
Dengan kematiannya itu tentu satu penggangu sudah musnah dan mereka bisa melanjutkan rencana dengan tentram.
Ho, tidak semudah itu ferguso.
"Kau harus berusaha mendapatkannya." Tidak perlu waktu lama untuk Danny mengatakan hal ini.
Setidaknya itulah yang bisa ia katakan sekarang. Meski lebih terdengar bagus dengan berkata, 'Coba saja kalau bisa' atau 'Langkahi dulu mayatku'.
Kedua kata itu terdengar keren dan percaya diri. Namun Danny tahu ia tidak bisa meremehkan sosok legendaris yang ada di hadapannya ini.
Ia tidak mau menyiksa diri dengan perkataan seperti itu.
Memang percaya diri itu bagus, namun jika sampai berlebihan maka itu lain cerita.
SYUT!
Lebih singkat dari kedipan mata, sang raja iblis itu sudah ada di hadapan Danny, lebih tepatnya sangat dekat dari muka ke muka malah.
"Kematianmu... akan menyakitkan." Suara berat yang lebih menakutkan dari apapun terdengar, bak gemuruh di malam hari.
DDDDRRRRR!
Seketika itu juga ledakan dari jauh tercipta, hanya dengan bisikan kecil saja efeknya sudah seperti ini.
"Mati adalah hobiku." Danny menatap tajam Archifer juga, ia sudah sangat siap jika 'kematian' itu menjemputnya
kapan pun.
DUAR!
Seketika itu juga bukit yang dipijak Danny dan sang raja iblis hancur, meledak tak bersisa lagi. Kepingan
batu besar melayang ke mana-mana.
HUSH!
Sementara itu Danny dan Archifer bergerak sangat cepat lagi, menabrak bukit tinggi sekaligus menghancurkannya lagi, masuk ke dalam lautan dan kemudian keluar sembari memproduksi gelombang tsunami yang
dahsyat.
Apapun yang mereka datangi di dunia ini malah jadi bencana. Semuanya hancur karena energi yang begitu kuat dari mereka berdua.
Pergerakan mereka berdua lebih dari sekedar cepat, melainkan sudah di luar nalar. Di luar akal sehat!
Terlalu banyak teknik dan kekuatan yang mereka lakukan.
KRAK!
'Suara itu!'
Dan terjadi lagi, telinga Danny tahu betul suara apa yang terdengar itu.
Suara retakan kuat yang familiar.
__ADS_1
"Manusia penghancur dimensi!" Archifer dengan ganasnya terus menggempur Danny dengan tatapan tajam dan senyum bengis. Sungguhlah definisi dari pemimpin ras iblis.
Bukan tanpa alasan Archifer mengatakannya. Karena ia tidak banyak menemui banyak orang dengan kekuatan seperti pemuda ini.
Untuk menghancurkan dimensi buatan butuh lebih dari sekedar kekuatan yang kuat, dan sesuatu yang lebih kuat itulah yang bisa menghancurkan dunia.
TEKAD YANG BESAR!
Archifer mengambil keputusan yang baik ketika ia tidak terburu-buru mengambil nyawa pemuda itu.
Hampir saja hiburan yag begitu menarik ini terlewatkan.
BLAAR!
DUMMM!
Ledakan terjadi berulang, bahkan gunung tinggi pun dilibas habis oleh mereka berdua. Tidak heran alam pun kesal dengan perbuatan mereka.
Dimensi dunia perbukitan ini makin retak sejadi-jadinya....
"Haha!" Archifer semakin banyak terbawa suasana. Menghujani Danny dengan banyak sekali teknik kegelapan yang serba kuat.
Membuat banyak kerusakan alam yang membuat siapapun yang cinta alam tidak akan senang.
BUM!
Kini Archifer terus mengiring Danny ke manapun ia suka dan tidak memberikan jeda sedikitpun.
HUSH!
Mana mungkin ia tidak terdesak ketika berhadapan dengan raja iblis!?
Danny berusaha berkelit semampunya dan menghindari setiap rentetan serangan mematikan Archifer, dan usahanya memang berhasil ... untuk sementara.
"!"
Tendangan Arthur melesat begitu cepat dan Danny tahu ia tidak akan sempat menghindar.
BUAGH!
"GWAH!" Danny terhempas ke belakang dan muntah hebat, cairan merah segar keluar dari padanya.
'....' Perut Danny jadi saksi akan kekuatan sang raja iblis.
Archifer memberikan serangan solid yang kedua di tempat yang sama. Memastikan pemuda itu tidak langsung mati.
Memang tidak lain tidak bukan itulah tujuannya. Mempermainkan musuhnya adalah kesukaannya. Meski artinya harus mengotori tangannya sendiri, tapi itu layak dilakukan.
"Sihir Angin: Tembok Angin!"
HUSH!
Seketika itu juga Danny berhenti terhempas, tepat sebelum menabrak bongkahan batu besar dibelakangnya.
__ADS_1
Ia tidak merencanakan terhempas terlalu jauh dan berpindah dimensi lagi, karena sebelumnya ia mengalaminya.
Setidaknya meski ia sudah tahu bagaimana nasib dunia buatan ini, setidaknya ia tidak membuka celah lebar lagi.
Danny bisa merasakan perutnya tidak baik-baik saja.
Shhh....
Terlihat aura gelap seperti asap muncul dari perutnya.
Tidak ada kekuatan gelap Raven yang melindunginya lagi.
‘Apa kekuatannya merasuk ke dalamku?’ batin Danny sembari mengelap mulutnya.
Dirasuki kekuatan gelap jahat dari dalam tidaklah bagus kedengarannya.
Shhhh....
Danny berusaha menguatkan tenaganya kembali dan mengabaikan rasa sakitnya.
Aura warna-warni kembali terlihat padanya. Bahkan menggunakan ke-empat kekuatan batu
permata mulia sekaligus masih belum cukup untuk menahan kekuatan raja iblis.
Ya, itu bisa dimaklumi juga sih.
‘Bagaimana mengalahkannya?’
Danny sadar ia memang tidak bisa mengandalkan apa yang ia punya saja, jadi kenapa tidak
berdiskusi saja sekarang?
-Kau yang akan mengalahkannya-
‘....’
Danny berharap mendengar semacam strategi, namun ternyata tidak.
‘Baiklah....’ Danny tidak bisa protes karena itu memakan waktu. Ia percaya saja dengan apa yang
dikatakan batu permata mulia padanya.
BUM!
Hempasan kuat tercipta, mendatangkan Archifer yang mengejar Danny.
Danny menutupi pandangannya dengan tangan, berusaha tidak terhempas karena itu cukup
menyebalkan.
“Dunia tidak butuh kekuatan pamer.” Archifer akhirnya berkomentar soal aura
warna-warna yang mencolok itu.
__ADS_1
Apa gunanya jika aura sihir terlihat indah dan keren namun tidak berguna sama sekali?