Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 432: Kenyataan


__ADS_3

Entah mengapa Freiss mengatakan hal ini membuat Danny terkejut dalam diam.


“Dari mana guru tahu soal ini?” Sontak Danny penasaran mengapa gurunya bisa tahu akan temannya itu.


“Dia tidak berbeda denganmu, dia mantan muridku,” jelas Freiss.


Mengetahui fakta ini membuat Danny tertegun, ia tidak tahu soal ini, Forhan tidak banyak bercerita soal pengalaman hidupnya, termasuk kenalannya.


Namun bukan itu yang Danny pikirkan, yang jadi pertanyaannya sekarang adalah kenapa....


‘Guru bisa tahu soal yang kupikirkan?’ batin Danny dalam hatinya, tidak bisa dipungkiri ia memang memikirkan ini, terlepas dari seberapa lama ia sudah menghabiskan waktu di sini, namun rasa penasaran yang ada padanya masih saja menghantuinya.


“Apa guru tahu sesuatu tentangnya?” tanya Danny dengan raut wajah yang penasaran tentunya.


Freiss terdiam, ia melihat bagaimana serius dan juga penasarannya anak muda yang ada di hadapannya ini.


Sekilas bisa terlihat bagaimana raut wajah Freiss berbicara ‘sepertinya Forhan begitu dekat dengannya’.


Danny masih menunggu jawaban dari gurunya ini, entah mengapa semakin lama menunggu perasaannya jadi semakin takut.


“Dia sudah tiada.”


“....”


Danny terdiam, tenggorokkannya tersekat dan ia tidak bisa mengatakan apapun.


‘Kenapa?’


Danny bertanya dalam batinnya sendiri, tidak percaya dengan apa yang sudah didengarnya.


Padahal Danny masih berharap Forhan hanya menghilang saja dan ia bisa bertemu kembali dengannya.


Namun ternyata tidak seperti yang ia pikirkan.


Freiss bisa melihat ekspresi yang tidak percaya, ia tidak menambahkan penjelasan apapun lagi untuk membuat Danny percaya akan apa yang telah dikatakannya tadi.


Ini berarti ia belum tahu soal ini, Freiss memberi waktu untuk Danny bisa memproses kenyataan yang terjadi ini.


Danny terdiam dan masih menunjukkan raut wajah tidak percaya dan berharap gurunya itu akan mengatakan bahwa ini hanya lelucon saja.


“Tidak mungkin... Forhan....” Di saat yang bersamaan Danny tahu harapannya itu tidak mungkin terjadi, gurunya itu terus menatapnya dengan pandangan penuh arti.


“Dia pria yang baik, aku yakin dia sudah tenang di alam sana.” Freiss sedikit tersenyum, bukan senyum bahagia melainkan senyum yang berusaha untuk menerima kenyataan apa adanya juga.


“Pasti... yang membunuhnya iblis bukan?!” teriak Danny sembari mengempalkan kedua tangannya, emosinya memuncak sampai ada hempasan angin kuat yang muncul dari dirinya.


Aura kekuatan angin yang kuat ini bahkan sampai kembali membuat tiga teman Danny jadi bersiaga kembali.

__ADS_1


“Baiklah ini terlalu cepat, istirahat kita sudah selesai.” Vincent dengan cepat bersiaga kembali, entah mengapa kini instingnya yang tajam mengatakan hal ini.


Memang latihan mereka bertiga sudah berakhir, namun kewaspadaan dan ilmu yang mereka pelajari harus tetap diterapkan di manapun dan kapanpun. Semuanya ini demi tekad mereka yang mengiringi perjalanan teman mereka Danny.


Brock dan Patricia pun mengikuti apa yang diakatakan oleh Vincent, tepat setelah beberapa saat mereka punya waktu santai dan kini malah situasi kembali menjadi tegang lagi.


‘Ya, pasti begitu! Begitulah Forhan meninggalkan pesan di tanah!”


Danny begitu yakin ini adalah ulah iblis yang merenggut temannya sendiri, ia sudah melihat buktinya dengan mata kepalanya sendiri.


“Kau yang membunuhnya Danny.”


Perkataan Freiss bak petir di siang bolong, membuat Danny tersentak dan merasakan hawa dingin yang merasuk ke dalam tubuhnya.


“... Apa?” Seketika itu juga aura kekuatan Danny yang kuat itu perlahan mulai menghilang.


Freiss tidak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya. Pemuda ini harus tahu akan kenyataan ini.


“Kami ras demi human yang sudah terikat hubungan akan bisa tahu kondisi masing-masing.” Freiss menjelaskan secara sederhana.


