Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 36: Sang Kekuatan


__ADS_3

"Uhuk…Uhuk"


Tenggorokannya mulai terasa perih, raut mukanya mulai pucat.


"Haah…"


"Haaah…"


Disamping oksigen yang terus menipis, Danny juga sedikit kelelahan dan merasa pusing.


"Kapan ini akan berakhir…?" pikir Danny


Lima belas menit kemudian Tiba-tiba Danny melihat seberkas cahaya yang memancar dari atas, disitu ia bisa simpulkan bahwa Harimau itu telah keluar mendahului Danny.


Tanpa berpikir panjang, Danny mempercepat gerakannya itu, ia hampir tidak bisa menghirup oksigen saat itu. Ketika Danny sampai, ia melihat seberkas cahaya dengan keriuhan orang yang berada di atasnya.


Ia pun meloncat dengan tinggi hingga ia menemukan alas tanah untuk ia pijak.


Tap!


Akhirnya Danny bisa melihat suasana sekitar meskipun pandangan matanya menjadi kabur akibat kekurangan udara segar. Ia berusaha untuk bangun dan beranjak dari lubang tersebut.


"Uuuh…"


Setelah berada diatas, Danny bisa melihat suasana kota yang cukup ramai, suasananya ramai seperti di pusat kota timur yang pernah ia lihat.


Terlihat orang-orang disana berlarian menghindari sesuatu yang berbahaya. Namun Danny tidak melihat monster atau apapun yang aneh disana. Salah satu pria yang tengah berlari tiba-tiba menubruknya.


"Tuan… apa yang terjadi disini?" ujar Danny pelan


"!" Pria itu kaget melihat Danny.


"Lari sejauh mungkin, anak muda, Brock yang gila bertarung mulai mengamuk!"


"Brock? Gila bertarung?"


"Cepat larilah, atau kau akan dijadikan samsaknya!"


Pria itu lari dengan kencang meninggalkan Danny yang masih kebingungan akan hal itu.


--------------


Seorang Pria kekar berotot mengamuk di tengah kota, tinginya sekitar dua meter setengah, badannya besar dan penuh otot, raut mukanya manandakan ia masih berumur 35 tahunan, namun ia terlihat lebih tua karena dilihat dari luar, dirinya benar-benar menyeramkan. Rambut gondrong kumal menutupi kepalanya. Ia tidak memakai baju, terlihat semua baju tidak muat bagi ototnya yang besar itu, Ia memakai celana pendek berwarna coklat, bulu-bulu kakinya sungguh lebat.


Pria besar itu mengamuk, mengacak-ngacak seisi kota itu, para pedagang yang berada disana pasrah dengan dagangan yang telah dirusak pria itu, mereka lebih mengutamakan keselamatan dirinya.


Pria itu berteriak keras-keras seakan menantang siapapun yang ada disana untuk bertarung melawannya. Para penjaga yang ada kota itu ragu-ragu untuk menghentikan pria besar ini.


"Hahaha… kalian kroco-kroco kecil, apa tidak sayang nyawa?" Suara berat nan serak terdengar darinya.


Salah satu penjaga kota itu memperingatkan pria itu akan apa yang telah ia lakukan disana.


"Brock, sebaiknya kau hentikan ini!"


Pria itu disebut dengan nama 'Brock' oleh penjaga itu.


Brock spontan tertawa berat, tawanya itu seakan hanya bisa dilakukan olehnya. Kemudian mulai berbicara kepada sepuluh penjaga yang telah mengepungnya itu.

__ADS_1


"Seharusnya kalian tahu derajat kalian!"


"Panggilah aku Tuan Brock!"


"!"


Meskipun para penjaga itu ketakutan, mereka masih saja mengepungnya meskipun harus bergidik ngeri dan gemetaran. Brock menyadari hal itu dan mengatakan sesuatu pada mereka.


"Kalian tidak pantas berhadapan denganku…"


"Pulang saja mengadu pada ibu kalian…" ujar Brock dengan raut meremehkan mereka.


Para penjaga itu mulai serius dengan Brock, mereka mulai mengeluarkan pedang masing-masing dari sarungnya.


Sring!


Sring!


"…." Brock mengamati keadaan dilihatnya 10 pedang yang tajam tengah mengarah tepat mengitarinya.


"Kau bisa menyerah sekarang!" seru salah satu penjaga itu.


"Sebaiknya kalian bersiap…"


Huush!


"!"


Gerakan Brock benar-benar cepat, meskipun ia telah di kelilingi pedang sekalipun, ia tidak gentar. Salah satu prajurit yang di hampiri Brock tidak mampu melihat gerakan cepatnya.


