
Setelah menikmati indahnya keindahan malam yang begitu menakjubkan, Danny dan Patricia kembali masuk ke dalam untuk mengistirahatkan tubuh mereka, kira-kira sampai tengah malam mereka melihat keindahan malam itu.
Begitu membuka pintu masuk rumah itu, mereka berdua dikejutkan oleh keberadaan Kakek Leith berbaju jas rapi seperti layaknya orang kaya pada umumnya, dan juga ia terlihat lebih rapi karena kumis dan janggut tebalnya hilang dari permukaan mukanya.
Danny melihat dengan seksama pada wajah kakek itu, memang rambutnya lebih rapi dan teratur dan lagi rambut berubannya membuat penampilannya lebih berwibawa meskipun ia terlihat lebih tua dibanding kakek Sam yang pernah ia jumpai dulu.
"Kek... kau merapikan rambutmu ya?" tanya Danny sembari menunjukkan tangan pada wajah kakek itu.
"Huh?" Kakek itu meraba rambut nya sendiri.
"Kau benar, selain itu aku juga merapikan kumis dan janggutku haha!" ucapnya sambil menolak pinggangnya sendiri.
Danny dan Patricia ikut senang melihat penampilan kakek Leith yang lebih baik dibanding dengan perjumpaannya dahulu.
"Aku memutuskan untuk merapikan penampilanku karena kalian, aku ingin agar kalian lebih bersemangat dalam latihan ini, makanya aku akan menujang penampilan kakek tua ini agar bisa lebih enak dipandang.. haha!" kakek itu masih tertawa puas akan hasil akhirnya itu.
"Kek, para pelayanmu yang merapikan penampilanmu?" tanya Patricia, memang jawabannya sudah pasti iya, namun ia terkesan ingin mengetahui jawaban tersebut secara langsung dari mulut kakek itu.
"... Tidak semua... aku memang dibantu oleh pelayanku, namun itu hanya urusan rambut saja.. kumis dan janggutku kucukur sendiri.. haha." ujarnya dengan perasaan bangga.
Danny menyangka bahwa kakek Leith akan menyerahkan urusan penampilan sepenuhnya pada para pelayannya, ternyata tidak. Kakek Leith juga terkesan bisa melakukannya sendiri dan memang hasilnya memuaskan.
Ia bukan seorang tuan yang semena-mena pada pelayannya, Danny bisa merasakan hal itu, para pelayan Kakek Leithpun menaruh hormat yang tinggi pada tuannya itu.
"Kakek belum tidur?", Danny merasa khawatir jika kakek Leith tidak tidur karena dirinya, Lagipula meskipun dia akan melatih Danny tetap saja beliau sudah lanjut umur.
__ADS_1
Kakek Leith mendekat pada Danny dan Patricia, "Sudahlah, sekarang memang sudah malam, namun aku perlu bicara sebentar denganmu Danny," Kemudian seketika itu pula Patricia menguap.
"Kau Gadis muda, pergilah ke kamarmu, kau terlihat sudah mengantuk,"
"Baiklah, kek..." balas Patricia spontan dengan berjalan sedikit lemas dan meregangkan badannya sesekali sambil menuju ke ruangan kamarnya sendiri.
Kakek Leith mendekat dan menepuk pundak Danny, "Kita akan berbicara sebentar, mari kita duduk di sofa itu..." ajak Kakek Leith padanya.
Ada sebuah kursi sofa yang panjang berada di dekat pintu masuk itu, dibelakangnya ada jendela yang lumayan besar, mungkin tujuannya agar seseorang bisa bersantai di sofa sembari menikmati suasana di luar halaman yang luas.
Akhirnya Danny dan Kakek tersebut pun duduk di kursi sofa yang panjang itu, saling bersebelahan.
"Ada apa kek?" tanya Danny, kakek Leith melipat tangannya sedikit dan kemudian mulai berbicara pada Danny.
"Hei Danny, aku kira kau harus tahu sesuatu sebelum kita mulai latihan kita." Danny penasaran, mungkin saja ada sesuatu yang belum ia tahu?
Kakek Leith menghela nafas, "Kondisimu bagaimana sekarang?" Danny heran mengapa kakek Leith menanyakan kondisinya?
