Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 338: Tekad Yang Tetap Dipertahankan


__ADS_3

Vincent seketika itu juga maju ke depan untuk menyerang makhluk yang telah berkata menyebalkan itu, ia tidak tahan lagi dengan ucapan yang dikeluarkannya dan ingin agar membungkam makhluk itu agar tidak berkata palsu lagi.


Serangan demi serangan dilancarkan oleh Vincent mulai dengan tangan dan kakinya dan tidak lupa pula kombinasi antara keduanya, namun sayangnya Tifee mampu untuk menghindari setiap serangan yang dilancarkan Vincent.


Meskipun serangan Vincent terlihat cepat dan kuat namun itu semua menjadi tidak berarti karena tidak ada satu pun serangannya yang mengenai musuhnya itu.


Tifee sedikit tersenyum, seolah-olah ia meremehkan usaha yang sedang dilakukan manusia yang lemah ini, baginya serangan seperti ini mudah ditebak dan sama sekali tidak butuh usaha lebih untuk menghindarinya.


"Seranganmu ini menunjukkan dengan jelas bahwa kau ini tidak lebih dari seorang yang lemah dan tidak pantas hidup di dunia ini," ujar Tifee dengan santai sembari menghindari serangan beruntun Vincent itu.


"Berisik! Kau sendiri mengapa menghindar saja?! Kemarilah dan biarkan aku memberimu pukulan untuk menyadarkan makhluk sepertimu agar menjadi lebih baik!"


[Kau bilang apa Vincent? Mengharapkan sesuatu yang baik dari makhluk itu? Apa kau bercanda?!]


Oalah kau benar diriku sendiri, aku tidak mungkin mengubah makhluk yang memang sifatnya sudah seperti itu dari awalnya ....


Beberapa saat kemudian Vincent mulai kelelahan karena terus menerus melancarkan serangan tangan dan sekaligus kaki namun tidak ada satupun dari serangannya itu yang mengenainya, pada akhirnya ia sampai pada titik di mana ia harus mundur.


Tifee menyadari gerakan serangan musuhnya itu melambat dan berangsur-angsur kekuatan serangannya musuhnya itu pula melemah di saat itulah ia tahu sudah pasti lawannya itu akan mundur.


"Lambat!" Tifee melancarkan pukulan tangan kanannya yang berwarna merah kelam seperti darah itu, saking kerasnya gelombang pukulannya menyebabkan pasir disekitarnya terhempas jauh begitupula dengan tubuh Vincent terhempas dengan jarak yang jauh pula.


"Waahkh!" Vincent merasa perut yang telah dipukul oleh makhluk iblis itu sudah pasti terluka dengan cukup parah, namun iaa sepertinya tidak mau memikirkan hal ini karena tidak mau banyak peduli dengan apa yang terjadi padanya saat ini.


Tubuhnya masih melayang di udara, entah berapa lama lagi ia tetap berada di kondisi seperti itu, yang pasti saat ini tubuhnya masih saja belum berhenti melayang karena efek serangan pukulan biasa iblis itu.


Vincent berusaha mengangkat kepalanya yang masih terhempas itu dan ia tiba-tiba melihat wajah sang iblis yang beringas sekali menghampirinya yang tengah melayang itu dengan cepat, cakar tajam pada kedua tangannya sudah siap untuk dilandaskan pada badan Vincent saat itu.


"Sial! Sihir Api: Bola Api Raksasa!" Vincent menghembuskan udara melalui mulutnya sendiri dan seketika itu juga udara memanas dan muncul percikan api dan bola api raksasa muncul saat itu juga di depan iblis yang didekatnya itu.


"Hahahaha! Kau hendak menyerangku dalam jarak sedekat ini?! Boleh juga pria rambut panjang!" Tifee tidak menyangka akan diserang ketika mendekati pria berambut panjang itu, ia tahu musuhnya tidak memiliki pilihan lain dan karena tidak menyangka serangan mendadak ini ia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar juga.


DUAR!


BRUG!


