Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 106: Idola Yang Sama


__ADS_3

"Aku yakin Yizi pasti bisa berkumpul lagi dengan Alliance Fight's kembali," ujar Danny sambil tersenyum.


Yizi melihat sekilas wajah Danny yang tersenyum itu, terlihat tulus, mirip sekali seperti senyum kibo.


Ia kemudian mulai berpikir, untuk keluar dari sini memang hal yang mustahil, buktinya setelah tiga tahun lamanya Yizi belum bisa pula untuk keluar dari sini.


Yizi menerka mungkin saja Danny sudah tahu tentang hal ini, namun tetap saja ia mengatakan hal untuk menenangkannya itu.


Tentu saja Yizi menghargai apa yang dilakukan oleh Danny untuk menyemangatinya itu, karena tidak lain tidak bukan karena memang tujuan mereka sepertinya sama.


"Danny, apakah kamu akan keluar dari sini?" Yizi ingin lebih memastikannya.


"Tentu saja Yizi, karena memang sebenarnya tujuan ku berada di luar sana, jadi aku tidak bisa terus-terusan berada di sini," ujar Danny tenang, harapannya untuk keluar dari sini memang begitu kecil, namun nampaknya secercah kecil harapan bisa sedikit menghibur hatinya.


Yizi sekarang mengerti, memang benar tujuannya benar-benar sama dengannya, setidaknya untuk kali ini.


Danny akhirnya mengingat Arthur, seorang ksatria terkenal dari kerajaan barat, sudah beberapa lama ini ia tidak melihatnya meskipun dia di bawa ke tempat yang sama juga.


Entah apa yang terjadi, namun Danny yakin Arthur juga masih berada di tempat ini namun untuk lebih tepatnya di mana Danny tidak tahu juga.

__ADS_1


"Kalau saja aku tidak ada di sini, pasti aku sudah berada di kerajaan barat dan bertemu para ksatria suci," ujar Yizi, ia memang menggemari para ksatria yang terkenal itu.


Itu dia!


Danny berpikir pastilah semua kalangan juga tahu tentang ksatria suci itu, dan pastilah kemungkinan besar mereka menyukainya juga!


"Ehmmm, kau tahu Yizi, sebenarnya aku di bawa ke sini bersama dengan Arthur lho ...."


Arthur ...


Arthur ....


?


Maksudnya adalah, bagaimana perasaanmu bilamana telah mengatakan sesuatu yang kamu tertarik di dalamnya dan kemudian orang lain berkata hal yang sejalan dengan keinginanmu itu? Itulah perasaan yang dirasakan Yizi sekarang ini.


"Arthur?! Kau tidak bercanda kan Danny?!" tegas Yizi dengan tiba-tiba, raut ekspresinya terlihat sedikit- sedikit sekali berubah dari ekspresi biasanya menjadi sedikit tidak biasa, dalam kata lain agak sangat sedikit terkejut.


Danny tersenyum, ia memang sudah menduga hal ini karena memang Arthur adalah idolanya juga, kurang lebih 'perasaan tidak percaya itu' akan muncul seketika ketika mendengar berita ini.

__ADS_1


"Tidak, aku serius, ia memang sedang berada di sini sekarang," ucap Danny meyakinkan Yizi.


"Benarkah? Lantas mengapa aku tidak pernah melihatnya ya?" Yizi benar-benar baru tahu bahwa idolanya ada di sini juga, perasaan penuh penasaran dan tertarik menyelimutinya saat ini.


"Begitupula aku Yizi, sebenarnya kami baru bertemu dan pertemuan kami langsung berakhir di sini." Danny belum sempat berbicara banyak dengan Arthur juga.


"Begitu ya ... tempat ini memang luas, dia bisa berada di mana saja sekarang," ujar Yizi dan Danny setuju akan hal itu.


"Tapi aku yakin kita akan segera bisa bertemu dengannya, nanti sekalian kau bisa mengobrol langsung dengannya Yizi," ucap Danny.


Yizi benar-benar tertarik akan hal itu memang, saat ini tiba-tiba ia bersemangat dalam hal ini, melupakan sejenak yang menjadi permasalahannya itu.


"Aku menantikan itu." Danny sedang jika Yizi sekarang bisa lebih mengesampingkan masalah, dan sekarang ia berharap bisa cepat bertemu dengan Arthur.


Beberapa hari ke depan, Danny sudah diizinkan kembali ke sel, sedangkan Yizi harus menunggu beberapa hari lagi sesudah Danny.


Akhirnya mereka berpamitan, dengan satu hal yang di minta Yizi yaitu bertemu dengan Arthur, Danny pun tentu akan melakukan yang terbaik jika sudah bertemu dengannya, ia juga ingin melihat Yizi bahagia kembali.


***

__ADS_1


Danny sudah masuk kembali ke ruangan selnya, disambut dengan baik oleh Vincent dan Brock setika.


"Selamat datang Danny!" ujar Vincent dan Brock bersamaan, namun di sana tidak ada petasan yang membuat meriah hanya saja ada sebuah kue vannila yang cukup besar yang di pegang oleh keduanya itu.


__ADS_2