Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 58: Berbagi


__ADS_3

Lagi-lagi Danny harus menghadapi pikirannya sendiri, ia masih begitu bingung dengan kemampuannya sendiri- dan terkesan kurang percaya akan dirinya sendiri.


Dari kecilnya Danny tidak akan pernah menyangka bahwa ia harus terseret ke kejadian yang tidak terduga ini, kehidupan normal bersama kakeknya seakan hanya lalu begitu saja. Dan lagi saat ini Danny memang merindukan Kakeknya.


Di masa kecilnya Danny begitu menyayangi kakeknya, bahkan sekarang ia masih tidak bisa lupa akan masa lalu dengan kakeknya.


Sekarang bisa dibilang Danny sudah tidak memiliki saudara lagi, disitulah yang menjadi kegundahan hatinya. Namun mengingat perkataan kakek leith tadi bahwa memikirkan hal lain bisa menyusahkan ternyata benar juga.


Tok.. Tok...Tok..


Suara ketukan pintu terdengar, Danny segera beranjak dari kasurnya kembali untuk segera membuka pintu, "Eh?"


Gadis pelayan berambut pendek yang di perpustakaan tadi membawakan teh hangat untuknya, "Tuan mau secangkir teh hangat?"


Danny jelas-jelas tidak bisa menolaknya, apalagi dia sudah repot-repot membuatkan teh tersebut untuknya, "Wah terima kasih banyak..."


"Biar saya letakkan teh di meja laci tuan.." ucap gadis itu.


Danny menyetujuinya dan,


"Tuan... apakah kita boleh berbincang sebentar?" tanyanya secara tiba-tiba


Danny merasa berbincang bukanlah hal yang salah, lagipula memang ia ingin lebih tahu soal kediaman ini, "Oh.. kita berbincang dimana?"


"Disini saja tuan, tidak apa-apa..."

__ADS_1


"Oh, baiklah.. sebentar, " Danny menggeser kursi yang berada di meja kecilnya itu, kebetulan hanya ada satu kursi, akhirnya Danny memilih untuk duduk di ranjangnya saja


"Silahkan..." ucap Danny sembari mempersilahkannya duduk


Gadis itu kemudian duduk, penampilannya tidak berbeda jauh dengan pelayan yang lain, semua pelayan wanita disini berambut pendek berwarna coklat, dia cukup cantik dengan mata coklat dan bibir tipisnya.


"Apa yang ingin dibicarakan?" tanya Danny memulai pembicaraan


"Saya tadi melihat tuan di ruang perpustakaan, mulanya saya ingin berbicara dengan tuan langsung disana tapi kelihatannya tuan sedang tidak begitu baik.."


Mungkinkah karena rasa penasaran terhadap buku itu sehingga mengganggu perasaannya? pikir Danny


"Ah.. maaf bukan bermaksud begitu, lalu mau bicara tentang apa?" tanya Danny


"Ah, ini soal latihan yang akan tuan jalankan besok, mungkin ini hanya merupakan saran dari saya, tuan boleh dengar atau tidak juga tidak apa-apa.." ucapnya


Kemudian gadis itu mulai mengeryitkan dahinya, memandang kebawah nampan yang sedang dipegangnya, "Tuan sebaiknya tuan lupakan dahulu masa lalu tuan..."


Lupakan?


Apa artinya?


Danny tidak mengerti..


"Latihan ini akan sangat menguras emosi dan ketahanan fisik dan terlebih mental tuan, karena itulah tuan tidak boleh memikirkan hal lain selain dari latihan ini..." lanjut gadis pelayan itu

__ADS_1


"Melihat kondisi tuan yang seperti ini membuat saya khawatir dengan latihan yang akan tuan jalani nantinya..."


Danny mengerti dengan kepedulian gadis pelayan ini, "Ya.. aku mengerti... terima kasih atas saranmu.. aku pasti mengingatnya..."


"Oh ya.. apakah kau juga seorang...?"


Gadis itu seolah mengerti tentang apa yang ditanyakan oleh Danny, "Ya tuan, saya seorang demi human..."


"Kalau begitu seluruh pelayan disini juga?"


"Ya..."


"Sudah berapa lama kamu dan pelayan lainnya disini..?" tanya Danny penasaran


"Sudah dua puluh tahun..."


"Wah cukup lama juga ya..."


Gadis itu mengangguk, dan Danny kepikiran bertanya tentang buku yang ia baca sebelumnya di perpustakaan.


"Apakah kau tahu tentang buku 'Awal Dunia' yang berada diperpustakaan itu?" tanya Danny


Gadis itu kembali mengangguk, "Ya... saya juga sudah membacanya tuan..."


"Apa kau tahu akhir ceritanya bagaimana?"

__ADS_1


"Kalau itu..."


__ADS_2