Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 403: Sang Penolong


__ADS_3

Danny tidak menyangka ia harus bergerak cepat dan akhirnya berakhir dengan memilih kembali ke tempat di mana teman lamanya itu menyelamatkan hidupnya dari bahaya, setidaknya dahulu ketika Forhan masih menganggapnya teman.


"Forhan, apakah tidak ada yang bisa kulakukan agar kau menghentikan tindakanmu ini?"


Danny memberi pertanyaan konyol, lagi-lagi ia merasa tidak sepenuhnya yakin untuk bertarung dengan teman lamanya itu.


Sebuah harapan yang tidak terujud, di mana ia bisa bertemu baik-baik dengan temannya setelah lama tidak bertemu, namun yang terjadi adalah diluar perkiraannya sama sekali.


"Huh? Kau tidak berubah sama sekali Danny, pendirianmu kurang teguh dan kau hanya memikirkan cara mustahil untuk keluar dari situasi ini."


Forhan sedikit tersenyum, pendirian dan tujuannya yang sudah berseberangan dengan Danny, tidak mungkin perkataan akan mengubah semua itu.


Aura yang keluar dari Forhan sudah jauh berbeda, dalam arti yang lebih sederhana jiwanya lebih gelap dibandingkan beberapa waktu ketika Danny masih bersamanya.


Tidak ada cara lain lagi, Danny tahu, hanya ada dual hal yang bisa terjadi saat ini: membiarkan Forhan merebut batu permata mulia atau bertarung untuk mempertahankannya.


"Meskipun begitu, kuakui kekuatanmu sudah jauh lebih besar di luar perkiraanku Danny, sangat mengesankan kau yang bukan ras demi human mampu mengendalikan kekuatan batu itu."


"Tapi kenyataannya adalah kekuatan itu bukanlah milikmu ...."


Forhan memasang wajah yang kesal seolah ia adalah seorang yang bertanggung jawab atas keberadaan batu permata mulia, Danny sendiri tidak heran mengapa Forhan begitu peduli pada kekuatan rasnya ini, dan ia tidak bisa mengelak bahwa kekuatan ini memang bukanlah miliknya sendiri.


"Forhan, aku tidak tahu alasanmu ingin memiliki batu kekuatan ini, namun satu yang perlu kau ketahui, aku perlu meminjam kekuatan ini untuk melawan kejahatan yang besar!"


"Ch!" Forhan membuang ludah, kini perasaan gelap dan jahat di sekitarnya mulai membesar didukung dengan keadaan hutan yang juga ber-aura gelap.


Kini Danny sadar keputusannya membawa Forhan ke area hutan Dawn Forest tidaklah terlalu baik, pasalnya dengan kekuatan Forhan yang serupa dengan aura kegelapan yang ada di tempat ini, secara tidak langsung kekuatan pria besar itu akan bertambah besar.


Aku sendiri tidak bisa mengambil risiko yang terlalu besar, hanya tempat inilah yang sekiranya tidak ada orang lain yang bisa dibahayakan oleh pertarungan ini ....


Huuush!


Tanpa berlama-lama Forhan segera melesat sembari mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah lawannya itu, ia sangat beringas dan hanya satu tujuannya yaitu merebut kekuatan rasnya yang ada di hadapannya itu.


"Sihir angin: Pedang Angin!"


Trang!!!


Dengan menggunakan energi sihirnya yang juga sudah diperkuat dengan ketiga batu permata mulia, Danny menciptakan sebuah pedang besar, mirip dengan lawannya hanya saja terlihat tembus pandang dan sedikit berwarna biru.


Kriiitt ....


Danny dan Forhan sama-sama mengerahkan seluruh tenaga mereka hanya untuk membuat salah satu dari mereka tersungkur dan membuat celah untuk di serang, namun keadaan adu kekuatan di antara mereka ini berlangsung tidak begitu cepat.

__ADS_1


"Haaahh!!!"


BRAKKK!!!


Forhan seketika melompat ke belakang, Danny sedikit terkejut karena masih mengeluarkan kekuatan penuhnya, alhasil pedang besar anginnya menghantam tanah dan membuat rententan gelombang kekuatan sihir yang amat hebat.


SRAK! BUUUUMMM!!!


Area yang terkena serangan pedang angin Danny seolah air yang sedang bergelombang, tanah yang berada di bawah yang begitu keras itu terkena gelombang kejut merembet sampai jarak yang cukup jauh, membuat kerusakan yang cukup berarti di area hutan suram dengan banyak pepohonan besar itu.


Seiring dengan daya hancur yang kuat, kepulan debu tanah tebal langsung menyelimuti area sekitar hutan dengan cepat, membuat jarak pandang jadi tidak bersahabat seketika.


Danny masih mengamati dengan seksama, ia tidak merasakan hawa kehadiran Forhan yang menyengat lagi, dan seketika itu pula ia bertanya-tanya di mana keberadaan temannya saat ini.


Grap.


"Apa yang?!"


Sebuah tangan besar tiba-tiba muncul dari tanah menggenggam kaki Danny dengan keras, kini pemuda itu masih langsung bertindak untuk menghindari hal yang lebih buruk lagi.


"Hyaahh!!!" Danny mengayunkan pedang besarnya ke arah bawah, tidak peduli bilamana serangannya sendiri akan mengenainya juga, yang pasti ia tidak bisa membiarkan pertahanannya terus terbuka.


Lagi-lagi sebuah dentuman keras tercipta tepat saat pedang besar sihir angin Danny menyerang arah bawah, Danny terbawa oleh daya hancur serangannya sendiri, ia kini terhempas ke atas dengan cepat meninggalkan apa yang ada dibawahnya.


