Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 355: Rumah, Tuan Housen


__ADS_3

Danny melihat bagaimana keindahan tempat yang memang tidak berpenghuni itu, bagaimana tidak dengan pemandangan eksotis dari sebuah pulau hijau yang banyak sekali pepohonan yang beragam di sini? Sungguh menyegarkan mata dan membuat tenang siapapun yang merasa gundah gulana.


Pemandangan hijau ini tidak asing baginya yang memang tinggal di pedesaan, namun Danny lebih melihat banyak kehijauan yang berada di tempat ini sejauh matanya memandang dan sejujurnya ia baru melihat banyak yang hijau ini di tempat seperti ini.


Jalanannya pun rata dan mulus, tanah rata yang alami sedang dilewati oleh kereta kuda bermuatan barang dagangan itu, yang menyebabkan Danny merasa lebih sedikit guncangan yang terjadi di sini.


Latihan di pulau kosong yang hanya Tuan Housen yang tinggal di sini tidak terpikirkan olehnya sebelumnya, namun Danny sendiri yakin di manapun tempatnya asalkan ia serius untuk berlatih maka itu akan membuat semuanya menjadi tidak terlalu sulit.


Sedang terpana oleh banyak kehijauan semak belukar hijau, pohon-pohon berbentuk unik yang indah untuk di lihat, Danny mengarahkan pandangannya dari semua itu untuk melihat bagaimana keadaan temannya saat ini, dan jika dilihatnya sekali lagi teman berambut sebahunya itu sekarang terlihat bisa untuk mengendalikan dirinya kali ini.


Memang ini sedikit mengejutkan karena Danny tahu benar apa yang telah terjadi pada temannya saat ia telah mendengarkan semua cerita dengan akhir yang menggantung itu, tidak heran saat ini Vincent teringat akan suasana buruk itu padanya, namun sepertinya perasaan itu akan segera pergi dari temannya itu, menurut pengamatannya pada temannya itu.


Terkadang sudah waspada sekalipun tetap saja ada hal yang diluar perkiraan terjadi, begitulah yang terjadi saat Danny tahu ternyata temannya tiba-tiba diserang iblis seperti itu, padahal di antara mereka berlima tidak ada yang benar-benar menyadari keberadaan iblis yang tersembunyi itu sebelumnya, namun Vincent harus terjebak dan bertarung dengan makhluk seperti itu tanpa diketahui siapapun.


Namun saat ini ia yakin bersama dengan Tuan Housen di tempat yang tidak terjamah orang banyak ini tidak akan begitu mencolok dan menarik perhatian iblis untuk datang ke pulau kosong ini.


Tidak berapa lama perjalanan berlangsung dengan begitu banyaknya pemandangan asri di sana, akhirnya kereta pun berhenti perlahan yang menandakan mereka sudah sampai pada tujuan.


Tap.

__ADS_1


Danny dan teman-temannya keluar dari kereta barang itu, dan sekilas ia juga ingat akan tempat ini, sebuah rumah yang besar, mewah dan lebih aneh lagi di tengah tempat yang tidak berpenghuni seperti ini.


"Tempat ini sepertinya tidak asing bagiku." Danny memerhatikan begitu besarnya rumah yang berada di depannya itu, bahkan desainnya pun terlalu hebat untuk dikatakan biasa, dan sekali lagi mirip seperti tempat yang disinggahinya dulu.


"Astaga mewah!" Vincent terbelalak melihat rumah besar bercat putih dominan dengan dua lantai itu, sungguh ia tidak ingat kapan terakhir kali dirinya melihat rumah semewah itu karena ia terbiasa hidup di balik jeruji besi.


"Mirip seperti rumah Kakek Leith." Danny mengatakan komentarnya mengenai rumah besar yang sedang dilihatnya ini, yang pastinya rumah besar bercat putih ini mengingatkannya pada rumah Kakek Leith dulu.


"Benarkah?" Tuan Housen menghampiri Danny, dari raut wajahnya terlihat senang karena pemuda itu mengatakan hal yang demikian.


