
"Selain dari medannya yang tidak mulus, jalur tersebut sering dihindari oleh banyak petualang lain," ujar Bapak itu, namun ia belum menjelaskan lebih detail, Kibo benar-benar penasaran saat ini.
"Me-mengapa Pak?"
"Ada banyak kasus di mana petualang hilang saat melalui jalur kedua itu ...."
"Hilang? Maksud Bapak hilang benar-benar hilang?" Kibo ingin lebih memastikan.
Sang Bapak mengangguk. "Tidak diketahui apa penyebabnya, kemungkinan besar karena tersesat, atau bisa juga mungkin karena adanya hewan buas yang menerkam mereka."
"Maka dari itu para petualang sangat menghindari jalur kedua yang sedang saya jelaskan kali ini, di samping jalanan yang sulit dilalui di tambah pula dengan banyaknya laporan petualang hilang ketika berusaha melintasi jalur itu."
"Tidak adakah petualang yang selamat ketika melintasi jalur berbatu itu?" tanya Kibo, presentasi kemungkinan selamat sedang ia perhitungkan saat ini bila memang ia terpaksa melewati jalur kedua itu.
"Setahu saya, laporan kehilangan petualang lebih banyak dilaporkan dibanding dengan petualang yang berhasil dengan selamat melewati jalur kedua itu," jawab sang Bapak.
Mengingat jawaban dari bapak itu tidak menjawab keseluruhan rasa penasaran Kibo saat ini, ia hanya bisa menilai persentase kemungkinannya berhasilnya sebesar 30:70.
Kecil memang namun itu hanyalah pendapatnya sendiri, mengingat ketidakdetailan jawaban yang ia peroleh, dalam kondisi tertentu persentase ini bisa menurun drastis.
Kibo saat ini memikirkan hal yang tepat, yang tentu pula akan menjadi keputusannya untuk semua anggota organisasinya tersebut.
Apakah jalan pertama yang telah ia dengar itu lebih baik dibanding dengan jalan kedua?
Kini pilihan yang ada dihadapannya hanya ada dua, jalan pertama yang sudah pasti aman dan banyak dilalui para petualang untuk sampai ke dekat pusat kota kerajaan barat namun memiliki jangka waktu yang lebih panjang untuk sampai ke tempat itu, atau jalan kedua yang berbahaya dan merupakan jalan tercepat untuk mereka pergi ke sana namun tentu saja itu mempertaruhkan keselamatan mereka.
__ADS_1
Tentu saja dalam pikiran Kibo saat ini, ia lebih terfokus akan bagaimana cara agar ia dan kelompoknya itu bisa sampai dengan tepat waktu di tempat kompetisi itu, maka jalur jalan kedua adalah pilihan yang paling memungkinkan bagi mereka karena jalur itu memang memiliki jarak tempuh yang lebih pendek dibanding dengan jalur lain.
Namun di sisi lain, alih-alih terlalu memikirkan bagaimana cara agar mereka sampai ke tempat kompetisi dengan cepat dan tepat waktu, tidak akan bagus bila mereka hilang entah kemana, mungkin saja kemungkinannya hilang dari dunia ini.
Merujuk pada keputusan Kibo yang akan pilih itu, tentu dari setiap keputusan yang diambil, konsekuensi akan menjadi hasil dari pemilihan keputusan itu.
Bila Kibo memilih untuk jalan pertama yang aman, maka dipastikan ia tidak perlu khawatir akan keselamatan dirinya dan seluruh anggotanya itu, namun yang pasti bila memilih jalur pertama tentu tidak bisa menjamin mereka untuk sampai tepat waktu di kompetisi dekat kerajaan barat itu.
Jalan kedua bisa dipilih jika memang mereka benar-benar bertekad mau untuk pergi melalui jalur yang berbahaya itu sebagai tekad dan keinginan mereka untuk mengikuti rencana kompetisi awal kompetisi mereka itu.
Jadi di antara kedua pilihan itu Kibo tidak melihat adanya keberpihakan yang bagus, semuanya sama-sama seimbang dan membuatnya bingung dalam membuat sebuah keputusan.