Kekuatan fisik Forhan benar-benar hebat, jika saja aku tidak menyadari dengan cepat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kakiku ini ....


"Lambat Danny!"


Di balik kepulan debu tanah yang begitu tebal, Forhan melesat dengan cepat dari bawah tepat mengarah pada Danny sambil menghunuskan pedang untuk menyerangnya.


!


Slip.


Danny masih bisa menjaga kewaspadaannya meskipun di tengah jarak pandang yang terbatas itu, serangan pedang tiba-tiba yang dilakukan Forhan berhasil dihindarinya dengan cukup tipis, hanya beberapa centimeter saja pedang besar Forhan ada di hadapan wajahnya.


"Hyah!"


Trak!


Tepat saat Danny mengira Forhan akan menghentikan serangannya di udara, pria besar itu menendang Danny yang berada di dekatnya dengan keras, dan kini Danny berhasil juga menghentikan serangannya itu, namun tidak dengan daya hembus yang kuat membuatnya harus terpental ke bawah dengan cepat.


BUUM!!!

__ADS_1


Sebuah dentuman keras terdengar di hutan itu, membuat tanah bergetar hebat dan debu tanah terhempas dalam jumlah yang banyak membuat jarak pandang sangat tidak bersahabat.


"Hmph!" Forhan yang masih melayang di ketinggian itu terlihat bangga, senyum tipis nan puas tergurat di wajahnya, ia merasa begitu bangga karena bisa membuat lawannya itu terdesak.


****


"Danny pergi kemana?" Patricia sedikit termenung memikirkannya, kini di dalam pikirannya ia tidak bisa memikirkan ke mana temannya yang tiba-tiba pergi itu.


Brock dan Vincent hanya terdiam tanda mereka tidak tahu pula akan pertanyaan yang diajukan Patricia itu, kini mereka berdua juga sedikit terdiam di antara reruntuhan dan kerusakan yang terjadi di pusat kota ini.


"Kak?"


"Eh?" Patricia menoleh ke bawah, ia masih memeluk gadis kecil tadi yang diselamatkan oleh Danny, matanya menatapnya lembut seolah ia sedang mengkhawatirkannya.


"Ada apa?" Gadis kecil itu menanyakan keadaan seorang kakak perempuan yang sedang memeluknya ini, tidak tampak terlalu baik.


"Ah? Tidak apa- haha ...." Patricia berusaha menyembunyikan rasa penasaran sekaligus khawatirnya itu, dan kini hanya bisa berharap ke mana pun Danny pergi, ia berada dalam keadaan baik-baik saja.


"Sedang apa kalian?"


Di balik kepulan debu tanah tipis terdengar suara bernada berat dan tegas, sontak hal itu membuat Patricia, Brock, Vincent dan gadis kecil itu kaget.


Mereka berempat menoleh ke belakang, ada dua orang pria dewasa yang berjalan ke arah mereka.


"Mengapa kalian tidak pergi ke tempat yang aman? Para penjaga kota bahkan tidak berani untuk mendekati sumber bahaya yang terjadi tadi." Seorang pria, bapak-bapak yang tadi sedikit mengagetkam mereka kembali berbicara lagi.


Kini Patricia dan yang lainnya bisa melihat wajah kedua orang bapak asing yang tiba-tiba muncul ini dengan jelas, raut wajah yang ditampakan oleh keduanya menandakan mereka tidak senang karena melihat apa yang sekarang sedang dilihatnya itu.


Bapak yang bertanya pada mereka berpenampilan biasa saja, dengan raut keriput yang sedikit terlihat pada area sekitaran wajahnya, rambutnya pendek dan rapih agak beruban, alisnya sedikit menurun ke bawah yang memang itu menandakan ia tidak begitu senang melihat adanya orang asing yang berada tepat di mana marabahaya sedang terjadi.


"Hmmm ...." Satu lagi pria yang berada di sampingnya Salah satu pria dewasa, seorang bapak-bapak dengan kumis dan janggut yang tebal. wajahnya terlihat seperti agak lemas, namun sepertinya tidak sepenuhnya benar begitu.


Vincent melihat kedua orang bapak dengan setelan baju yang mewah berwarna coklat itu, seketika itu juga ia tahu bahwa kedua orang yang berbicara ini bukanlah orang biasa.


"Ah, kami terjebak di situasi ini, maafkan kami tuan ...." Brock mengatakan alasan paling sederhana mengenai mengapa mereka berempat bisa tepat berada di area yang berbahaya.


Kedua orang bapak berpenampilan jubah coklat tebal ini nampak tidak sepenuhnya percaya, mata mereka memancarkan sinyal tanda ada yang mencurigakan.


"Ah, itu yang terjadi Tuan! Teman kami tiba-tiba diserang oleh orang mencurigakan yang mengacau di sini!" Patricia berbicara cepat dan tergesa-gesa, ia sendiri merasakan hal yang sama dengan Vincent, pasalnya tatapan kedua orang ini menusuk.


"Teman kalian?" Bapak berwajah agak lemas dengan kumis dan janggut tebal berbicara pelan dan dengan nada penasaran.


"Be-benar! Namanya Danny! Kini dia pun sedang berurusan dengan orang asing jahat yang mengacau di sini Tuan!" jawab Patricia cepat.

__ADS_1


"Danny?" Entah mengapa sang bapak berpenampilan biasa yang ada di sebelahnya terlihat kaget mendengar perkataan gadis itu, dan perkataan tadi mengingatkannya kembali pada seseorang yang dahulu pernah membantu mereka menghentikan pemberontakan Kerajaan Timur.


__ADS_2