
Perjalanan kelompok mereka harus terhenti karena adanya wanita misterius yang menghalangi jalan mereka.
Wanita berjubah hitam pekat yang menutupi seluruh badannya itu, tengah berdiri di area hutan itu, ia tengah berdiri tanpa melakukan hal apapun yang berarti.
Kibo yang melihat wanita misterius itu juga penasaran mengapa ada seorang wanita di tempat seperti ini? Tempat dimana tidak ada seorang pun yang ingin melaluinya dan juga tidak ada orang lain seorang wanita itu.
Kibo turun dari kudanya, ia ingin mengetahui lebih lanjut tentang wanita misterius itu, memastikan bahwa yang ada dihadapannya itu adalah manusia atau bukan.
Para anggota yang lain menyadari apa yang dilakukan oleh Kibo.
"Tu-tuan ...."
Kibo mengangkat tangan kanannya sedikit sebagai tanda bahwa mereka tidak perlu khawatir.
Kibo mulai mendekati wanita misterius itu, perlahan namun pasti ... wanita itu memalingkan wajahnya daripadanya.
"Mengapa wanita sepertimu ada di tempat seperti ini?" tanya Kibo lugas dan tegas langsung mengarah pada hal yang ingin ia tanyakan, lagipula pembicaraan panjang hanya akan menyita lebih banyak waktu mereka.
Wanita itu masih terdiam, padahal ia tadi mengatakan sesuatu, namun sekarang entah mengapa ia mengarahkan pandangannya ke bawah.
"Apa anda tersesat?"
__ADS_1
Kibo masih belum memahami mengapa ada orang di sini padahal jelas-jelas jalanan ini sama sekali tidak dilewati oleh petualang apalagi oleh orang biasa.
Wanita itu masih terdiam, ini benar-benar menyita waktu mereka, namun di sisi lain mereka tidak dapat mengabaikan seorang wanita yang sendirian di tempat ini.
"Tuan, kita tidak punya banyak waktu," ujar salah satu dari anggota kelompok, tidak perlu diberitahu pun Kibo sudah tahu akan hal ini.
Wanita itu kemudian mengatakan sesuatu pada para petualang itu.
"Kalian mau kemana?"
"Kami akan pergi ke dekat pusat kerajaan barat," jawab Kibo pendek.
Seorang wanita muda yang rambutnya tersembunyi di jubah hitamnya itu. Warna matanya merah tua namun tetap terlihat menyala di kegelapan, sebuah warna mata yang jarang ditemukan pada orang-orang pada umumnya.
Kibo sempat sedikit kaget karena melihatnya, ia seakan kini melihat seorang perempuan menyeramkan dengan mata merahnya itu, namun pada akhirnya ia sadar bahwa itu hanyalah perasaannya saja.
Selain warna matanya yang memcolok, tidak ada lagi perbedaan yang mendasar mengenai wanita misterius yang dijumpai mereka itu, namun tetap saja perasaan Kibo agak aneh saat bertemu dengannya.
"Namamu siapa? Darimana kau berasal?" tanya Kibo pada wanita itu.
"Nama saya Quin, saya tinggal di dekat kerajaan selatan, saat ini saya sedang dalam perjalanan pulang dari kerajaan barat," ujar perempuan itu.
__ADS_1
"Mengapa kau mengambil jalan ini? Tidakkah ada jalan lain yang lebih baik?" tanya Kibo, setidaknya ia ingin mengetahui mengapa wanita itu mengambil jalur yang kebanyakan orang tidak mau melewatinya.
"Alasan saya mengambil jalan ini sama persis dengan alasan Tuan-tuan sekalian," jawab perempuan itu.
Kibo bisa mengerti apa yang dimaksudkannya itu, ternyata perempuan ini juga sepertinya tengah terburu-buru sehingga mengambil jalan tercepat yang ada, pada akhirnya karena alasan yang sama akhirnya mereka bisa bertemu satu sama lain.
"Tidakkah kau membawa seorang rekan?" Kibo malah saat ini terbawa untuk terus menginterograsi perempuan asing itu padahal sebenarnya ia sedang buru-buru, para anggota lain tidak berani untuk menganggu pembicaraan Kibo dan wanita asing ini.
Perempuan bernama Quin itu menggelengkan kepalanya, lalu ia membeberkan bahwa memang dirinya tengah mengadakan perjalanan seorang diri, dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan lagi mengatakan pada mereka tidak perlu lagi merasa khawatir padanya.
Setelah diyakinkan pada akhirnya Kibo tidak mempunyai pilihan lain selain hanya berpapasan dengan Quin, tujuan mereka berbeda dan Kelompok Alliance Fight's sama sekali tidak bisa menawarkan bantuan padanya.
"Kuharap kau akan segera sampai di tujuanmu segera Quin," ujar Kibo, lalu ia kembali menaiki kuda dan segera bersiap kembali melanjutkan perjalanannya.
Quin juga tidak keberatan akan hal itu, lalu ia pun ditinggal pergi oleh Kelompok Alliance Fight's, entah mengapa raut mukanya terlihat kesal saat ini, mungkinkah dia marah?
"Sial! Kalau saja mereka tidak sebanyak itu pasti aku sudah bisa menghabisi mereka!" gerutu Quin, ia nampak kesal karena suatu hal dan ternyata hal ini yang mengesalkan dirinya itu.
"Dari aura mereka saja pun terasa kuat, meskipun aku bisa mengalahkan mereka, pasti akan itu sedikit merepotkan dan aku tidak suka hal yang merepotkan ... haaah ... padahal sudah lama aku tidak mendapat mangsa di sini." Lagi-lagi Quin terus mengatakan hal tersebut, ternyata dia bukanlah seorang petualang yang akan pergi ke daerah selatan.
"Apa yang sedang dilakukan oleh Guru Victoria saat ini ya?"
__ADS_1