuat lain untuk siapapun yang berada di pihak iblis selain dibiarkan hidup? Danny tidak berniat menukarkan kesulitan sekarang dengan kesengsaraan yang lebih besar lagi.


Memang iblis membantu manusia mendapatkan kebebasannya, dan iblis pun mendapat upahnya. Bisa saja manusia berpikir cerdik dan mengembangkan kekuatan agar bisa mempertahankan posisinya itu. Namun meski sudah berusaha sekalipun, tetap saja iblis sudah jadi ras terdahulu dengan beragam kekuatan ajaibnya. Sulit bagi manusia mengimbanginya.


Memanfaatkan kemudian dimanfaatkan. Sebuah ironi yang terjadi dalam kehidupan.


"Kau tahu aku tidak akan membinasakan ras lain sepertimu?" Archifer sedikit tersenyum, namun Danny tidak merasakan emosi dari ekspresinya itu.


Siapa lagi yang mampu bertahan melawannya sampai sejauh ini? Archifer tertarik mengulik lebih dalam pemuda ini ketimbang membiarkannya mati begitu saja.


Meski pemuda itu sukses membuatnya emosi, namun Archifer masih membuka lowongan bilamana pemuda itu mau berubah pikiran.


Danny menghargai kata-kata yang dikeluarkan raja iblis itu, meski sangat menarik hati namun pada akhirnya itu harus ditelaah lebih dalam lagi.


Alasan iblis menguasai dunia tidak lain tidak bukan adalah untuk membuktikan bahwa merekalah ras terkuat, dan demi mencapainya tidak mungkin terjadi pertumpahan darah.


Danny yakin para kerajaan juga tidak serta merta sepakat menyerah pada iblis, melainkan pasti punya caranya tersendiri mengatasi masalah ini.

__ADS_1


Meski ini hanya asumsinya saja, namun inilah yang Danny yakini. Selama kerajaan di dunia tidak bersatu maka sudah pasti terjadi peperangan.


Jika antar kerajaan saja masih berseteru apalagi dengan ras lain yang mau menguasai seluruh dunia?


Andai saja Danny menyerah dan ikut pihak iblis pun bukan berarti semuanya sudah berakhir, masih banyak orang lain yang akan menggantikannya.


Lagipula tidak pernah terlintas dalam pikirannya juga. Tawaran indah ini pada akhirnya punya arti berbeda untuknya.


Apakah percaya pada iblis adalah pilihan tepat? Jawaban Danny berkaca pada masa lalu, ia tidak mau mengulang kesalahan yang sama.


Danny maju ke depan, sementara di dimensi nol ini memang ia seolah melayang di ruang kosong saja. "Haruskah kupukul wajahmu agar sadar?"


"...." Archifer terdiam, ia tidak paham mengapa pemuda itu masih bisa memancarkan kepercayaan diri seperti itu, padahal kondisinya sudah begitu.


"Kau akan menemuiku mati dibanding bergabung denganmu." Tanpa terasa darah keluar lebih banyak dari hidung dan mulut Danny.


Archifer menyeringai, hanya dengan berkata-kata saja pemuda itu tidak kuat, apalagi menghidupi perkataannya itu?


Danny mengelap lagi darah yang keluar, ia tidak keberatan untuk terus mengulang apa yang jadi jawabannya.


'Gawat....' Danny merasa kekuatannya makin banyak keluar. Tempat ini memang tidak diperuntukkan untuk orang sepertinya.


Bisa-bisa ia kehabisan tenaga duluan sebelum benar-benar memberi perlawanan.

__ADS_1


__ADS_2