
Tuan Housen pun akhirnya turun dari kendali kemudinya dan berjalan perlahan, yang jejak kakinya terlihat di atas pasir dengan jelas. "Kita sudah sampai."
Tuan Housen yang tidak mendengar cerita lebih lanjut mengenai perhadapan Vincent dengan iblis tidak mengetahui dengan jelas alasan mengapa dia tersungkur sambil menutup wajahnya tepat saat mereka tiba di sini, reaksi yang membuat pertanyaan di benaknya saat ini.
"Ada apa dengannya?"
Danny mendengar pertanyaan Tuan Housen, ia berbalik untuk melihat kembali bagaimana keadaan Vincent saat ini, dan ternyata masih sama malahan sepertinya ia lebih merasa ketakutan karena memikirkan kejadian baru-baru ini.
"Dia merasa takut karena sebelumnya kemampuan iblis yang dilawannya itu merubah tempat awalnya ke tempat seperti ini dan ia harus bertarung dengannya di sini." Danny menjelaskan dengan singkat, yang memang inti dari segala inti yang didengarnya dari cerita Vincent sebelumnya.
Tuan Housen memegang dagunya yang sedikit ada uban putih di sana, seakan berpikir akan sesuatu hal. "Aku tidak menyadari Vincent akan seperti ini, namun sebaiknya dia harus bisa segera membaik, karena kita akan berlatih di sini."
Tuan Housen memaklumi rasa takut yang dirasakan pemuda itu saat ini namun beradaptasi dengan cepat hanyalah satu-satunya pilihannya saat ini.
Di sisi lain Danny masih penasaran dengan apa yang dipikirkannya sebelumnya, alasan yang tidak jelas mengapa mereka bisa sampai ke tempat ini dengan cepat.
"Tuan Housen, bagaimana mungkin kita bisa berpindah tempat dari sebelumnya bukit tinggi lalu sekarang tepi pantai? Apakah bukit tinggi tadi hanyalah tempat ilusi?"
"Hm? Tidak, sebelumnya memang benar kita berjalan naik ke atas bukit."
Jawaban yang singkat itu tidak begitu membantu Danny untuk memahami apa yang benar-benar terjadi sebelumnya, malahan ia malah makin penasaran dengan apa yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat itu sebelumnya jika memang itu bukanlah ilusi.
Danny mengambil waktu untuk berpikir, sepertinya Tuan Housen tidak begitu menjelaskannya padanya karena ingin agar dirinya itu mengetahui sendiri bagaimana caranya mereka bisa sampai ke tempat ini.
Jika saja mereka berpindah tempat secepat itu, Danny pikir itu adalah sihir teleportasi karena memang itu adalah sihir umum ketika seorang atau beberapa orang berpindah tempat dengan cepat, namun sayangnya ia tidak bisa juga menduga bahwa ini adalah yang terjadi tadi.
Masalahnya ada pada bagaimana cara mereka pergi ke tempat ini dengan cepat, Danny tahu benar sihir teleportasi adalah sihir yang mengeluarkan lingkaran sihir biru setiap kali digunakan dan itu pun tidak langsung berpindah tempat, butuh waktu sampai lingkaran sihir biru itu sempurna dan memancarkan sinar yang terang, namun saat sebelumnya Danny sama sekali tidak melihat hal ini.
__ADS_1
Jadi menurutnya apa yang tadi terjadi bukanlah sihir teleportasi, karena begitu cepat dan sampai-sampai ia tidak melihat adanya lingkaran sihir biru sebelumnya.
Jadi sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai merrea bisa berpindah tempat dengan cepat jika itu bukanlah sihir teleportasi?
"Hmmmmm ...." Danny mulai serius memikirkan ini, jadinya ia mencari hal lain yang bisa menjadi spekulasinya di tengah kebingungan karena Tuan Housen tidak langsung memberitahukan apa yang terjadi sebelumnya.
Ia meletakkan tangannya di dagu sembari mengarahkan pandangannya ke atas, cara klasik untuk pose seseorang yang tengah berpikir.
Hm, jika begini cara mainnya, kejadian perpindahan cepat ini pasti adalah sebuah kemampuan unik yang hanya Tuan Housen yang memilikinya, bukankah bisa jadi seperti itu?
Atau mungkin ini ada hubungannya dengan kekuatan yang saat ini harus kudapatkan? Batu permata mulia? Dan jika dihubungkan, saat ini Tuan Housen memegang batu permata mulia kecepatan.
Jika saja tadi perpindahan tempat secara tiba-tiba itu terjadi dengan cepat, mungkinkah bisa begitu?
"Kecepatan," gumam Danny, ia masih belum yakin maka dari itu ia mengatakannya pelan.
"Apa?" Danny tidak menyangka dugaan yang ia katakan pelan tadi malah jadi jawaban yang benar dalam menanggapi apa yang telah terjadi beberapa saat lalu itu.
