
Disisi lain kemajuan Patricia membuahkan hasil, kini ia hampir melewati tahap kedua dari latihannya itu.
Dapat terlihat bahwa sihir angin miliknya sudah mulai terbentuk keluar dari sekitar pergelangan tangannya, liukan-liukan angin mulai nampak, ini seperti angin meliuk-liuk disekitar tubuhnya.
"Bagus Patricia! kini kau hanya perlu untuk melewati satu tahap terakhir saja," ujar Kakek Leith.
Patricia ikut senang mendengarnya, ia rasa latihannya berkembang dengat pesat, rasanya ia ingin pamer pada Danny, namun hal itu diurungkannya lagipula dirinya sendiripun belum menyelesaikan seluruh rangkaian latihan sihir itu.
***
Genap sudah satu bulan Danny beristirahat, dan kini dirinya sudah benar-benar pulih, lukanya sudah sembuh dan ia kini siap menjalani latihannya kembali.
Danny kini bisa merasakan kembali udara segar yang sudah lama ia tidak jumpai di kamarnya itu, ia senang bisa kembali berlatih.
Memperhatikan Patricia yang begitu serius latihan disana membuatnya merasa terpacu juga.
Kakek Leith mengajak Danny mengobrol sembari melihat Patricia berlatih, "Kek apakah kita akan kembali ke ruang bawah tanah?" tanya Danny.
"Ya, tapi disana kau hanya akan belajar mengontrol sihir pertahananmu Danny," ujar Kakek Leith, ia ingin agar sihir pertahanan Danny bisa lebih kuat agar bisa melindungi dirinya sendiri.
"Begitukah?" Kakek Leith kemudian mengajak Danny untuk pergi kembali ke ruang bawah tanah itu.
"Kini kau hanya perlu fokus untuk mengontrol sihir pertahananmu disini Danny."
"Untuk saat ini, fokuskan saja pada kekuatan bertahan sihirmu, apapun yang terjadi tetap fokus!" perintah Kakek Leith pada Danny.
"Aku tidak akan dulu untuk mengetesmu langsung menggunakan aura panas atau dingin, hal itu akan dilakukan setelah sihir pertahananmu cukup kuat Danny." ucap Kakek Leith
Danny mengerti, kini kembali ia harus melatih kefokusannya akan sihirnya itu, meskipun saat ini ia hanya menguasai dua macam sihir dasar namun ia harus bisa memanfaatkan itu untuk melindungi tubuhnya sendiri.
"Jangan lupa beristirahat saat tengah hari nanti," ujar Kakek Leith mengingatkan.
"Baiklah, kek." Danny kini siap seutuhnya, pintu telah ditutup, kembali ia harus diperhadapkan dengan usahanya sendiri demi mencapai hasil yang maksimal.
"Aku harus fokus!" kini Danny menutup matanya, memfokuskan pikirannya kepada sihir yang telah dikuasainya sebelumnya.
__ADS_1
Dikarenakan Danny tidak begitu menggeluti dunia sihir, maka hal ini cukup menyulitkan baginya, karena yang disukainya adalah teknik bertarung dan berpedang.
Meskipun begitu saat ini bukanlah waktu untuk pilih-pilih, melainkan ia sendiri harus fokus pada latihannya kali ini.
Pada posisi bersilanya, Danny mulai memfokuskan sihir anginnya ke seluruh tubuhnya, kini ia dapat merasakan seluruh tubuhnya sejuk dan rileks.
Dengan sihir airnya mungkin tidak dapat membantu banyak, namun pada saat pengetesan dengan di uji nyala hawa panas, maka sihir ini akan sangat membantu.
Danny pun ikut menciptakan semacam lapisan air yang tak kasat mata untuk membantu melindungi tubuhnya.
Dengan kombinasi dua sihir dasar ini membuat pertahanan fisik Danny mulai terbantu.
Sesi latihan telah berakhir, istirahat pun tiba, "Bagaimana latihanmu Danny?" tanya Patricia sambil menguyah sepotong roti.
"Huh?"
"Lumayan baik, tapi aku butuh waktu untuk bisa mempertahankan sihir pada tubuhku," jelas Danny, mereka bertiga beristirahat bersama di rumput halaman depan yang sejuk.