"Ya, ini hampir mirip dengan rumahnya, benarkan Patricia?" Danny ingin menguatkan pendapatnya itu dengan bertanya bagaimana menurut temannya yang dulu memang pernah melihat tipe rumah yang seperti ini.


Kondisi Patricia terlihat agak sedikit lebih segar meskipun ia masih terlihat melamun, namun ia masih bisa mendengar apa yang temannya tanyakan padanya.


Tuan Housen tersenyum kecil, entah apa alasannya ia bisa senang hanya karena rumahnya mirip dengan rekannya, memangnya itu adalah hal yang luar biasa? Ataukah ada hal lain yang mendasarinya?


"Tuan, ini sama sekali bukan rumah kecil," ujar Brock dengan nada pelan, ia tidak mengerti lagi bagaimana definisi kecil menurut sang pak tua ini, memangnya rumah yang besar ini terlihat kecil darimananya?


"Ah, ya, lagi-lagi pengertian kita berbeda, jika menurut kalian ini adalah rumah yang besar maka ya memang beginilah terlihatnya haha."

__ADS_1


"Mari masuk." Tuan Housen kemudian mendahului mereka masuk ke rumah besar berdua lantai yang bercat putih dominan itu, benar-benar rumah yang terlihat besar dan sudah pasti isi di dalamnya tidak seperti rumah kebanyakan pada umumnya.


Begitu pintu besar itu dibukanya Danny bisa melihat bahkan isi dalam rumahnya pun mirip dengan rumah Kakek Leith yang sudah dikunjunginya itu, entah mengapa namun semua hal yang ada diingatannya seakan tersambung dan ia benar-benar merasa tidak asing di sini.


Bahkan ada tangga dua arah yang menuju lantai atas, persis sekali dengan tempat mewah milik Kakek Leith sebelumnya, Danny bertanya-tanya mengapa bisa tempat ini bergitu mirip dengan kediaman mantan pemilik batu permata mulia daya tahan?


Vincent yang baru pertama melihat rumah yang mewah ini terkesima dengan semua yang ada di dalamnya mulai dari ruangan besar di mana bisa bersantai dan jendela yang besar juga di sebelahnya, meja yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi yang terlihat mengkilap begitu pula kursi yang dudukannya adalah busa yang nyaman untuk diduduki, melihat semua hal ini membuatnya ingin mencoba berbagai hal.


"Tuan, bolehkah saya berkeliling dahulu di rumah ini?" pinta Vincent pada tuan rumah itu, ia ingin melihat lebih banyak hal lagi selain apa yang telah dilihatnya saat ini.


"Tentu saja, tapi apakah kau tidak mau beristirahat dulu?" Tuan Housen tidak begitu terganggu dengan adanya tamu yang bisa dipercayainya berada di tempat tinggalnya yang tersembunyi itu.


"Saya sudah baikkan Tuan, setelah berkeliling saya akan beristirahat." Vincent dengan cepat merasa segar kembali karena melihat begitu hebatnya tempat ini jadinya kejadian sebelumnya tidak begitu mempengaruhinya saat ini.


"Bolehkah?" Brock juga sepertinya ingin berkeliling juga di rumah besar ini, karena jujur saja ia juga baru pertama melihat rumah besar yang membuatnya penasaran akan setiap sudutnya ini.


Tuan Housen mengerti dengan permintaan pria besar itu dan menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju, dan Vincent dan Brock pun langsung meninggalkan mereka dan pergi berkeliling ke setiap tempat di rumah ini.


"Baiklah kamar ada di lantai atas, kalian mau istirahat?"

__ADS_1


Danny tidak merasa lelah karena memang ia tidak mengalami kejadian seperti bertarung atau apapun yang bisa membuatnya lelah, namun meskipun begitu tetap saja karena suasana dan tempat yang tidak asing baginya ini, ia sama sekali tidak tertarik untuk berkeliling juga.


"Saya akan ke kamar langsung Tuan, bagaimana denganmu Patricia?"


__ADS_2