
Arena itu berbentuk bundar, ukurannya tidak terlalu besar, para penonton duduk mengelilingi arena itu.
Para petarung di batasi oleh waktu pertandingan selama tiga ronde, tiap ronde berlangsung selama lima belas menit. Dengan memakai celana pendek dan bertelanjang dada serta memakai sarung, sarung tangan khusus bertarung tentunya, maka dengan itu mereka sudah siap beradu kemampuan.
Kekalahan mereka ditandai dengan robohnya tubuh mereka sebanyak tiga kali selama seluruh ronde berlangsung, setiap petarung yang roboh akan di hitung mundur selama sepuluh detik sebelum mereka benar-benar dinyatakan kalah dalam pertandingan.
Teknik kuncian juga dapat dilakukan dan itu tidak akan dihitung kekalahan sebagai 'karena roboh'. Knock out karena tinju atau teknik lain dari lawan selama berdiri dan kemudian jatuh maka itu disebut kalah kalah karena K.O.
Kekalahan juga bisa terjadi apabila salah satu petarung keluar dari arena dengan cara apapun juga, bisa oleh lawannya, ataupun oleh dirinya sendiri, pilihan menyerah dapat dilakukan dengan keluar dari arena, namun hal itu jarang sekali dilakukan karena menyangkut harga diri setiap petarung.
Kekalahan karena menyerah adalah hal yang cukup tidak baik bagi petarung selain dari kalah secara K.O ataupun karena pertandingan dihentikan karena alasan tertentu.
Kebanyakan dari petarung lebih memilih berjuang sampai akhir pertandingan, itupun jika mereka bisa, jika tidak bisa ya mereka kalah.
__ADS_1
Waktu pertandingan dimulai malam hari, menambah semarak dalam hari mereka, artinya mereka akan berusaha bagaimanapun caranya agar menang.
Juri sendiri memantau dari jauh, dan mereka adalah bagian dari kelompok 'Dark Shadow' itu sendiri, mereka ikut mengawasi pertandingan dari jarak jauh.
Danny memakai celana pendek berwarna merah, itupun sebenarnya milik Vincent namum celana pendek itu muat dengan bagus di tubuh bagian bawahnya itu.
Tidak memakai alas kaki, maka setiap petarung harus bisa memastikan kebersihan kakinya, karena mereka tidak mau jika para penonton merasa terganggu dengan bau kaki yang belum di cuci, atau mereka tidak perlu melakukan hal itu jika memang mereka tidak peduli akan kebersihan kakinya sendiri.
"Brock, lihat saja Danny, seharusnya dia bisa menang," ujar Vincent mengajak ngobrol Brock ditengah keriuhan penonton yang lain.
"Karena celananya sudah kujampi-jampi, itu adalah celana pendek kesukaanku, butuh waktu agar aku bisa merelakan orang lain memakainya."
"Yah, semoga yang kau katakan itu benar Vincent, tetapi jangan terlalu berharap pada celananya, kita harus percaya pada kemampuan Danny."
__ADS_1
"Oh, lukamu bagaimana sekarang?"
"Oh? Sudah agak baikkan, meskipun aku harus mengabaikan mandi cantikku untuk beberapa hari ini," jawab Vincent sembari memegang bagian mata yang sudah cukup pulih dari cideranya itu.
"Mandi apamu? Maaf keriuhan ini membuatku susah mendengarmu." Omongan Vincent terasa samar-samar terdengar oleh Brock, memang keriuhan ini membuat siapapun yang berbicara harus mengeluarkan suaranya dengan ekstra.
"Lupakan Brock, aku juga sadar tidak seharusnya aku mengucapkan hal itu, lihat di sisi lain arena pertarungan sudah berlangsung seru, tapi mengapa Danny masih berdiam dan belum melakukan hal menarik ya?"
"Tidak semudah itu Fergu- eh Vincent, setiap petarung punya gayanya masing-masing, termasuk Danny, kita akan segera bisa menilai bagaimana kemampuannya saat ini."
Vincent adalah tipe orang yang spontan dan tidak banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, maka dari itu ia adalah orang yang cepat bosan bila melihat hal yang membosankan.
Sedangkan Brock sendiri tipe orang yang tenang dan suka menilai dengan nalar, hal itulah yang membuatnya menang dulu selama ia mengikuti kompetisi ini.
__ADS_1
***