"Oh, aku baik-baik saja kek, aku mungkin sudah mengalami pertarungan yang lumayan berat, tapi aku berhasil pulih kek, sekarang kondisiku lebih baik kok..." Danny berusaha menjawab sebaik mungkin, ia tidak sedikitpun mengarang cerita soal kondisinya itu.
"Hmmm...." kakek itu melihat wajah Danny dengan seksama.
"Kukira kau benar... aku hanya ingin memastikan bagaimana kondisimu sebelum kita berlatih."
Danny tiba-tiba teringat akan perkataan gadis pelayan yang memberinya nasihat siang hari tadi, "Kek... saya sudah berusaha untuk memperbaiki keadaan mental saya kok, saya telah mendengar dari salah satu pelayan kakek, bahwa memang latihan ini akan mempengaruhi mental saya."
__ADS_1
Kakek Leith mengangguk, "Ya, kau benar Danny, latihan yang akan kau jalani memang lebih banyak akan mempengaruhi mentalmu, itu akan menguji seberapa kuat fisikmu dan yang terpenting adalah mentalmu..." kakek Leith kemudian beranjak berdiri dan menempatkan tangannya dibelakang persis seperti pose istirahat, memang sih itu adalah gaya kebanyakan orang tua.
"Dengan adanya batu sihir, maka itu akan mengungkap semua tentang penggunanya, aku bilang begitu kan?"Danny mengangguk.
"Batu itu akan menganalisis dan menyesuaikan dirinya dengan penggunanya, dan mengungkap seluruh apa yang ada pada pemegangnya sendiri..." penjelasan kakek Leith mulai membuat Danny penasaran ditambah bingung.
"...dan aku telah diberi tahu oleh batu sihir kekuatan tentang dirimu Danny." mata Danny terbelalak ketika mendengar pernyataan kakek itu, maksudnya sama sekali tidak ia mengerti sepenuhnya.
Danny ikut-ikutan berdiri melihat kakek Leith yang seperti tengah memikirkan sesuatu, "Kek... apa itu berarti.. kakek tahu semua tentangku?" ucap Danny pelan, kakek Leith kemudian memandang kembali Danny.
"Tidak semua... hanya garis besar tentangmu saja Danny." ujar kakek Leith itu, garis besar- ungkapan itu kurang dimengerti oleh Danny.
"Intinya, batu sihir itu mampu mengungkap informasi demi kebaikan penggunanya, contohnya aku mengetahui sebagian masa lalumu... ini tujuannya supaya aku bisa menganalisis seberapa siap kau akan menjalani latihan ini." Danny heran, meskipun ini terbilang pribadi karena menyangkut masa lalunya namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ini demi kepentingannya sendiri.
"Ah.. aku mengerti mengapa kau menanyakan kondisiku kek, mungkin kau tidak khawatir sebegitunya soal fisikku ini, melainkan kau khawatir dengan mentalku?" Danny berusaha menerka akan alasan dari kakek itu menanyakan kondisinya, dan sepertinya ia benar.
"Ya.. aku tahu kau adalah seorang pemuda desa... terkesan biasa.. namun kau telah dianugerahi agar memiliki seluruh batu permata sihir yang memang sangat langka dan mempunyai kekuatan spesial ini." penjelasan yang akan dijelaskan kakek Leith nampaknya akan begitu panjang.
"Kami para demi-human, mewariskan lima batu permata ini agar bisa menjaga keberlangsungan ras kami, namun agaknya itu tidak berhasil," kakek Leith mulai bercerita pada Danny
"Karena serangan iblis yang begitu hebat, akhirnya kebanyakan dari ras demi-human harus musnah, tidak dapat bertahan apalagi melawan balik, tapi bukan berarti ini akhir dari semuanya, sebagian demi-human dapat melarikan diri dari serangan itu dan akhirnya memecah keberadaan kami ke seluruh penjuru Hello ini."
Kakek Leith mulai melihat bintang diangkasa yang nampak pudar seiring berjalannya waktu, "Kami hanya bisa menyembunyikan lima batu permata kami, dan masing-masing pemegang hanya satu batu permata yang diperbolehkan digunakan..."
Danny penasaran akan alasan dimana lima batu permata itu tidak bisa digunakan sekaligus, "Mengapa begitu kek?" Danny tidak bisa membendung akan rasa penasarannya itu.
__ADS_1
"...kami bisa mati karena kekuatan batu permata ini..." ucap kakek Leith pelan
"Bisa... mati?"