Di samping tujuannya adalah untuk mengikuti kompetisi itu demk hal itu ia tidak bisa serta merta mengambil resiko yang tinggi, apalagi menyangkut nyawa banyak orang.
"Jadi, saya amat sarankan Tuan petualang semua tidak mengambil jalur jalan kedua itu, karena memang tingkat berbahaya yang tinggi. Saya khawatir bila Tuan-tuan semua mengalami sesuatu di tengah perjalanan nanti," ujar sang Bapak.
Ia sendiri sempat berpikir, mungkinkah memang rencana awalnya itu tidak bisa terwujud? Padahal ia dan Yizi yang merancangkan rencana ini dari awal.
Apakah harus berhenti di sini saja? Tidakkah meneruskan perjalanan hanya akan menambah risiko yang akan merugikan mereka semua? Berbagai pertanyaan muncul di kepala Kibo saat ini.
Tidak mungkin ia sampai harus kehilangan anggotanya, atau ada yang lebih buruk dari itu, dirinya dan semua anggotanya menghilang dan pada akhirnya alih-alih sampai ke kompetisi itu dengan tepat waktu, ia dan seluruh anggotanya akan kehilangan kesempatan untuk ikut dalam kompetisi dan sekaligus kesempatan untuk menemukan Yizi yang telah menghilang secara tiba-tiba.
Namun kesempatan ini hanya ada sekarang ini, jarang-jarang dirinya dan Yizi mengikuti kompetisi yang berada di tempat jauh, apa yang sebenarnya mereka kejar sampai harus benar-benar menempuh perjalanan jauh selain memang ingin menang kompetisi dan membuat markas baru bagi kelompok mereka? Apakah hal itu akan dilepaskan begitu saja, setelah semua perjalanan yang mereka lalui sejauh ini?
"Ukh ...."
__ADS_1
Rasa-rasanya Kibo tidak bisa mengambil keputusan ini, entah mengapa ia ingat akan Yizi yang selalu mengambil keputusan bagi kelompok mereka, dan sekarang setelah ia tidak ada di sini, pada akhirnya Kibo tahu bahwa mengambil keputusan tidak segampang membalik telapak tangan.
"Aku ... kita ...."
Sang Kakek Kepala Desa beserta Anaknya dan Bapak itu melihat kini pria kriting di depannya mulai meneteskan keringat, mukanya muram dan cemas, perkataannya terbata.
Meskipun ini kali pertama dirinya memutuskan hal untuk anggota kelompoknya, tetap saja perasaan bergantung pada orang lain sangat terasa dalam dirinya.
Kalau saja Yizi ada di sini ....
Puk ....
Tepukan pundak dari salah satu pria besar itu menyadarkan Kibo akan lamunan sementaranya itu, Kibo sempat terdiam untuk beberapa saat tadi.
"Tuan Kibo, jangan khawatir, kami akan mengikuti keputusan Tuan, seperti layaknya Tuan Yizi dulu ... apapun keputusan yang akan diambil kami akan menghormatinya," ujar pria besar itu padanya sambil tersenyum lembut, diikuti dengan senyuman lembut pria besar lain di sana.
Kini Kibo merasa tersadar, keputusan memang benar ada di tangannya, namun sepertinya gaya memimpin Yizi berbeda dengan dirinya.
Berbeda dengan Yizi yang selalu cepat dalam pengambilan keputusan yang menurutnya baik bagi seluruh anggota tanpa meminta pendapat dari anggota lain, Kibo lebih memilih untuk berpikir dan seringkali meminta pendapat dari anggota lain.
Saat inilah saat yang tepat untuk meminta pendapat kelompok yang lain. Ia sadar akan hal ini, ia sangat butuh untuk mendengar pendapat anggota lain.
Kibo menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya saat ini, rasanya lebih baik karena ia sadar bahwa ia tidak sendiri dalam hal ini masih ada teman-teman Alliance Fight's yang akan selalu bersamanya.
"Ba-bagaimana menurut kalian?"
__ADS_1