Bola api raksasa yang dikeluarkan Vincent meledak tepat di dekatnya dan hal itu membuat tubuhnya terhempas ke bawah dengan keras, membuat lubang yang besar dan ia sama sekali tidak bisa merasakan kelembutan pasir sama sekali, yang ada ia saat ini berada di lubang yang cukup besar karena terhempas oleh serangannya sendiri.


Pakaian hitamnya robek di sana-sini dan juga ia mengalami luka bakar yang cukup terlihat, tubuhnya sebagian besar melepuh dan darah terlihat secara merata di seluruh tubuhnya.


Pria itu hanya bisa terlentang karena tahu ia telah melakukan jurus bunuh diri, yang dalam arti ia sama sekali tidak memperhitungkan ketika melakukan serangan berkekuatan dalam jarak yang benar-benar dekat.


Beruntung aku tidak menjadi debu ... ukkh ....


Vincent melihat sekitarnya, karena celah lubang yang dibuatnya ia sekarang hanya bisa melihat langit biru di atasnya, ia masih memiliki kekuatan untuk berdiri namun merasa malas untuk menggunakan kekuatannya karena ia merasakan sakit yang lebih juga nantinya.


[Apa itu adalah satu-satunya pilihanmu?]


Tidakkah kau bisa mengerti diriku sendiri? Aku tidak punya pilihan lain, makhluk jahat itu sudah berada di dekatku dan aku tidak mampu mengelak ataupun memberikan serangan beruntun lagi, hanya sia-sia belaka jika aku melakukannya.


"Sihir apimu itu cukup kuat, dan kau tidak perlu menggunakan lingkaran sihir untuk melakukannya, sungguh unik sekali." Terdengar suara Tifee entah darimana, dan ketika mendengar ini entah mengapa perasaan Vincent jadi tidak terlalu tenang.

__ADS_1


"Ukh?!"


Seharusnya dia terkena seranganku kan?! Aku yang melancarkan seranganku sendiri ikut terkena juga serangan ini, mustahil jika ia tidak mengenainya!


Vincent ingin segera beranjak dari lubang celah yang besar dan dalam itu, ia sangat penasaran bagaimana kondisi musuhnya itu, jika ia mengetahui musuhnya itu tidak apa-apa maka sudah pasti ia akan merasa kesal.


Luka melepuh yang dialami Vincent adalah karena efek terkena ledakan serangannya sendiri yang ia lancarkan untuk menghentikan iblis yang tadi akan menyerangnya itu.


Vincent akhirnya memutuskan untuk berdiri, perlahan namun pasti ia bisa menopang tubuhnya menggunakan kedua kakinya, asap masih terlihat dari tubuhnya itu.


Pria itu perlahan beranjak naik dan menapaki kembali pasir tepi pantai itu.


Lubang yang dihasilkan karena kekuatan energi sihir Vincent memang besar, dan dampaknya sendiri bisa membuat sekitaran area tepi pantai ini menjadi tidak indah dibuatnya.


Mata Vincent menyorot dengan tajam pada sosok berjubah yang merupakan musuhnya itu; jubahnya sudah compang-camping dan terlihat tidak berguna lagi untuk menutupi tubuhnya menggunakan kain seperti itu.


"Mengesankan, ternyata kau bukan manusia yang terlalu lemah."


Vincent melihat sosok iblis di depannya itu terlihat baik-baik saja namun ia bisa menilai serangannya itu tetap saja mengenainya meskipun hanya sedikit dan itu terlihat dari wajahnya yang terlihat sedikit menghitam.


"Iblis! Setidaknya kau terkena serangan seranganku meskipun tidak begitu berdampak padamu!" Vincent menunjuk puas pada musuhnya yang ada di hadapannya itu, dengan kondisinya yang memprihatikan itu ia masih punya waktu untuk menprovokasi musuhnya.


"Aku punya nama." Iblis itu beranjak kembali mendekati Vincent dengan perlahan yang sebenarnya bagi pria itu berdiri pun rasanya butuh tenaga ekstra untuk melakukannya.


Dengan asap yang sedikit mengepul dari area sana bekas ledakan karena kekuatannya itu Vincent memerhatikan dengan seksama apa yang akan direncanakan iblis itu padanya.