Blam!


Mereka menyerang bersamaan, Brock terdiam.


BLAM!


Sebuah ledakan energi fisik besar muncul tiba-tiba, semua prajurit yang tadinya hendak menyerang Brock bersamaan, semuanya terlempar jauh dari tempat asalnya. Ada yang terjatuh di kios dagangan, di bangunan cafe, lubang galian, bahkan sampai tersangkut di pohon.


Energi fisik yang besar itu membuat para warga yang melarikan diri lebih histeris lagi.


"Kyaaaa, monster!"


"Selamatkan diri kalian!"


Riuh suara warga yang hendak melarikan diri membuat Brock puas dan menginginkan hal lebih untuk memuaskan keinginannya.


Ia mulai berteriak dengan keras.


"Tidak adakah yang akan menghentikanku?!"


"Tindakan kalian hanya akan membuatku merusak lebih banyak lagi!"


"Dimanakah seseorang yang dapat menghentikanku?!"


"Aku adalah yang terkuat di Kota Willhem ini!"


"Yang kuat akan berkuasa! Jika kalian tidak menghentikanku, aku tidak akan bertanggung jawab atas kerusakan kota ini!"

__ADS_1


"Hahaha!!"


Selepas Brock mengumandangkan pidatonya itu, ia tidak melihat penjaga lain yang berusaha menghentikannya. Ia menyeringai kegirangan seakan tidak ada yang akan menghentikannya sekarang.


Seorang gadis kecil terlihat juga berlari di persimpangan jalan ia terpisah dari ibunya, berusaha untuk berlari melarikan diri dengan cepat namun ia terjatuh.


"!"


"Ukh…" kaki gadis kecil itu lecet tergores tanah semen yang ada dibawahnya.


Brock melihat gadis kecil itu, sepertinya ia tertarik padanya.


"Hehe… ada anak kecil disana…" suaranya berat, serak-serak, terdengar menakutkan dan mengancam.


Pria besar kekar berotot berjalan ke arah gadis kecil itu, hentakan kakinya bahkan terasa oleh Danny yang berada sejauh 20 meter, pemandangan mengerikan itu terjadi di depan Danny. Ia hendak menolong gadis itu namun karena tubuhnya masih lemah karena kekurangan oksigen, Danny berusaha tetap berlari meskipun sempoyongan.


"Gawat! gadis itu dalam bahaya!" pikir Danny, langkahnya terasa berat, kepalanya benar-benar pusing, tak berapa lama ia berusaha berlari namun kemudian ia ambruk.


"…"


"Tubuhku, tidak kuat…."


---------------


Gadis kecil itu hanya bisa terdiam melihat seorang pria menakutkan yang menghampirinya.


"Tunggu!!"


Terdengar suara seperti seorang pemuda umur 30 tahunan, dengan rambut panjang, mata yang besar berwarna biru, memakai ikat kepala berwrna biru. Pakaiannya sederhana, ia memakai kaos putih dan celana coklat yang sedikit sobek, postur tubuhnya sekitar 180 cm. Seorang Pemuda berlari dengan cepat menghampiri gadis kecil itu mendahului Danny, melindunginya dibelakangnya.


"Apa yang kau inginkan Brock?" tanya pria itu seakan ia memang kenal dengan Brock.


"Hendrik, jangan menghalangiku, gadis kecil itu akan kubawa…"


"Kau bawa?"


"Aku punya rencana padanya…"


Mendengar perkataan itu, pikiran Hendrik mulai kemana-mana, ia tidak bisa memikirkan hal positif yang bisa Brock lakukan untuk gadis kecil itu.


"…"


"Aku tidak akan membiarkanmu membawa gadis kecil ini Brock…" ujar Hendrik dengan serius.


Brock adalah seorang pribadi yang keinginannya harus terwujud apapun yang terjadi.


"Hendrik, di kota ini tidak ada yang mampu menghentikanku. Prajurit, penjaga bahkan wali kota sendiripun, kota ini sudah berada di genggamanku…"


"Aku telah lama mencari orang yang mampu menghentikanku, namun tidak pernah kutemukan…"


"Kau adalah sahabatku Hendrik, kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri…"


Hendrik melihat wajah Brock yang terlihat kesal karena ia telah menghalangi keinginannya itu.


"Sebaiknya kau mundur dan serahkan gadis itu padaku…" ucap Brock sambil mengangkat tangan besarnya kedepan.


"…Atau…"

__ADS_1


Hendrik menghela nafas melihat kemarahan sahabatnya itu. Raut muka yang dibuat Brock benar-benar mengintimidasinya.


"Kau harus menanggung akibatnya…"


__ADS_2