Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 525: Pilihan Lain


__ADS_3

Nada bergema penuh kekuatan ini benar-benar menganggu, tapi apa daya sudah seperti itu kekuatannya.


Sebuah alasan klise yang sering didengarnya. Apa mungkin ras iblis punya standar seperti ini?


Danny berusaha mengerti, mungkin saja apa yang dikatakannya itu memang benar.


Tidak heran jika ras iblis menjunjung kehormatan seperti ini.


Karena pasti akan memalukan apabila raja iblis mengakhiri lawannya dengan begitu saja.


Tentulah tidak mencerminkan pemimpin ras itu sendiri.


Danny sedikit tahu tentang mereka. Mereka suka melihat lawannya menderita.


Jadi mengapa mereka mengabaikan kepuasan yang amat penting itu? Tentulah mereka tidak akan melakukannya.


Apalagi ketika berhadapan dengan seorang yang jadi targetnya, seorang pengganggu yang menghalangi rencananya selama ini.


Apa sang raja itu pikir para bawahannya bisa menjalankan tugas ini?


Karena jika begitu tidak mungkin ia sekarang ada di sini.


'Aku tidak sendiri.' Danny sadar keberadaannya di sini adalah karena rekan-rekannya juga.


Tidak mungkin ia sampai di tahap ini tanpa rekan-rekannya.


Mengapa sang raja sendiri turun tangan? Bukankah dia bisa saja mengutus bawahannya yang lain?


Mengapa repot-repot datang hanya untuk bertemu dengan manusia sepertinya?


Banyak pertanyaan dalam benak Danny, namun pada akhirnya tidak mungkin ia menanyakannya langsung.


Pasalnya mana mungkin sang raja sendiri akan menjawab pertanyaannya bagaikan seorang rekan?


Lagipula tujuannya datang ke sini hanya untuk menghabisinya bukan?


Menyingkirkan siapapun yang berani menghalangi jalannya?


Danny melihat sisi positifnya, yakni ia tidak perlu susah-susah mencari dalang sebenarnya dari penyerangan ini, toh pelakunya ada di hadapannya.


Danny menguatkan kekuatan sihirnya, bersamaan dengan itu ia melihat Archifer berjalan perlahan ke arahnya.


"Banggalah! Hidupmu ada tangan raja iblis sendiri!" Archifer mengangkat kedua tangannya, dan Danny jadi terbayang bagaimana ekspresi yang mungkin saja muncul padanya.


Apalagi kalau bukan ekspresi kesombongan?


Danny menyiapkan kuda-kudanya, sementara itu tanpa disadari tubuhnya sedikit bergetar.

__ADS_1


HUSH!


'CEPAT!'


BUAK!


KRAK!


Archifer mendaratkan pukulan tepat ke perut Danny, membuat Danny terhempas ke belakang dan menghancurkan dimensi alam buatan Cecilia.


SSSRRRRR!


"HAH!" Seketika itu juga Danny sadar ia sedang terhempas diantara bangunan dengan hujan deras, sungguh aneh sekali!


'Kenapa ada di sini!?' Danny tidak mengerti, ia terhempas begitu kencang seraya melihat sekali lagi lingkungan sekitarnya.


Dan sama sekali tidak ada yang berubah.


DUAAR!


KRRTTT.


Danny menghantam sebuah rumah sampai hancur sehancur-hancurnya. Itulah yang menghentikannya terhempas.


"Ukh...." Entah mengapa Danny bisa merasakan puing-puing bangunan yang menindih padanya.


Danny sadar memang ia berpindah tempat lagi, atau lebih tepatnya berpindah dimensi, tepat setelah menerima serangan sang raja iblis.


Danny menyingkirkan puing bangunan dengan cepat dan kemudian melangkah keluar.


SRRRRR....


Awan kelabu dengan hujan deras di tengah kota antah berantah, sejauh mata memandang Danny baru pertama kali melihat tempat ini.


Yang semakin menguatkan bahwa ia kembali berpindah dimensi.


Tapi bagaimana bisa? Bukankah dimensi alam Cecilia seharusnya menghilang dan membuat mereka kembali ke dunia nyata?


Mengapa malah sebaliknya? Malah kembali berpindah dimensi?


Danny menguatkan kekuatannya, ia masih bisa merasakan kekuatan gelap yang sangat besar.


Yang itu berarti sang raja iblis juga ada di tempat ini.


'Apa mungkin....?' Mungkinkah sang raja iblis sendiri yang mengubah dimensi?


Jika begitu, kenapa?

__ADS_1


Bukankah dia tidak punya urusan dengan dimensi alternatif?


Danny tidak melihat alasan yang jelas bilamana sang raja iblis itu mengubah dimensi, namun jika ada kemungkinan lain, kenapa?


"Kau ingin lari?"


SYUT


DEG!


Archifer kembali muncul di depan Danny, berjalan pelan seolah menikmati setiap langkah yang diambilnya.


'Lari?' Danny tidak mengerti apa yang dimaksudkannya.


Ia tidak lari, ia hanya terhempas jauh, bahkan sampai ke dimensi lain.


Danny memegang perutnya sendiri, darah mengucur dari sana. Dan rasa sakit pun pada akhirnya menghampirinya.


"Kau tidak pantas menggunakan kekuatan gelap." Archifer menunjuk Danny.


Tidak dapat dipungkiri memang Danny tahu ia menerima kekuatan gelap dari si Raven, dan itu cukup membantunya di situasi sebelumnya.


Bahkan faktanya ia merasa kekuatan gelap yang ada di tubuhnya berpusat di area tubuh tepat sebelum Archifer menyerangnya.


Itu terjadi begitu cepat dan spontan, bahkan Danny malah baru menyadarinya sekarang.


'Semoga Raven baik-baik saja.' Danny malah jadi kepikiran akan makhluk hitam itu. Tidak bisa disangkal bantuan misterius darinya memang sangat diperlukan.


Bantuan misterius?


Yah, katakan saja soal dia yang muncul tiba-tiba, menyelamatkannya, dan mau bekerja sama menghentikan iblis.


Dengan latar belakang yang minim itulah yang membuat Danny mengkategorikan Raven memberinya bantuan misterius.


Danny mengabaikan rasa sakitnya, karena tidak ada gunanya ia memikirkannya.


Satu pukulan sang raja iblis bisa mengakhirinya jika tak ada kekuatan gelap yang membantunya bertahan.


Tidak ada yang perlu dikejutkan. Namun jika begini maka bagaimana caranya menang?


Danny sadar ia memang banyak menggunakan kekuatan di luar yang ia punya yang membuatnya bisa bertahan sampai sekarang.


Terkadang keberuntungan tidak datang dua kali. Danny harus memastikan kali ini ia tidak mati lebih awal.


'....' Tidak ada gunanya seperti mengeluh 'sial! Kenapa aku harus berhadapan dengan raja iblis!? Dia itu sangat kuat! Apa masih ada kesempatan menang!?'


Yang meski pernyataan itu cocok dipakai Danny sekarang.

__ADS_1


Namun apa ia punya pilihan?


__ADS_2