Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 475: Menghentikan


__ADS_3

Danny menatap dalam-dalam pada serangan yang tertuju padanya sekarang. Kini tanpa perisai pertahanannya sudah pasti serangan itu akan mengenai tubuhnya secara langsung.


'Waktuku habis untuk bertahan.' Danny menguatkan tekadnya lagi, terbukti dari kenyataan bahwa ia sudah bertahan mati-matian dari serangan Arthur sebelumnya, dan sekarang ia malah menghampiri serangan dengan polosnya.


Maksudnya, masih ada aura kekuatan merah yang mengelilinginya, namun pada akhirnya itu belum cukup untuk mengatasi serangan yang datang padanya.


'Tuan Arthur memang hebat, dengan kekuatannya ia bisa saja melakukan apapun....'


Danny bisa merasakan bahaya dari setiap serangan pedang cahaya itu begitu kuat itu, akan jadi skenario buruk bilamana salah satunya mengenainya.


Serangan yang bahkan membuat siapapun yang berada di sekitarnya jadi waspada.


Tanpa teknik perlindungan khusus maka sudah pasti pedang cahaya kuning berenergi besar itu bisa membuat orang jadi menemui akhirnya sendiri.


Serangan beruntun Arthur seolah tidak ada akhirnya, yang memaksanya untuk bertahan dan kalah, atau maju dengan risiko.


Pilihan pertama memang terdengar sederhana, dan itu sesuai dengan kenyataannya. Cepat atau lambat pertahanannya terkikis habis dan di saat itulah Arthur meng-klaim kemenangannya.


Bagaimana dengan pilihan kedua? Tidak masuk akal, namun Danny tidak punya pilihan yang lebih baik selain itu.


'Serangannya hebat, tapi aku tidak mau berhenti.' Sorot mata Danny perlahan berubah jadi normal, dan juga aura kekuatan merah menghilang dengan cepat.


Mengapa di saat seperti ini ia malah meniadakan kekuatannya? Bukankah apa seharusnya sebaliknya, mengerahkan seluruh kekuatan yang ada?


Danny menutup matanya, menguatkan tekadnya kembali.


Kenyataan bahwa ia ingin membuat Arthur sadar sangatlah besar, dan disaat yang bersamaan juga ia tahu tidak ada cara lain selain yang sedang ia lakukan.


Apa itu berarti ia tidak mau peduli alasan Arthur ingin melawan iblis ini sendiri? Bahkan setelah tahu makhluk itu yang sudah merenggut nyawa temannya sendiri?


Menjelaskan apapun tidak akan membuat Arthur berhenti, Danny tahu akan hal ini.

__ADS_1


Apakah mungkin Arthur bisa mendengarkan dan percaya pada apa yang dikatakannya? Jika iya, maka tentu tidak perlu terjadi hal seperti ini.


SHHHH....


Syut!


Dengan cepat Danny membuka matanya, seketika itu juga aura kekuatan kuning dan coklat muncul di sekitaran tubuhnya.


HUSH!


Danny bergerak sangat cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Pedang cahaya kuning Arthur mengenai telak pada tubuhnya, namun tidak dapat menembus aura coklat yang ada padanya.


Sorot mata Danny makin tajam, warna matanya jadi berwarna kuning dan coklat. Tidak biasa, namun itulah yang terjadi.


"!" Arthur tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Mengapa pemuda ini bisa bergerak cepat kembali dan menahan serangan pedang kuningnya?


Padahal jelas-jelas pemuda ini tadi melepaskan kekuatannya dan akan mudah sekali melumpuhkannya dalam kondisi seperti itu.


Arthur bisa merasakan dengan jelas kekuatan besar yang ada pada pemuda ini, yang tadinya kewalahan, kini malah berbalik mengeluarkan kekuatan yang lebih hebat.


Menggunakan kedua kekuatan batu permata mulia bersamaan, lebih berat daripada mengganti kekuatan batu permata mulia ditengah situasi yang terjadi.


Setidaknya itulah yang Danny rasakan dari pengalamannya. Tapi apa boleh buat? Ia harus tetap melakukannya jika tidak ingin berakhir di sini.


