
DRAP!
DRAP!
DRAP!
Dibawah awan malam yang gelap, terlihat rombongan kelompok Alliance Fight's masih berkuda dengan kecepatan penuh, suara hentakan kuda yang penuh dengan irama benar-benar menjadi suatu hal yang terdengar saat ini.
Kibo memegang dadanya sendiri, entah mengapa ia merasa sesak dan perasaan tidak enak yang muncul setelah bertemu dengan perempuan bernama Quin ini malah menjadi-jadi.
Ia sedikit memegang baju petualang yang tengah ia kenakan itu dan kemudian meremasnya dan segera berharap serangan kepanikan itu akan segera mereda.
Perasaan yang sama ketika Yizi telah meninggalkannya, namun ini sedikit berbeda— perasaan yang bahkan lebih buruk dari itu.
Kini yang ada di pikirannya saat ini terbayang-bayang mata merah itu, imajinasi dan khayalan tentang sesuatu yang mengerikan kini berkecamuk dalam pikirannya.
Itu bukan sekedar mata merah ....
Aku tahu betul itu bukan hanya dari matanya saja ....
Perempuan bernama Quin tadi ... sebenarnya siapa?!
Kini dalam batin Kibo tengah mempertanyakan secara serius tentang siapa sebenarnya perempuan tadi? Mengapa ia merasa ada yang aneh dengannya? Apakah memang dia adalah perempuan biasa?
Namun sayangnya tidak ada yang bisa menjawab hal itu, kenyataan bahwa insting tajam miliknya itu tidak bisa dibohongi segampang itu.
Namun pada akhirnya Kibo hanya bisa berharap agar perempuan asing tadi mengatakan hal yang sebenarnya, dan dalam hal ini ia salah sangka.
Tak berapa lama kemudian mereka meninggalkan area pepohonan itu dan area berganti dengan dataran tanah kering yang cukup luas yang berada di hadapan mereka saat ini.
__ADS_1
Perkataan para warga desa yang telah mereka dengar ternyata benar saja, di hadapan mereka ini bukanlah area tanah kering yang mudah dilewati oleh mereka.
Melainkan area berbatu-batu kecil yang susah dilewati dengan menggunakan kuda mereka.
Hamparan tanah kering bercampur batu yang amat luas kini ada di hadapan mereka sekarang, ujungnya bahkan belum terlihat di tempat dimana mereka berdiri sekarang.
Kibo pikir memang tidak ada cara lain selain mengintruksikan agar semua anggota turun dari kuda dan kembali menggiringnya selama melewati area berbatu itu.
Area ini bukan area berbatu biasa melainkan benar-benar 'berbatu' mereka bahkan berjalan di tanah itu pun sedikit kesulitan begitupula dengan kuda mereka hingga pada akhirnya menghambat perjalanan mereka.
Mereka harus mengambil langkah yang tepat agar tidak terpeleset di kumpulan batu yang terhampar itu, bila jatuh maka pastinya tidak akan seperti di kasur rasanya.
Hal inilah yang benar-benar menghambat kelompok mereka saat ini, melintasi daerah ini tidak diperlukan sesuatu yang aneh hanya saja kesabaran mereka di uji di sini.
Bahkan beberapa di antara pria besar itu ada yang terjatuh akibat terantuk batu yang berujung pada seluruh tubuhnya ikut mendarat ke bawah, dan tebak apa yang terjadi?
"Hati-hati! Meskipun ada cahaya terang bulan pastikan kalian tidak lengah karena area ini licin dan bebatuannya pun tidak tumpul!" perintah Kibo pada seluruh anggotanya yang sedang bersusah payah mencari jalan teraman agar mereka tidak mengikuti jejak teman mereka yang sudah terjatuh itu.
Pria besar yang terjatuh tadi tidak serta merta tidak merasakan apapun, saat ini bahkan sebagian tubuhnya luka karena bebatuan yang tersebar setelah badannya itu mendarat di bawah.