Tuan Housen mengorek sesuatu dari setelan pakaian yang berlapis-lapis itu, dan mengeluarkan batu yang bercahaya kuning terang, yang tidak lain tidak bukan adalah batu yang dicari Danny dalam perjalanannya kali ini.
"Ini, adalah alasan kita bisa sampai ke tepi pantai ini dengan cepat, aku menggunakan kekuatan batu permata mulia kecepatan." Penjelasan singkat akhirnya dikatakan oleh pak tua itu, yang akhirnya Danny bisa sedikit mengerti mengenai hal ini.
Patricia yang berada di sebelah Danny tidak begitu paham akan situasi saat ini lagipula tadinya ia merasa kelelahan karena menggunakan kemampuannya dan tidak begitu memerhatikan situasi sekitar sepanjang perjalanan naik ke bukit sebelumnya, dan hingga saat ini kelelahan masih tetap dirasakannya.
"Kecepatan ...." Danny tidak menyangka kekuatan batu permata mulia kecepatan ini benar-benar tidak dikira olehnya, bahkan ia sampai tidak menyadari seberapa cepat kekuatan itu memindahkan kereta ini beserta isinya dari bukit ke area tepi pantai seperti ini.
"Mirip seperti sihir teleportasi bukan?" Tuan Housen nampak tertarik untuk membicarakan tentang kekuatan batu permata ini sekarang.
__ADS_1
"Ahaha sebelumnya saya kira memang Tuan menggunakan sihir teleportasi tadi." Danny sebenarnya masih tidak menyangka bahwa ternyata kecepatan lah yang membawa mereka ke tempat baru dengan instan seperti ini.
Tuan Housen mengarahkan tangan kanannya yang tengah memegang batu permata mulia kecepatan yang bersinar warna kuning itu.
Indah, begitulah setiap fisik yang terlihat dari batu permata mulia ini, yang memang batu itu bercahaya dan memancarkan kekuatan yang besar pula secara bersamaan, melihat batu yang tidak biasa seperti ini membuat siapapun tertarik untuk mendekati bahkan memilikinya sekalipun.
"Kita berpindah dari area bukit daerah selatan sebelumnya ke sebuah pulau kecil kosong yang memang tempatku tinggal selama ini."
"Tuan tinggal di pulau kosong?" Danny heran mendengar hal ini mengapa pula seorang pemegang batu permata mulia harus hidup sendirian di pulau kosong seperti ini?
"Ya, menurutku belum lama aku tinggal di sini, namun sepertinya pengertian tidak lama menurutku akan berbeda dengan tidak lama menurutmu."
Danny seketika itu juga bisa paham mengapa Tuan Housen berbicara seperti itu padanya, jadinya ia mengerti kenyataan bahwa dalam pandangan manusia sepertinya Tuan Housen sudah lama tinggal di pulau kecil kosong ini.
"Apakah itu karena alasan yang sama?"
"Tentu Danny, dan karena aku mencintai ketenangan, jadi selama aku bisa merasa tenang di tempat indah seperti ini, setelah penat berkeliling berdagang aku pergi ke mari." Alasan yang jelas diutarakan oleh pak tua itu, ternyata ia memiliki tempat tersembunyi yang tidak diketahui banyak orang di pulau kecil ini.
"Lalu mengapa Tuan membawa kami naik ke puncak bukit sebelumnya? Mengapa tidak langsung saja pergi ke mari dengan cepat?" Danny penasaran mengenai hal ini, mengapa pula mereka harus pergi ke atas bukit dan menghabiskan beberapa waktu sedangkan tujuan mereka bukanlah puncak bukit itu?
"Alasanku sama seperti sebelumnya." Tuan Housen menjawabnya dengan pendek, ternyata ia juga lebih waspada mengenai keberadaan iblis dan memutuskan untuk mengulur waktu untuk memperhatikan keadaan sekitar dahulu sebelum benar-benar menggunakan kekuatan batu permata mulia untuk memindahkan mereka ke tempat yang benar-benar mereka tuju, tempat ini.
Tuan Housen melihat dengan seksama, terutama pada gadis yang saat ini terlihat terkantuk-kantuk itu, dan lagi seorang pria yang tidak sengaja mengingat kejadian mengerikan yang menimpanya itu, sepertinya bukan keputusan yang baik jika ia memutuskan untuk melatih mereka saat ini juga, ia mengantongi kembali batu permata itu dan sedikit mengubah rencana awalnya itu.
"Begini saja, naik saja ke kereta lagi, kita akan pergi ke rumahku, memang tidak begitu besar namun kuharap kalian bisa nyaman di sana, lokasinya di tengah pulau tidak jauh dari sini, kalian beristirahatlah satu malam di sana."
Tuan Housen berbalik kembali dan naik lagi ke kemudinya, sedang Brock membantu Vincent untuk berdiri dan naik kembali ke kereta barang itu, begitupula dengan Danny dan Patricia, mereka berempat naik kembali ke kereta dagang untuk singgah di rumah Tuan Housen di pulau kosong ini.
__ADS_1