Danny tidak bisa terus-menerus menggunakan satu jenis kekuatan saja, kekuatan fisik batu permata mulia adalah salah satunya. Ia kehabisan kontrol dan jika terus memaksakannya maka pada akhirnya tidak akan efektif.


Menggunakan kekuatan batu fisik untuk bertahan juga bukanlah ide bagus, mengingat serangan Arthur sebagian besar adalah dari jenis sihir. Maka Danny perlu mengumpulkan sejumlah besar kekuatan fisik demi menahan serangan lawannya itu.


Yang pada akhirnya hanya bertahan beberapa saat juga, namun hasilnya tidak terlalu buruk karena masih bisa melindunginya meski tidak lama. Karena energi fisik dan sihir adalah dua hal yang berbeda. Karena itulah Danny tidak bisa membuang-buang tenaganya untuk hal yang sia-sia seperti ini.


Berbeda dengan aura coklat yang ada padanya sekarang, kekuatan daya tahan. Hanya dengan aura yang ada disekitaran tubuhnya saja itu sudah bisa mengatasi serangan pedang cahaya kuning Arthur. Karena kekuatan daya tahan ini bisa menangani serangan fisik dan juga sihir.

__ADS_1


"Ini belum berakhir!" Danny akhirnya bisa mendekati Arthur yang masih terpaku di sana. Mengepalkan tangan kanannya hendak meninju wajah sang ksatria suci itu.


Arthur tidak menyangka akan hal ini, tidak melakukan apapun karena pemuda itu bergerak cepat sekali dan mampu menangani serangan pedang cahaya kuningnya.


'Baiklah sudah cukup!' Danny menekan kekuatan batu permata mulia yang ada dalam tubuhnya, kini di jarak dekat seperti ini ia tidak perlu energi yang sangat besar.


Lagipula tujuannya hanyalah membuat Arthur sadar, tidak kurang tidak lebih.


"!"


'Kenapa tidak mau berhenti?!' Danny merasakan kekuatan yang mengalir di tubuhnya itu tidak kunjung menuruti perintahnya. Mengapa di saat seperti ini terjadi hal ini?!


Danny tahu akan begitu besarnya kekuatan batu permata mulia, bahkan efek yang ia rasakan dari luar dan dalam juga tidaklah main-main.


Adanya cidera dan rasa sakit adalah hal yang tidak mungkin dihindari ketika menggunakan kekuatan batu ini. Danny sudah tahu akan hal ini dan sengaja mengabaikannya dari awal.


Lagipula siapa juga yang ingin mengingat rasa sakit? Tidak ada gunanya selain menyiksa diri sendiri.


'Padahal tadi aku bisa meniadakan kekuatan batu fisik dengan mudah!' Danny memutar otaknya, ia harus menghentikan kekuatan yang besar ini, secepatnya!


"!" Danny sadar, ia tidak begitu merasakan kesakitan atau apapun ketika menggunakan kekuatan batu permata mulia ini, bahkan dari awal sekalipun.


Sedikit aneh, apakah itu karena tubuhnya bisa mengabaikan rasa sakit yang sering muncul itu? Ataukah ada alasan lain?


Danny yakin tidak mengalami rasa sakit yang membuatnya payah, hanya saja yang jadi pertanyaan adalah, mengapa ia tidak bisa meniadakan kekuatan batu permata mulia?


Jika ia bisa menggunakan kedua kekuatan batu permata mulia bersamaan, bukankah seharusnya ia juga bisa menghentikan kekuatan itu?


Kekuatan itu terus mengalir dalam dirinya, seolah mengabaikan apa yang ia perintahkan.


'Efeknya?!' Danny tahu ketika menggunakan kekuatan batu permata mulia, hal yang biasa terjadi adalah rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan muncul. Namun di kasus ini tidak sama sekali, yang ada seperti kekuatannya ini malah tidak terkontrol.

__ADS_1


'AYO BERHENTI!' Danny tidak henti-hentinya menekan kekuatan batu permata mulia itu. Ia hanya ingin menyadarkan Arthur, bukan membuktikan kekuatannya sendiri.


"Sial!" Pada akhirnya tinjuan Danny hampir mengenai wajah Arthur, dengan kekuayannya yang besar, bukan tidak mungkin Tuan Arthur bisa....


__ADS_2