‘Hubungan... sebagai murid....’ Danny bisa melihat adanya garis besar di sini, ia baru tahu soal hal ini.


Danny terdiam, tahu apa yang ditakutkannya terjadi, dan lebih dari apa yang bisa dibayangkannya.


‘Aku... membunuh temanku sendiri....’ Perasaan Danny bercampur aduk, ia masih sempat-sempatnya berharap apa yang didengarnya ini tidak benar-benar terjadi.


‘Aku sudah banyak kehilangan kesadaran karena kekuatan ini... tapi mengapa malah seperti ini....?’ Danny sudah benar-benar percaya dengan kekuatan batu permata mulia, ia percaya bisa mengatasi masalah dengan kekuatan ini.


Tapi kekuatan yang ada padanya sudah merenggut nyawa temannya sendiri....


‘Kekuatan untuk mengalahkan iblis bagaimana? Sial!’


Harapan dan tekad Danny untuk menyelesaikan misi dari Sophia


jadi pudar, dengan kekuatan yang susah payah dicarinya malah mengakibatkan hal buruk ini terjadi.


‘Kenapa aku bisa percaya pada kekuatan ini? Kenapa aku begitu mengandalkannya sampai-sampai membuat temanku terbunuh?!’


Batin Danny mulai ramai dengan apa yang ada dalam hatinya, ia tahu kekuatan batu permata mulia ternyata tidak seperti yang ia pikirkan.


Kekuatan yang besar ini malah merenggut apa yang ingin ia pertahankan, dan lebih parahnya lagi Danny memberi kebebasan padanya.


‘Sial! Sial!’


Freiss merasakan aura sihir Danny jadi tidak stabil, jikalau tetap seperti ini keadaan emosinya bisa memicu kekuatan batu permata mulia, sama seperti sebelumnya.


“Untuk apa ke-“

__ADS_1


“Danny.” Freiss memotong perkataan lemah yang terdengar dari Danny.


Sebelum Dany terus menyalahkan dirinya sendiri, ada fakta lain yang harus ia ketahui sekarang ini.


“Aku tidak tahu apapun selain ini, tapi kematian Forhan bukanlah sepenuhnya salahmu.”


“....” Danny kembali mendengarkan hal yang cukup mengejutkan.


Freiss tidak bisa menutupi fakta ini dari Danny, karena memang sebelumnya ia sudah melihat bagaimana kondisi Danny dari dimensi sihir yang dilihatnya.


Danny menginginkan jawaban, maka inilah jawaban yang dicarinya itu.


“Maksud guru?”


“Kau ingat alasan Forhan menyerangmu?”


“... Dia ingin merebut kekuatan batu permata mulia.... alasan


yang sangat masuk akal.” Danny mengatakan sejujurnya.


“Dan kau bertarung dengannya sampai akhir bukan?”


Danny mengangguk pelan. “Ya.”


“Iblislah dalang dibalik semua ini.” Freiss akhirnya mengatakannya juga.


“... Forhan... dikendalikan....?” Danny mengatakan apa terbesit di pikirannya saat itu juga.


“Benar, Forhan memang sudah kalah olehmu, dan satu-satunya petunjuk yang ia tinggalkan adalah ‘iblis’.”


“Kau sudah menguras kekuatan temanmu sendiri sampai akhir, dan itulah sebabnya dia mati.”


“Maaf aku mengatakan hal yang buruk padamu di awal, tapi itulah kenyataannya.”


“Iblis memang turut andil dalam kejadian ini, tapi Forhan tidak akan mati kalau kau tidak menguras kekuatannya sampai kering.” Nada bicara Freiss mulai menjadi serius.


“....” Danny terdiam, ia sempat terpikir bisa membela diri tadi, karena memang ada campur tangan iblis di kejadian ini.


Namun fakta bahwa semuanya bisa berakhir berbeda tentu saja bisa terjadi, Danny bisa mengerti apa yang dikatakan oleh gurunya ini.


Secara tidak langsung ia sudah terjebak oleh rencana iblis, dan perubahan Forhan juga ternyata karena hal itu.


‘Jika saja aku bisa memperbaiki kesalahanku saaat itu ....’


Danny kini terpikir andai saja ia tidak perlu melawan Forhan dan lari saja dari padanya, tentu rencana iblis itu akan gagal dan temannya tidak perlu meninggalkan dunia ini.


“Aku ini... bodoh sekali....” Danny tertunduk, badannya gemetar ketika ia mengatakan hal ini.

__ADS_1


__ADS_2