Kepulan asap yang menghalangi pandangannya sementara itu membuat Tifee tiba-tiba menghilang dari pandangannya, padahal ia masih tetap mengamatinya namun karena halangan asap sekitar bekas api ini malah ia kehilangan musuhnya yang tengah diamatinya itu


Vincent tidak tahu di mana keberadaan Tifee saat ini, aneh tapi nyata keberadaan musuhnya tiba-tiba hilang dari pandangannya seketika itu juga.


[Dalam lima detik kau akan diserangnya dari belakang, seharusnya kau bisa menghindarinya agar tidak menambah luka yang lebih banyak]


Begitu ya jadi dia tidak memberikanku kesempatan seidikitpun untuk beristirahat? Sudah sepatutnya dia memang begitu! Dasar makhluk!


Vincent yang sudah tahu tentang apa yang akan terjadi berusaha menengkan dirinya, sayangnya ia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukannya dulu.


Ia tidak bisa lagi menipu iblis itu dengan cara yang sama, menunggu dengan cara memperhitungkan waktu agar dia tidak curiga, ia tidak bisa melalukan itu lagi.


Alasannya sederhana, reaksinya tidak bisa secepat tadi ketika ia belum terluka, jika ia melakukan hal yang sama ia reaksinya yang melambat hanya akan membuatnya tidak bisa mengindari serangan iblis itu padanya.


[Jika kau tidak berhasil menghindar, Tifee akan berhasil membuat lubang di perutmu, jika tidak mau mengalaminya sekaranglah waktunya untuk menjauh dari area itu, tahanlah rasa sakit lukamu itu kau harus bisa bertahan, itu lebih baik daripada kehilangan nyawamu di sini]


Peringatan yang cukup keras didengarnya, entah mengapa Vincent merasa bagian diri yang lainnya itu benar-benar serius, sedangkan dirinya itu selama ini tidak pernah berpikiran yang begitu serius, kecuali jika ia mendapat firasat ataupun penglihatan aneh, di sanalah ia mulai serius.


Jadinya Vincent tidak memiliki pilihan lain, kali ini jika ingin selamat maka menghindar dan menjauhi area ini adalah hal yang harus dilakukannya tanpa menunggu-nunggu lagi, meskipun taruhannya adalah lawan akan semakin curiga padanya.


Sudah lewat dua detik, Vincent punya tiga detik yang tersisa, ia kemudian menghentakkan kakinya dan mulai beranjak dari sana, lambat namun itu lebih baik dibanding dengan terkena serangan langsung dari iblis itu.


Hush!


Benar saja beberapa saat setelah Vincent beranjak, tinju Tifee yang begitu kuat kembali menghempaskan tubuhnya jauh sekali, entah bagaimana jika ia terlambat atau tidak menghindar sama sekali, apa yang dikatakan Prediction Master bisa benar-benar terjadi.

__ADS_1


Astaga kekuatan fisiknya benar-benar di luar perkiraanku! Ia begitu cepat sampai-sampai tidak terlihat oleh mataku dan lagi kekuatannya itu terlalu Over Power!


[Vincent apa itu Ov-]


Stop sampai di sana, kau itu diriku kau tinggal melihat pikiranku bukan untuk mengetahuinya? Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan pikiranku kepada diriku sendiri.


[Benar juga, sepertinya memang kau benar, kekuatan iblis ini terlalu kuat, bahkan kita sama sekali tidak bisa menghentikan hempasan udara akibat serangannya itu.]


Vincent merasa luka bakarnya pedih karena ia harus merasakan udara dengan cepat, namun ia tidak perlu khawatir luka bakarnya akan kembali menyala, ia bukan objek yang mudah terbakar seperti kayu yang jadi potongan bara api yang mudah menyala kembali ketika terkena angin.


Apa yang bisa kulakukan untuk mengalahkannya? Aku hanya punya sihir api, dan iblis itu sudah unggul dalam kekuatan fisiknya, dan tidak terlihat kelemahannya sama sekali, astaga!