"Baru pertama kali kau bergabung di sini bersama kami, hahaha." Tawa dari Kakek Leith memecah suasana, Danny dan Patriciapun ikut tertawa.
***
Akhirnya latihan terus dilanjutkan, hari-hari telah berlalu, Danny mulai bisa mengontrol seni sihir bertahannya itu, bahkan dibeberapa kesempatan ia malah merasa kedinginan karena teknik sihirnya sendiri.
Pertahanan sihir pada tubuh Danny bertambah kuat, meskipun tidak terlihat secara mata telanjang, namun hal tersebut dirasakannya sendiri.
"Baiklah Danny, kini saatnya kau menjalani latihan menahan aura panas, apakah kau siap?"
"Baiklah Kek, saat ini saya siap!" ujar Danny dengan optimis.
Membutuhkan waktu dua puluh hari sampai Danny benar-benar siap, bukan saja saat ia akan berhadapan dengan ujian panas melainkan ia telah siap juga dengan ujian dingin.
Kini seperti biasanya, Danny kembali berdiam di dalam ruangan itu dengan tenang, hawa panas mulai menyeruak masuk namun Danny telah lebih siap daripada terakhir kali ia gagal.
"Aku pasti bisa!"
__ADS_1
Perlahan hawa panas kembali menyelimuti ruangan itu, Danny sengaja tidak mengambil istirahat- ia ingin agar latihannya maksimal maka dari itu ia memgambil waktu dua belas jam dalam sehari.
Mulanya Kakek Leith ragu dengan keputusan Danny, namun setelah diyakinkan akhirnya ia menyetujuinya.
Aura dingin dan dan partikel air muncul di sekitaran tubuh Danny, ini terlihat seperti titik-titik embun yang muncul dan menghilang secara cepat.
Efeknya tidak terasa langsung pada tubuhnya, jadi menggunakan teknik ini sepertinya langkah yang tepat.
Tengah hari telah tiba, namun Danny masih berkutat dengan latihannya, bahkan sampai pada lima jam pertamanya ia sama sekali tidak merasakan panas yang berarti.
Hawa panas sama sekali tidak menurun, itu bertambah-tambah panasnya, namun ruangan bawah tanah itu telah didesain sebegitu rupa agar dapat tahan.
Kakek Leith menyadari perkembangan pesat dari Danny, ia merasa Danny dapat mengontrol pertahanan tubuhnya dengan baik, dan itu adalah hal yang bagus, "Kau hebat Danny!"
Berjam-jam terus berlalu, hari sudah mulai petang, namun pertahanan sihir Danny masih kuat, meskipun pada menit-menit terakhir ia merasakan sedikit hangat pada tubuhnya setelah sesi latihannya selesai.
***
Pada malam harinya ketika dikamarnya, Danny melihat tubuhnya sendiri, ia senang akan perkembangannya itu dan lagi sekarang stamina fisik dan mentalnya sudah mumpuni sehingga ia tidak perlu takut lagi kehilangan kesadaran saat berlatih.
Beberapa hari berikutnya Danny terus berlatih dengan pola yang sama, itu dilakukan selama dua puluh lima hari, kemudian sesi pertahanan diri terhadap aura panas telah selesai, kini ia harus melanjutkan ke tahap selanjutnya.
***
Disisi lain Patricia masih bergumul dengan tahap terakhir dari rangkaian sihir angin itu, memang, karena tahap tersebut bertajuk 'Penyempurnaan' maka itu tidak serta merta dapat dilakukan secara cepat.
Ia mengalami kesulitan ketika harus memfokuskan dan memvisualisasikan secara bersamaaan, sehingga hal tersebut harus terus diulang-ulangnya.
Wujud penyempurnaan harus memisahkan antara fokus dan imajinasi penggunanya 50:50 jika hal itu dapat tercapai maka sihir tersebut menjadi sihir yang utuh.
Meskipun begitu namun Patricia sama sekali tidak kehilangan semangatnya, ia terus giat berlatih tanpa mempedulikan waktunya, ia benar-benar berusaha dengan keras.
Bagi seorang pemula seperti Patricia, ini merupakan hal yang bagus, dimana tekadnya yang kuat akan membantunya berproses lebih baik lagi.
***
__ADS_1