
"Siap-siap Danny, kini kau akan menjalani tahap kedua dari latihanmu ini."
Mendengar perkataan Kakek Leith membuat Danny makin semangat. "Siap Kek!"
Sama seperti latihan sebelumnya, Danny kembali harus ke ruangan tertutup itu, bedanya adalah sekarang ruangannya akan mengeluarkan hawa dingin yang semakin-lama semakin dingin.
Danny sama sekali tidak mempunyai sihir apapun untuk menangkal hawa dingin yang berada disekitarnya, namun ia ingat bahwa tubuhnya mampu mengeluarkan panas alami.
Danny sadar ketika dirinya sakit sewaktu dulu, ia harus dirawat satu bulan penuh, ia merasakan sebagian dari energi panas yang ada tubuhnya ternyata merasuk lebih jauh.
Artinya Danny sekarang bisa menggunakan kemampuan panas yang didapatnya dulu secara tidak sengaja, dan itu sudah dicobanya sewaktu istirahat di kamar.
Ketika itu Danny mencoba menfokuskan pikirannya, berpikir tentang sesuatu yang panas, seperti api, tanpa sengaja seluruh tubuhnya malah berasap tanpa sebab.
Ia terkejut dan kemudian menghentikannya, disitulah Danny sadar bahwa ia mempunyai kemampuan baru.
Sekaranglah saatnya untuk melatih kemampuan baru itu, ia menfokuskan pikirannya, hawa dingin mulai terasa, sedikit demi sedikit...
Hawa dingin mulai menyebabkan seluruh dinding baja itu membeku, namun pembekuan itu tidak terjadi pada seluruh ruangan itu, hanya pada dindingnya saja, selain itu suhunya meningkat menjadi lebih dingin dari waktu ke waktu.
Danny berhasil menofokuskan pikirannya, aura panas mulai mendidih dalam dirinya, tubuh Danny sampai berasap karena panas hawa tubuh Danny beradu dengan dinginnya udara disekitar.
Asap itu cepat menguap menciptakan butiran air yang keluar dan menghilang secara cepat pula. Danny hanya merasa sedikit dingin pada akhir sesi latihannya itu.
Sama seperti latihan sebelumnya, Danny melakukan latihan ini dua belas jam perhari, ia istirahat hanya pada saat makan malam saja.
Hari demi hari berlalu, perkembangan Danny mulai terlihat, kini ia mulai terbiasa untuk mempertahankan suhu tubuhnya agar dirinya tidak membeku di ruangan tersebut.
Danny berhasil mengontrol dengan baik hawa panas dalam tubuhnya itu sehingga api tidak keluar dari tubuhnya.
Danny berlatih selama dua puluh hari, kemudian ia dinyatakan lulus dalam sesi itu bersamaan dengan Patricia yang telah menguasai sihir dasar angin secara penuh.
***
Akhirnya Danny dan Patricia diuji secara bersamaan oleh Kakek Leith, Mereka berlatih diluar halaman rumah dekat pohon yang memiliki area cukup luas.
Patricia dapat giliran pertama untuk menunjukkan hasil latihannya selama ini.
Ia memfokuskan dirinya, didepannya ada sebuah batu besar, lebih besar dari pohon biasa.
Perlahan sihir angin ia kumpulkan di tubuhnya dialirkan menuju tangannya, menguatkannya, kemudian melepaskan energi angin itu.
"Seni Sihir Angin: Angin Penyerang!"
"!" Danny teringat sesuatu ketika mendengar kata-kata itu, sepertinya ia teringat kembali dengan masa lalu.
__ADS_1
Angin tersebut berhembus secara cepat layaknya pisau tajam yang siap menebas apapun didepannya.
SRAK!
Sebuah siletan besar muncul di batu itu, menandakan kekuatan sihir angin yang luar biasa.
Meskipun hanya teknik dasar, namun dalam beberapa kasus teknik seperti ini memang bisa menjadi kuat tergantung pada penggunanya.
Karena keinginan Patricia untuk menjadi lebih kuat benar-benar besar maka itu juga berefek pada sihirnya juga.
"Bagus sekali Patricia!" ujar Danny, Kakek Leith hanya mengangguk-angguk tanda ia puas dengan hasilnya itu.
Karena kekuatan yang dihasilkan besar maka stamina yang digunakan juga ikut banyak, Patricia mengeluarkan keringat yang lumayan deras.
Untuk selanjutnya adalah Danny, kini ia hanya perlu untuk menahan setiap serangan yang dilancarkan Patricia.
"Tu--tunggu kek, apa ini tidak apa-apa?" ucap Patricia, ia nampaknya tidak mau melukai Danny.
"Tidak apa, lihat saja Danny." Kemudian Patricia dengan segera menoleh pada Danny dengan cepat.
