
Arthur menganggap pesan yang diucapkan oleh penyusup yang berupa makhluk hitam misterius itu bukanlah hal yang patut untuk diabaikan.
Melainkan pesan itu terdengar seperti peringatan bagi setiap orang yang mendengarnya.
"Keadilan? Uph— Ahahaha ... hahaha ...." Athur tertawa lepas mendengar pesan sang makhluk hitam itu.
Hal ini membuat Pak Wakil dan Thor agak keheranan melihat tingkahnya itu.
"E ... Arthur kau baik-baik saja?" Thor menanyakan keadaan sahabatnya itu.
"Hah? Oh maaf ...." Arthur mengelap matanya yang mengeluarkan air karena saking lucunya hal yang telah ia dengar tadi.
Setelah tawanya mereda, Athur menjelaskan mengapa ia tertawa tadi. "Aku merasa geli ketika seseorang menyinggung 'keadilan' namun perilakunya sama sekali tidak mencerminkan hal itu sama sekali ...."
__ADS_1
"Sejujurnya ... apa yang akan diperbuat oleh makhluk hitam aneh itu? Apakah dia akan menggunakan dalih keadilan untuk menutupi kejahatannya?"
Mendengar komentar Arthur, Thor dan Pak Wakil agak kebingungan bagaimana harus menanggapinya, masalah soal keadilan, peraturan, tatakrama adalah bagian Athur ... ia hampir sempurna menguasai semua bagian itu.
"A ... aku mengerti, untuk seseorang yang menjunjung tinggi keadilan ... kau pasti merasa tersinggung karena ada yang berpendapat begitu bukan?"
Athur melihat Thor, senyum kecil yang tidak ramah terukir di wajahnya. "Aku terkesan dengan penilaianmu Thor ... tentu ... seperti yang telah kau bilang tadi, aku merasa tergganggu ketika seseorang mengatakan suatu hal yang berlawanan dengan apa yang dilakukannya sendiri."
"Lalu akan kita apakan penyusup itu? Mungkin saja dia saat ini berkeliaran di wilayah kerajaan bukan?" tanya Pak Wakil Kota.
"A-apa?" Pak Wakil merasa keheranan akan jawaban yang diberikan oleh Arhur.
"Maksudmu? Kita biarkan dahulu makhluk hitam itu beraksi? Bahkan jika itu membahayakan para warga?" Pak Wakil mulai kembali khawatir akan kemunculan makhluk hitam misterius itu.
__ADS_1
"Te-tenang dulu Pak Wakil ...." Thor merasa pertanyaan mendesak Pak Wakil hanya akan membuat temperamen Arthur makin meninggi dibandingkan saat sebelumnya.
"...."
"Aku menjalankan tugas sesuai dengan prosedur ... tidak mungkin aku akan mencari suatu hal yang tidak kuketahui keberadannya ...."
"Athur benar Pak Wakil, saat ini kita memang telah mendapat peringatan dari makhluk hitam itu, kita tentu akan menggali informasi lebih lanjut mengenai hal ini, setidaknya sampai keberadaan dan tujuan makhluk hitam itu sudah diketahui dan cukup jelas, maka pasti kita akan segera bergerak." Thor mendukung pernyataan Arthur, sebuah alasan logis mengapa mereka tidak secara rusuh dan tidak tenang dalam mengatasi hal ini.
"Memang prioritas warga memang adalah hal yang terutama namun langkah-langkah yang kita ambil harus tetap sesuai prosedur, apakah Pak Wakil kurang paham akan hal ini?" tanya Athur dengan serius, menanyakan kapabilitas seorang pemimpin wilayah dekat kerajaan barat itu.
Tatapan tajam Arthur mengarah pada sang Pak Wakil Kota ini, memaksa agar Pak Wakil itu mengatakan hal yang sebenarnya.
"A- Tentu saja Arthur! Mana mungkin Pak Wakil tidak mengetahuinya, su-sudahlah kita kembali perhatikan dengan seksama jalannya kompetisi ini." Thor memecah suasana yang mulai agak kurang mengenakkan.
__ADS_1
Pak Wakil hanya diam saja mendengar perkataan Arthur, ia tidak marah ataupun tersinggung karena perkataan itu, hanya saja ia merasa kaget karena mendengar sebuah ucapan yang tidak ia kira keluar dari mulut sang ksatria suci, Arthur.