Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 76: Kehidupan Terbelenggu (5)


__ADS_3

"Sikapnya benar-benar tidak bisa di tebak, sebaiknya kau berhati-hati," bisik Brock.


Danny masih belum paham dengan apa yang dimaksud oleh Brock tentang Vincent, "Hei, mengapa kalian bisik-bisik di sana? Apa kalian sedang bergosip?"


"Hah? Kau salah Vincent, hari-hari ini membicarakan tentang gosip adalah sia-sia belaka," ujar Brock.


"Hmmm, baiklah kalau begitu. Hei apa kalian lapar?"


Danny dan Brock mengangguk bersamaan, "Sama kawan, aku juga ...." ucap Vincent sembari memegang perutnya.


"Kukira kau akan memberi kami makanan- haaah." Lagi-lagi Brock menghela nafas.


"Hahaha, tenang saja Brock, beberapa saat lagi jam makan kok."


Danny masih belum mengerti, "Jam makan?"


"Oh, kau belum tahu?"


"Vincent, mana mungkin Danny tahu, dia kan baru!"


"Oh, hahaha kau benar, jadi begini Danny, setiap tiga kali sehari kita akan di beri makan gratis ...."


"Makan? Kita tidak sengsara di sini?"


"Astaga Danny jauhkan dari pikiranmu tentang hal buruk dari tempat ini. Seperti yang telah kukatakan pasti ada hal baik," ujar Brock.


"Oh, hahaha maaf."


Mereka melanjutkan pembicaraan, sampai pada akhirnya jam makan pagi pun tiba.

__ADS_1


***


TEEET ...


TEEEET ...


"Tunggu Brock mengapa bunyi alarm kedua rasanya lebih panjang dari yang pertama?"


"Bodo amat Vincent, hei Danny ayo kita pergi ke ruang makan ...." Mereka berdua dengan segera meninggalkan sel mereka.


"Hei kalian tidak mengajakku?"


Dengan ditandainya bunyi alarm, semua orang yang berada di sel ini keluar secara tertib, kebanyakan dari mereka bertubuh besar, bertato dan secara kasarnya mereka menakutkan dari luar.


"Oh, di sini begitu tertib,"


"Sebaiknya kau ikut jaga sikap Danny, terkadang orang-orang di sini sikapnya sulit ditebak," bisik Vincent


"Rasanya aku pernah mendengar kata-kata itu," gumam Danny.


***


Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan luas, dimana ada meja dan kursi yang banyak, mirip seperti kantin di sekolah-sekolah, namun ini begitu luas dan besar.


Makanan telah tersedia di mejanya, masing-masing, orang-orang dengan tertib mengambil tempat duduknya masing-masing, sepertinya memang tempat duduknya acak dan tidak ditentukan.


"Hei teman sebelah sana sepertinya kosong," ujar Brock menunjuk ke salah satu tempat di mana tiga orang cukup untuk duduk di sana.


Mereka bertiga akhirnya bergegas untuk mencapai tempat duduk itu, "Maaaf, tempat ini sudah ku tempati."

__ADS_1


Terlihat seorang pria, lebih besar dari Brock, bahkan tiga tempat kursi itu rasanya kurang muat baginya, "Hei! kami yang menemukannya lebih dulu." Vincent berusaha untuk beargumen dengan pria besar itu.


"Vincent, sudahlah kita cari tempat baru saja," ujar Brock sembari memegang pundak temannya itu dengan tujuan agar ia bisa mengalah saja.


"Hah?! Tunggu Brock, ini kan tempat kita, masa kita akan pergi dari sini?"


"Huh? Kau pria aneh,sudah mukamu berantakan, bajumu compang-camping apakah kau seorang gembel? Hahaha ...."


Vincent tidak serta merta menerima ledekan itu bagi dirinya, "Oh? Bajuku memang beda dari yang lain, ini adalah Styleku sebagai pria!"


"Pria? Mungkin lebih tepatnya Pria hancur-hancuran," ujar pria itu, ejekannya terasa begitu pedas.


BRAK!


Tak ada angin, tak ada hujan Vincent menggebarak meja makan itu, imbasnya seluruh makanan itu ikut terlempar sedikit ke atas, orang-orang yang tengah makan dibuat kaget olehnya, bahkan ada yang makanannya tumpah sampai ke muka dan bajunya.


"Hei, Tuan besar bisakah kau menjaga mulutmu? Mulutmu harimaumu tahu!"


"Hah? Di mulutku sama sekali tidak ada harimau, kau tidak jelas dalam berbicara."


"Beginilah, orang yang selalu menilai dari luar, bahkan tidak paham dengan perumpamaan! Kau belajar bahasa Indonesia tidak?!"


"Hah?! Aku bahkan tidak tahu bahasa apa itu! Untuk apa aku mempelajarinya?!"


"...."


Danny dan Brock hanya bisa terdiam mendengarkan ocehan Vincent dan Pria besar itu, meskipun pembicaraan awal mereka akhinya melenceng kemana-mana.


SYUUUT ....

__ADS_1


__ADS_2