Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act: 343: Memanfaatkan Keuntungan


__ADS_3

Vincent sukses menghindari serangan yang mengarah lagi-lagi di titik butanya itu, ia berhasil berkelit dan membuat pukulan Tifee hanya mengenai udara saja.


Tap.


"I-ini ...." Tifee terdiam seketika, ia seakan menyadari sesuatu ketika pria berambut sebahu itu lagi-lagi bisa menghindari serangan tinjuan tangan kanannya itu, bahkan tanpa dilihat sekalipun pria itu tetap bisa menghindarinya.


"Kini aku mengerti," gumamnya dengan pelan, ia sudah memikirkan hal ini dari awal, kecurigaannya pada kemampuan pria berambut sebahu ini memuncak sampai-sampai ia tidak bisa lagi menganggap ini adalah hanya dugaannya saja.


Vincent yang berada tepat di belakang iblis ini tahu bahwa si iblis ini sudah pasti menyadari akan kemampuannya itu, karena dari sejak awal makhluk itu sudah curiga padanya dan saat ini sepertinya makhluk itu sudah benar-benar mengetahui semuanya.


Dan ada satu hal yang ia pikirkan ketika si iblis berbahaya itu akhirnya tahu sesuatu tentang kemampuan dirinya itu, menyerangnya seketika!


Vincent melihat ini adalah kesempatan emas baginya untuk menyerang dengan cepat sebelum Tifee berbalik badan sepenuhnya padanya, secepat apapun responnya pasti ada celah yang bisa membuat serangannya itu bisa mengenai iblis itu.


Vincent mengumpulkan segenap napasnya dan tekadnya dengan dalam, setelah itu dengan tanpa ragu dan yakin akan kemampuannya ia melakukan sihir yang mungkin saja terkuat yang pernah dikeluarkan olehnya.


"Sihir Api: Hembusan Nafas Api!" Seketika itu juga Vincent menghembuskan nafasnya yang telah terkumpul dengan dalam itu, sejalan dengan nama sihir yang diteriakkannya, hembusan nafasnya berubah menjadi api besar yang menyembur ke arah iblis itu, serangannya yang mendadak itu membuat iblis itu terkejut saat itu juga.


"Sihirnya apinya datang lagi!" Tifee menyilangkan tangannya sendiri untuk menghalau api yang ditujukkan untuk menyerangnya itu, yang pasti api itu benar-benar besar dan panas, Tifee tidak memiliki cara lain selain bertahan menggunakan kekuatan fisiknya sendiri.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian nafas api Vincent masih saja menyembur dengan kuat mengarah pada iblis yang saat ini mengancam hidupnya itu, serangan api itu setelah beberapa saat bukannya mengecil dam menghilang malah semakin lama semakin besar.


"A-pi- ini merepotkan!" Tifee lagi-lagi harus mengakui bahwa kekuatan sihir Vincent memang bukan kaleng-kaleng, bukanlah sihir api sepertinyang diperkirakannya, dan ia harus mengakui bahwa sihir api yang dikeluarkan pria berambut sebahu itulah yang paling kuat dari sekian banyak pertarungannya melawan pengguna sihir api yang lain.


Tifee bertanya-tanya dalam hatinya siapa sebenarnya manusia yang ia jumpai ini, apakah benar ia adalah golongan ras manusia yang sebelumnya pernah meminta bantuan pada ras mereka?


Apa yang terjadi setelah seribu tahun berlalu yang di mana kehidupan mereka yang damai itu kini diganggu oleh ras mereka? Saat ini Tifee terganggu oleh pertanyaan seperti ini ditengah usahanya untuk menahan serangan nafas api Vincent yang memunculkan api besar dan panas yang mampu memanaskan apapun yang berada di dalam jangkauannya itu.


Dari sini Tifee tahu, ia tidak bisa mengelak dan menolak bahwa mungkin saja para manusia yang sebelumnya telah ia anggap lemah ini berkembang dan menjadi lebih kuat dari generasi ke generasi, dan saat ini ia baru bertemu lawan manusia yang menyusahkannya sampai seperti ini.