Baju petualangnya robek sebagian, otot dada dan perutnya yang besar tereskpos di sini, namun luka pada bagian dada dan perutnya itu membuat setiap orang ingin lebih berhati-hati lagi.
Beberapa luka seperti sayatan ada di tubuh pria besar yang terjatuh itu, namun darah yang mengucur tidak terlalu banyak, dan memang dia sendiri tidak mengharapkan akan keluarnya banyak darah dari tubuhnya itu.
Pria besar itu mengambil sebagian robekan baju yang telah jatuh itu dan kemudian mengelap lukanya sendiri, setelah ia berteriak dengan cukup keras, dan memang sepertinya ia ingin melakukannya lagi namun apa daya lagi-lagi ia menjaga imagenya itu sebagai anggota Alliance Fight's.
Ia berusaha untuk terus mengelap lukanya meskipun terasa perih, sambil memperhatikan jalan dan juga menggiring kudanya itu.
Saat ini hanya kesabaran dibutuhkan di sini, pada akhirnya yang tidak berjaga dan tidak memperhatikan langkahnya akan terkena masalah serius.
__ADS_1
Kuda-kuda mereka begitu baik dalam melangkah, mereka dengan tepat dapat memilih pijakan tanah yang benar dan berjalan secara perlahan dan teratur, lebih baik dari seluruh manusia yang ada di sini, setidaknya karena mereka memiliki penglihatan yang lebar.
Cahaya remang-remang bulan menyinari mereka saat ini, sedikit membantu mereka untuk bisa melihat dan melangkah ke tempat yang benar.
Cuaca cerah adalah salah satu keuntungan yang mereka miliki, jika tidak maka cahaya bulan akan tertutup dan pada akhirnya akan menyulitkan mereka bilamana harus memegang obor dan menggiring kuda sambil memperhatikan jalan, lagipula memang saat ini pula dengan kondisi mereka, hal ini sudah tidak gampang dari awal bahkan dengan cahaya bulan yang menerangi mereka sekalipun.
Kini yang ada di dalam pemikiran setiap anggota kelompok itu hanyalah tentang bagaimana cara mereka melangkah dengan benar. Jika saja sudah memikirkan hal lain maka sudah pasti tubuh mereka akan tergores bila jatuh ke bawah.
Kefokusan mereka tengah diuji sampai pada batas mereka, ketelitian dan perhatian mereka tertuju pada setiap langkah yang akan mereka ambil.
Kibo sedikit berada di depan dibanding dengan anggota yang lain, mereka agak tertinggal di belakang.
Kibo nampaknya tengah mengerahkan tenaga dan pikirannya agar ia bisa cepat melewati area ini, sampai ia tidak menyadari bahwa dirinya itu secara tidak langsung meninggalkan anggotanya itu.
Sial! Mengapa harus ada tempat seperti ini?
Mengapa yang kulihat saat ini hanyalah batu kecil berwarna terang sekaligus tajam?
Dan lagi betapa banyaknya sampai tersebar ke seluruh area ini? Apakah memang benar jalanan ini merupakan jalan pintas menuju dekat kerajaan barat?
Kalau benar ... mengapa harus ada jalan yang menyulitkan seperti ini? Apakah dengan melintasi jalanan ini akan terbukti bahwa ini adalah jalan pintas?
Kibo terus bertanya-tanya dalam hatinya, ia berpikir mengapa jalan pintas akan sesulit ini, padahal ia tidak mengharapkan hal seperti ini.
Ia mengira area berbatu yang disebutkan oleh para warga desa yang telah mereka jumpai sebelumnya adalah area berbatu biasa yang mudah untuk dilalui, namun ternyata dugaannya itu berbeda sekali dengan realita yang ada.
Namun pada akhirnya sebagai pemimpin ia tidak seharusnya padam semangat seperti ini, padahal Yizi (pemimpin sebelumnya) tidak akan mudah padam semangat bila sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan.
"Argh ...."
__ADS_1