Memasang senyuman yang megah, ia terlihat percaya diri sampai terlihat berkilau, "Ugh, baiklah Danny kuharap kau baik-baik saja," ujar Patricia sembari menghalangi sinar kebanggaan Danny itu dari matanya.
Kembali lagi seperti semula, namun kali ini Danny berdiam di depan batu besar itu, ia akan bertindak sebagai batu itu sekarang hanya dengan syarat ia tidak boleh ikut hancur seperti batu itu.
"Seni Sihir Angin: Kilatan Angin!"
Tiga kilatan itu hampir sampai di depan tubuh Danny...
SRAK!
DUAK!
DEM!
Angin menyeruak di sekitar mereka, kemudian keadaan sekitar pun dapat terlihat.
"Hm? apa sudah selesai?" ia terlihat seperti pria yang tidak tahu apa-apa.
"Huh?!" Patricia terkejut, ia penasaran bagaimana bisa Danny bertahan tanpa melakukan apapun?
"Itu adalah pertahanan diri, Danny menggunakan sihirnya untuk menguatkan tubuhnya sendiri agar bisa bertahan dari sihir angin mu tadi," ujar Kakek Leith
"Jadi sebelum sihir serangan itu sampai pada tubuhnya, ia terlebih dahulu menghantam pertahanan sihir tak terlihat yang dimiliki Danny." Tambahnya
"Jadi begitu...." Patricia kagum dengan kemampuan Danny itu.
__ADS_1
Kakek Leith maju, ia nampaknya akan menyerang Danny juga. "Sihir Angin: Tombak Angin!"
Sebuah tombak besar berbentuk angin muncul dihadapan Danny, ia sudah menduga pastilah Kakek Leith juga akan mengetesnya juga.
Dalam posisi berdiam dirinya, Danny mulai menfokuskan dirinya, dengan cepat sihir angin ia alirkan keseluruh tubuhnya bersamaan dengan sihir air sekaligus pertahanan terluarnya menggunakan hawa panas.
Tombak itu perlahan mulai sampai padanya.
SRIIIIIK...!
Ujung tombak itu mulai mengikis
pertahan terluarnya, perlahan namun pasti, tombak angin itu seakan dilikupi oleh api disekitarnya, namun tombak itu tetap tidak mau berhenti.
"Ugh..."
Hawa panas telah gagal untuk menghentikan tombak itu, kini ia maju lebih dalam menuju pertahanan air.
Terlihat sekarang tombak panjang itu mulai terkoyak, tidak terlihat lemah sedikitpun meskipun butiran air sudah berusaha menghentikannya.
Percikan air mulai tersebar secara kencang kemana-mana, bahkan percikan itu membuat lubang di pohon dan tanah saking kuatnya hempasan angin itu.
Itulah sebabnya Kakek Leith menggunakan pelindung sihir berbentuk bulat transparan untuk melindungi dirinya dan Patricia.
"Kek, apakah Danny akan baik-baik saja?" Kakek Leith hanya terdiam, ia masih memperhatikan keadaan Danny yang nampaknya masih belum bisa menghentikan sihirnya itu.
SRAT!
Danny mulai waspada, pertahanan keduanya telah tiada, kini yang ada hanyalah pertahanan terakhirnya,
SEER!
Danny tidak bisa hanya berdiam diri saja, sihir tombak angin tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Danny mulai menfokuskan pikirannya, ia berusaha mengerahkan segalanya agar sihir angin di tubuhnya itu dapat menghentikan tombak itu.
Danny sadar, sihir seperti ini bukanlah sihir dasar, ini lebih kuat daripada sebelumnya!
Danny terus fokus, perlahan kefokusannya itu membuahkan hasil, sihir angin yang ada didalam tubuhnya tidak hanya berfungsi sebagai penahan tetapi juga sebagai penyerang.
Aura sihir angin Danny mulai membesar, itu menekan tombak itu menjauh dari tubuhnya, aura sihir angin Danny dan tombak itu saling bergesekan tanpa henti.
Danny mulai kewalahan, ia pikir tidak ada cara lain selain harus menghentikannya dengan membalikkan tombak itu kearah lain, ia berencana untuk mengarahkan tombak angin itu ke langit.
Danny mulai menggunakan tangannya, terasa berat namun tetap harus dilakukan, perlahan ujung tombak itu mengikuti pergerakan angin yang dilakukan oleh Danny.
__ADS_1
Sedikit demi sedikit Danny memindahkan alur laju dari tombak itu menuju ke angkasa, karena ia sama sekali tidak dapat menghentikannya dengan tubuhnya.
Kakek Leith terus memperhatikan Danny seraya melihat langkah apa yang akan dilakukannya selanjutnya.