Meskipun Tifee hanya mengandalkannya kekuatan tubuhnya namun kekuatan fisiknya memang tidak lemah juga, ia memiliki baju setelan hitam dengan beberapa besi dan pernak-pernik yang berkilau, selain bajunya terlihat tidak biasa begitupula dengan fungsi sebenarnya pakaiannya itu.


Beberapa saat telah berlalu lagi, pada akhirnya Vincent sampai pada batasnya, nafas dalam yang telah dikumpulkannya mulai habis dan perlahan api yang makin besar itu mengecil kembali, dan perlahan-lahan menghilang di udara.


"Haaah! Haaah!" Vincent menarik nafas dalam dan perlahan mengeluarkannya secara dalam pula, ia merasa pernafasannya jadi tidak teratur saat ini, dan pada akhirnya ia membutuhkan waktu agar nafasnya kembali normal seperti biasanya.


Vincent telah berusaha semampunya, entah serangannya itu berhasil atau tidak namun setidaknya serangan tadilah yang merupakan serangan terkuat yang pernah ia keluarkan sampai saat ini.


Ia tidak berharap lebih dengan serangan ini, namun setidaknya ia mengharapkan serangannya itu memberi dampak kecil pada iblis yang memang ia lihat tadi telah terkena serangannya dengan telak itu.

__ADS_1


Api besar itu sudah sepenuhnya menghilang, Tifee terlihat berdiri di sana dan asap mengepul pada seluruh tubuhnya, ia tidak terlihat telalu baik seperti sebelumnya yang ini menunjukkan bahwa serangan Vincent tadi tidak sia-sia belaka.


Vincent tidak melihat momen ini, karena terlalu sibuk dengan pernapasannya yang berantakan itu, ia tidak menyadari sang iblis yang telah diserangnya sedang bereaksi yang sama.


Tifee pun terengah-engah, wajahnya yang merah itu tidak semakin merah lagi, hanya saja terlihat ada luka bakar di sebelah wajahnya, tidak begitu parah namun tetap saja luka itu menyebabkan sakit yang bisa dirasakannya.


Iblis itu masih mengepul dengan asap, jika dilihat saat ini, kondisinya lagi-lagi mirip dengan Vincent sebelumnya, di mana sebelumnya Vincent berasap kali ini ia mengalami hal yang sama juga.


Ini menandakan kekuatan fisiknya itu tidak sepenuhnya mampu untuk mengatasi serangan sihir api Vincent yang besar dan kuat itu, ia sudah menyadarinya dari awal dan pada akhirnya ia harus terluka juga karena terkena serangan seorang manusia.


Tifee memegang sebelah wajahnya itu, terlihat seperti ada sesuatu yang menyala di sana, seperti api, namun tidak benar-benar membakarnya hanya saja terlihat menyala di seluruh sisi wajah kirinya.


"A-aku ...." Seakan tidak percaya apa yang terjadi, nada suara iblis itu terdengar gemetar namun tidak mengandung ketakutan, hanya rasa tidak percaya saja akan apa yang telah dialaminya.


Tidak berhenti di sana, potongan-potongan besi yang ada ada pada beberapa bagian pada tubuhnya hancur tidak bersisa, begitupula dengan pernak-pernik berkilau yang ada pada pakaiannya tadi, semuanya lepas dan hancur menjadi abu tertiup angin dan hilang seketika.


Bahkan ada beberapa bagian lain terutama di bagian kakinya potongan kain pakaiannya itu kembali hancur menjadi abu dan hilang tertiup angin dengan seketika itu juga.


Dengan waktu yang cukup sebentar Vincent akhirnya bisa mengendalikan pernafasannya dengan baik kembali, ia melihat ke arah iblis yang merupakan musuhnya itu sedang berdiam melamun tidak percaya akan apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


Vincent tidak mengira juga serangannya akan begitu berdampak pada iblis ini, ia kira makhluk yang sedang berhadapan dengannya tidak akan begitu terpengaruh dengan serangannya itu, namun lagi-lagi kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasinya sebelumnya.


__ADS_2