
Rumah besar itu nampak seperti rumah bangsawan dengan corak warna putih dominan. Ketika memasuki bagian dalamnya kesan pertama yang dibuat Danny adalah, ini adalah rumah terhebat yang pernah ia kunjungi!
Nampak tangga besar ada dihadapan mereka, dibagi menjadi dua arah tangga namun tetap menuju ke lantai dua. Danny dan Patricia bergegas mengikuti kakek Leith yang sudah berada cukup jauh menuju tangga ke atas.
Ketika di lantai dua, terbagi menjadi banyak ruangan, mulai dari berderetan kamar tidur yang tertutup, nampak seperti penginapan namun terkesan lebih pribadi dan lebih megah.
Ruangan yang lainnya tidak diketahui Danny maupun Patricia, lagipula baru pertama kali ini mereka melihat rumah semegah dan seluas ini.
Ketika sampai di ruangan, dimana jajaran pintu kamar yang berjumlah sekitar enam pintu, kakek Leith mulai berbicara pada Danny serta Patricia
"Hei, Danny... kau bisa memakai kamar manapun dari sini, begitupula dengan kau gadis muda..."
"Nama saya Patricia kek.." nampaknya si Patricia ini ingin disebut namanya langsung oleh Kakek Leith ini.
"Ya..ya terserah.. kalian punya waktu satu jam untuk memilih kamar kalian, menempatkan barang pribadi kalian dan juga menyiapkan diri kalian..."
"Kek... menyiapkan diri untuk apa?" tanya Danny penasaran
__ADS_1
"Untuk sarapan pagi tentunya...", jawab kakek itu sambil meninggalkan mereka berdua
"...."
"Kau mau tidur dimana Danny?" tanya Patricia
"Aku mau ambil bagian tengah dari deretan kamar ini..." jawab Danny sembari membuka pintu coklat dengan gagang kuning alumunium itu
"Aku juga ah..." timpal Patricia sembari melakukan hal yang sama seperti Danny
CLEK..
"Wow....."
Danny terkesan dengan kamar tidurnya, terkesan biasa saja dengan kamar tidur yang lain namun semua dinding dilapisi cat putih yang begitu indah, hal ini berbanding terbalik ketika kehidupannya di desa, ia hanya tinggal di sebuah gubuk dengan ruangan yang serba sederhana, hanya saja bambu yang dianyam itu tidak serta merta melindungi mereka dari dinginnya angin malam.
Danny melangkahkan kakinya ke dalam kamar itu, tidak banyak hal yang ada disana selain tempat tidur yang terbuat dari kayu dan kain berkualitas yang terlihat mahal, lemari besar yang siap menampung berbagai macam koleksi pakaian, ini sangat luar biasa pikir Danny
__ADS_1
Aura disekitar kamarpun terkesan hangat, nyaman sekali disini.
Danny sempat berpikir dengan cermat, dari pengalamannya dulu, tempat tinggal kakek sam, tidak semegah dan semewah ini. Hal tersebut membuat pertanyaan yang lumayan kentara pada diri Danny.
Berbeda sekali dengan tempat kakek Sam yang tersembunyi dibawah tanah, namun setelah dipikir-pikir juga tempat ini tersembunyi juga sih di rimbunnya pepohonan sekitar.
Danny mencoba kasur yang nampak tengah menggoda Danny untuk tidur diatasnya dan itu berhasil. Begitu nyamannya kasur ini, nampaknya lebih nyaman dibanding kasur-kasur yang pernah ia coba sebelumnya.
Danny mengambil waktu untuk meregangkan badannya, ia membuka perban putih yang selama ini menempel pada kepalanya, tidak terasa sakit lagi, ternyata memang benar Patricia seorang yang ahli menggunakan peralatan pendukung.
Apalagi setelah keputusannya untuk belajar sihir, apakah ini baik-baik saja? Danny terus memikirkannya.
Sebenarnya bukanlah hal yang buruk juga jikalau Patricia harus belajar ilmu sihir, itu juga pastinya berguna untuk membela diri kan? Tidak buruk.
Mungkin Danny harus sedikit menaruh kepercayaan pada Patricia, lagipula ia sudah mengganggap Danny menjadi rekannya sendiri.
Nah selanjutnya bagaimana ya?
__ADS_1