
"Dulu, pernah ada petualang yang datang ke desa kami." Pemuda itu mulai menjelaskan.
Kibo tentunya memperhatikan bagimana cerita yang akan diceritakan oleh pemuda tersebut.
"Namun kendatangan para petualang itu membawa hal buruk pada desa kami ...."
"Hal buruk?"
Pemuda itu mengangguk. "Desa kami dijarah, barang berharga milik penduduk desa, toko-toko, dan bahkan ternak, semuanya diambil oleh mereka ...."
Kibo mendengar ada yang janggal di dalam cerita anak muda ini. "Tu-tunggu ... kalau begitu mereka bukan petualang melainkan perampok bukan?"
"Ya Tuan, namun sebelum para perampok itu menjalankan rencana mereka, mereka menyamar terlebih dahulu sebagai petualang dan tinggal di dekat desa kami ...."
"Kami tidak ada firasat apapun, selain memang melihat mereka sebagai petualang dari jauh, berkelompok pula. Malahan kedatangan mereka di sambut baik oleh para warga karena mereka juga sempat bersosialisasi dengan penduduk."
"Astaga ...." Kibo tidak menyangka ia mendengar cerita seperti ini.
"Mereka telah tinggal selama tiga hari, sebelum kami sempat menyadarinya, mereka memakai topeng penutup wajah dan baju serba hitam pada malam ketiga dan memulai rencana tersembunyi mereka yaitu menjarah seluruh tempat di desa ini," ujarnya.
"Kami sama sekali tidak bisa mengantisipasi kejadian ini, dan pula seluruh warga tidak ada yang bisa membela diri mereka, yang ada kami hanya bisa pasrah ketika para perampok berbulu domba itu menyerang kami."
"Namun untunglah perampok yang berjumlah banyak itu tidak sampai menghilangkan nyawa dari para penduduk di sini."
"Ja-jadi itulah alasan kalian berlaku seperti ini? Karena kejadian masa lalu itu?" terka Kibo.
__ADS_1
Pemuda itu mengangguk.
Kibo pun akhirnya mengerti mengapa para penduduk di sini memandang orang asing atau petualang yang datang ke desa mereka seperti itu, karena mereka mempunyai bayangan masa lalu yang kelam.
Siapapun pasti akan teringat akan kejadian masa lalu, bila memang hal yang serupa terjadi di masa depan.
Kini Kibo dapat menilai sendiri bahwa memang saat ini para penduduk desa ini merasakan trauma karena datangnya perampok yang menyamar jadi petualang, jadi rasanya saat ini di mata setiap orang di desa ini setiap petualang patut di curigai, mereka tidak mau mengulang kesalahan yang sama, yaitu tidak waspada secara penuh.
Kini Kibo telah mengetahui sepenuhnya alasan mengapa mereka bersikap seperti itu.
"Begitu ya ... jadi kalian meningkatkan kewaspadaan ...."
Pemuda itu tidak berbicara apapun yang itu berarti pernyataan Kibo benar.
Kibo sadar jika sudah begini ya pastilah ini menjadi pelajaran untuk seluruh penduduk desa ini, ia bisa menerima perlakuan tadi dan tidak berpikiran macam-macam lagi.
"Aku mengerti ... maafkan kami jika kehadiran kami membuat kalian resah," ujar Kibo sambil menunduk.
"Angkat ... kepala ... mu anak muda ...."
Kibo menuruti apa yang diperintahkan oleh kakek tua itu, ia kembali mengangkat kepalanya.
Rasanya di sini tidak ada yang salah baik dari pihak warga desa ataupun pihak kelompok Kibo sendiri, ini hanyalah murni perasaan waspada saja.
"Kepala Desa!"
__ADS_1
Kemudian dari arah area bambu itu kembali datang satu bapak-bapak yang memiliki janggut dan kumis disekitar wajahnya, tipis dan terkesan rapi.
"Kepala Desa?" Kibo baru mengetahui hal ini.
"Apa Kakek adalah Kepala Desa di sini?"
Kakek tua itu tersenyum. "Benar ... anak ... muda ...."
Ketika bapak-bapak itu datang ia langsung mengajak bicara sang kakek. "Darimana saja Kepala Desa? Saya khawatir anda pergi terlalu jauh dari desa ini dan tidak dapat kembali lagi."
"Hush! Aku masih ... ingat ... dengan desa ... yang ... ku ... pimpin sendiri," jawab sang Kakek pelan.
"A-apakah di sekitar sini ada jalan tercepat menuju ke dekat pusat kota kerajaan barat?" Kibo bertanya seperti itu karena mungkin saja sang Kepala Desa mengetahui jalan tercepat ke sana.
"Jalan tercepat?" Sang bapak-bapak itu menjawab pertanyaan yang Kibo ajukan pada sang kakek itu.
"To-tolong ... je-jelas ... kan ... padanya ..." pinta Kakek Kepala Desa itu pada sang Bapak yang baru saja datang itu.
Sang Bapak brewok tipis mengerti dan akhirnya menggantikan pertanyaan yang seharusnya di jawab oleh Kakek Kepala Desa.
"Tuan-tuan menanyakan tentang jalan tercepat di menuju ke dekat pusat kerajaan barat bukan?" tanya Bapak itu memastikan pertanyaan Kibo.
Kibo menganggukkan kepalanya, kali ini ia berharap jawabannya itu sejalan dengan apa yang ia harapkan, karena jika tidak, ia sudah tidak bisa berbuat apapun lagi.
"Kalau soal itu ...."
__ADS_1