Makhluk itu hanya bermain-main denganku, aku masih ada sampai saat ini karena memang aku memilikimu Prediction! Entah bagaimana jika aku tidak tahu kejadian di masa depan!


Vincent yang baru saja berhadapan dengan makhluk yang memang sudah didengarnya Danny mengerti bahwa iblis adalah makhluk yang kuat dan berbahaya, mau bagaimanapun fakta seperti itu tidak akan lari dari mereka.


Mengingat dirinya sedang kewalahan dan tidak bisa meminta bantuan apapun pada temab-temannya, rasanya situasi seperti ini memang berlebihan, namun tekad yang ditekadkannya dari awal masih belum hilang, Vincent tahu kekuatannya memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan si iblis ini, namun setidaknya ia tidak akan membiarkan musuhnya itu menang dengan mudah.


Vincent mengarahkan tubuhnya ke bawah dan terbentur oleh pasir, luka bakar yang dideritanya tidak bisa pulih dengan cepat namun setidaknya ia masih sadar dan masih merasa sakit karena lukanya ini.


Sihir api, hanya itulah kemampuanku di saat-saat seperti ini, berbeda dengan orang lain yang bisa memiliki banyak sihir, namun aku hanya memiliki satu jenis saja ....


Apa yang bisa kulakukan hanya dengan satu jenis kekuatan sihir yang kubisa? Kondisi fisikku sudah tidak bisa diandalkan, dan lagi meskipun aku masih memiliki energi sihir itu akan percuma juga karena tubuhku akan kehilangan kesadaran terlebih dahulu ....


Vincent merenung di hamparan pasir yang lembut itu, kesempatan yang ia miliki untuk bisa bertahan di sini dipertanyakannya saat ini, namun seiring dengan itu ia berusaha untuk tetap optimis dan memihak tekad awal yang ada pada hatinya itu.


Pria berambut sebahu itu melihat rambutnya yang terurai di antara pasir, kemudian ia tersenyum karena melihat rambutnya baik-baik saja dan tidak terbakar, ia tidak tahu mengapa bisa terjadi seperti itu, padahal wajah dan anggota badannya mengalami luka bakar yang cukup serius.


Ia memang membanggakan rambutnya itu, menganggapnya sebagai gayanya sendiri, kharismanya sendiri dan cirinya sendiri, meskipun tidak banyak yang memakai gaya rambut seperti itu, dia adalah pria yang mencintai keunikan.


Vincent perlahan bangkit dari hamparan pasir di bawahnya itu, rasanya memang akan lebih baik jika ia tetap rebah di sana dan tidak merasakan apapun lagi setelahnya, setidaknya ia tidak perlu lagi merasakan rasa sakit, namun pikiran yang terlalu keenakan itu tidak diindahkannya saat ini.


Mau bagaimanapun juga aku harus tetap berdiri, jika aku masih punya kekuatan maka itu artinya pembelaanku terhadap teman-temanku belum selesai, aku masih harus tetap mengganggu makhluk jahat ini.


Vincent akhirnya bisa berdiri meskipun dengan terengah-engah dan masih merasakan kesakitan akibat serangannya sendiri itu.


[Kau tidak terlihat terlalu baik]


Terima kasih atas perhatianmu diriku sendiri, kau memang yang paling mengerti akan keadaanku saat ini ....


[Apakah itu sepadan?]


Aku terluka karena seranganku sendiri, dan kesusahan karenanya, itu berarti kekuatanku hebat bukan?


[Ya, kau benar, kekuatan apimu benar-benar hebat, namun setidaknya kekuatanmu sendiri tidak benar-benar mengakhirimu]


Keberuntungan yang hebat, namun sayangnya hasilnya tidak seperti yang kuduga, makhluk itu sama sekali tidak terluka dengan cukup berarti, yang ada hanya jubah hitamnya saja yang sudah compang-camping seperti itu.


[Memiliki rencana lain?]


Iblis itu tidak akan kubiarkan menemui Danny, apapun yang terjadi, pasti tidak akan kubiarkan.

__ADS_1


__ADS_2