
Sring!
Sementara itu di dunia nyata....
Terlihat cahaya terang muncul di sekitaran gerbang Kerajaan Barat.
Seorang gadis bergaun putih yang dikelilingi kunang-kunang sudah datang....
Sang penjaga hutan sihir, Sophia.
'Tempat ini....' Sophia melihat keadaan sekitar, sorot mata terangnya memerhatikan dengan teliti.
Tidak ada kerusakan yang parah, hanya saja tercium aura kegelapan yang sangat memuakkan.
Aura kegelapan ini juga membuat kekuatannya jadi terganggu.
Apa yang sang penjaga hutan sihir duga benar. Teknik teleportasinya butuh waktu agak lama.
'Dia....?' Sophia melihat ada seorang gadis bergaun hijau yang terletak tak berdaya di tanah bersimbah darah.
Wajahnya menghadap tanah, sedang tepat di dadanya terdapat luka tusuk yang dalam.
Tanpa berpikir panjang lagi, Sophia langung menghampiri gadis itu.
"Gadis bergaun hijau...." Sophia tidak bisa merasakan energi sihirnya.
Sophia merasakan tiga pancaran pancaran kekuatan dari tempat ini,aura kekuatan Danny, aura kekuatan alam dan aura kekuatan gelap biasa.
Sophia dengan hati-hati mengangkat wajah gadis bergaun hijau itu, dan benar saja dugaannya.
Darah ada pada mulut dan hidung gadis cantik ini, dia menutup matanya dengan ekspresi yang seolah menyesali sesuatu.
"Dia ini yang bertarung dengan Danny." Sophia langsung tahu.
Yang berarti dia dipihak iblis. Danny sudah mengalahkannya.
Sophia bisa merasakan adanya kekuatan batu permata mulia di tubuh gadis ini, tepat pada bagian lukanya.
__ADS_1
Sang penjaga hutan sihir pikir pertarungan ini akan berlangsung lama, mengingat aura kekuatan alam sang elf ini benar-benar kuat.
Jika begitu mungkin ia masih sempat untuk melihat apa yang terjadi.
Namun tak disangka pertarungan berakhir cepat, lagi-lagi sang penjaga hutan sihir ini terlambat.
Sophia terdiam, ia tidak langsung menerima fakta bahwa sang elf sudah kalah seperti ini.
Ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Entah itu karena Danny yang sudah bertambah kuat atau karena hal lain.
Sophia bukannya meragukan Danny, hanya saja ia merasa ada hal lain mungkin saja terjadi.
Sekuat apapun Danny sekarang, Sophia tahu dia bukanlah manusia berdarah dingin yang mengakhiri segala musuhnya dengan cepat.
Andaikata waktu menuntutnya cepat sekalipun, tetap saja Sophia merasa ada yang aneh di sini.
Di sisi sang elf ini pun, Sophia yakin dari kekuatan alam yang terasa sebelumnya, dia belum terlihat serius.
Sophia melihat ke arah gerbang Kerajaan Barat, masih terlihat lingkaran sihir pelindung merah di sana.
Yang berarti pertarungan Danny dan elf ini memang tidak menimbulkan kerusakan parah, seperti yang ia lihat sekarang.
Hal itu juga menambah pertanyaan baru, mengapa bisa-bisanya pertarungan mereka ini cepat dan juga tidak menimbulkan kerusakan?
Hal paling umum yang terjadi ketika dua orang berkekuatan besar bertemu tentunya adalah pertarungan mereka pasti akan membekas.
Namun malah tidak seperti itu.
Sophia memfokuskan energinya, selain aura kekuatan gelap yang sangat mengganggu ini, ia tidak bisa merasakan energi Danny.
Sophia sadar ia terlambat lagi atau pertarungan yang berlangsung terlalu cepat.
Sang penjaga hutan sihir itu menyentuh hidungnya, tenggorokkannya terasa sakit.
Energi gelap yang terasa ini bukanlah energi gelap biasa.
__ADS_1
Mata sang penjaga hutan sihir jadi melebar. Aura kegelapan yang bahkan menjadi racun dan sangat berbahaya.
Satu-satunya yang punya aura kekuatan seperti ini adalah....
"Archifer...."
*
BRAK!
Danny dan Archifer lagi-lagi kembali bertumbuk satu sama lain. Pergerakan mereka sangat cepat dan menghancurkan apapun, tidak hanya disekitaran mereka, namun juga sampai dimensi dunia pun tidak tahan.
Benar sekali, dimensi dunia buatan lagi-lagi hancur!
Entah butuh berapa dunia buatan lagi yang mereka singgahi sebelum menghancurkannya lagi.
Danny tidak peduli dengan kehancuran yang ada, satu-satunya yang ia pikirkan adalah bagaimana membuat sang raja iblis ini tumbang.
Sementara itu Archifer menaikkan standar kekuatannya. Mengingat si pemuda ini datang dengan kekuatan leluhur demi human yang sebenarnya.
Archifer menunggu saat yang tepat di mana tubuh pemuda itu tidak kuat dan hancur sendirinya. Melihat itu akan membuatnya lebih puas ketimbang mengalahkannya langsung.
DRRRTTT!
Tidak terhitung berapa dimensi buatan yang mereka datangi dan hancurkan. Semakin lama semakin cepat yang menunjukkan pertempuran kedua makhluk ini bukan main.
Danny meniadakan standarnya, seluruh tubuhnya ia dedikasikan untuk pertarungan penentuan ini.
"Tidak peduli apa yang terjadi...." Sorot mata Danny tetap bersinar tajam, dengan segenap tenaga dan tekadnya ia berhasil menembus pertahanan luar sang raja.
KRAK!
Tendangan keras Danny membuat suara yang memekakan telinga, suara zirah emas sang raja iblis.
Kapan lagi menendang leluhur ras seperti ini?
"Boleh juga!" Archifer terkesan dengan kemampuan pemuda ini, makin lama makin ngeyel.
__ADS_1