Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 249: Akhir?


__ADS_3

Meskipun kondisinya saat ini cukup parah karena serangan Yizi yang bertubi-tubi, kesadaran Arthur masih terjaga dan ia dapat mendengar dengan jelas bahwa Yizi akhirnya mau untuk berbicara dengannya.


Dan tidak lucu bilamana Arthur yang tadinya hendak berbicara dengannya itu kehilangan kesadaran karena serangan Yizi tadi dan akhirnya kesempatan ini menjadi sia-sia.


Untunglah Arthur memang seimbang dalam hal kekuatan dan ketahanan daya tahan tubuhnya itu hingga ia bisa menerima setiap gempuran dari Yizi sampai saat ini dengan tidak menutupi fakta bahwa memang kekuatannya terkuras malam tadi dan sekarang semakin terkuras hingga akhirnya ia jadi tidak berdaya saat ini.


Arthur senang ketika mendengar bahwa Yizi mau berbicara dengannya, meskipun ia sudah berlaku sangat buruk padanya.


Meskipun rasa senangnya itu tidak terlalu terlihat karena wajahnya yang terluka cukup parah itu, namun sejujurnya Arthur bersyukur Yizi memilih untuk mau mendengarkan dan berbicara dengannya.


Arthur menarik nafas panjang seraya mengambil kekuatan untuk berbicara padanya. "Ma ... maafkan aku ...."


Yizi terkejut ketika mendengar Arthur berkata seperti itu padanya; ini terlihat berbeda dari apa yang ia pikir dan ia merasa heran mengapa sikap Arthur terasa aneh dan tidak seperti dia yang dulu.


"Maafkan?" Yizi masih belum percaya dengan apa yang didengarnya saat ini; ia berpendapat mungkin saja ia salah mendengar perkataan ksatria suci itu.


Pasalnya Arthur yang ia lihat waktu malam tadi berbeda dengan yang ia lihat saat ini; ini makin jelas dengan apa yang ia lihat saat ini, sebuah kejadian yang sulit dipahami, Arthur meminta maaf?


Arthur mengangguk dan berkata seperti itu sekali lagi, hal ini membuat Yizi akhirnya yakin dengan apa yang didengarnya tadi.


"Arthur!? Kau sedang berlaga bodoh ya!? Kau pikir dengan tindakanmu seperti ini akan membuatku kasihan padamu!?"


"Kau bertingkah seolah kau menyesali ini agar aku bersimpati padamu!? Padahal tujuanmu adalah menghabisi kami bukan!? Kau hanya ingin bermain-main? Hentikan sikap palsumu dan selesaikan tujuanmu itu!"


Arthur saat ini berada di kondisi yang cukup buruk; tidak biasanya ia terluka parah dalam pertarungan, karena kemampuannya yang hebat itu ada dua hal yang membuat hidupnya dalam risiko yang besar, yaitu penyerangan iblis ketika di gurun barat namun pada akhirnya karena Thor mengorbankan dirinya demi dia dan teman-teman yang lain, akhirnya ia bisa selamat dan yaitu kali ini ia menerima serangan bertubi-tubi hanya dengan tubuhnya sendiri tanpa berusaha menggunakan sihir pelindung ataupula perlawanan yang berarti.


Melihat Arthur yang terkena serangan bertubi-tubi seperti ini di saat kekuatannya menurun dari yang biasanya bukanlah hal yang patut disepelekan, sang ksatria suci pun tahu bahwa kondisinya memang sudah berada di titik rendah selama sepanjang ia bertarung sepanjang hidupnya.


Posisi terdesak dengan Yizi lah yang membuatnya saat ini merasakan bagaimana rasa sakit yang sesungguhnya ketika ada orang yang ia perlakukan demikian juga.

__ADS_1


Namun sekali lagi, meskipun tindakan gegabah ini dilakukannya itu tidak bisa menggambarkan rasa sakit dari orang yang pernah ia sakiti sebelumnya.


"Aku ... aku sungguh minta maaf ... atas apa yang kulakukan ...."


Arthur memegang dengan erat tangan Yizi yang berlumuran darah itu. "Aku ... aku telah berlaku buruk padamu ... membunuh semua orang yang kau saya- Urgkh!"


Perkataan Arthur dihentikan oleh batuk darah yang kembali terjadi pada dirinya itu.


Yizi melihat Arthur yang tidak berdaya ini membuatnya bingung, ia tidak yakin seorang Arthur bisa merendahkan dirinya dan meminta maaf pada orang yang telah di cap jahat olehnya.


"Arthur ... apa maksudnya semua ini?"


Arthur memandang Yizi dengan perasaan menyesal dan sedih karena perbuatannya itu. "Aku ... aku telah salah menilai kalian dan ... berlaku seenaknya pada kalian ...."


"Aku tahu ... aku telah berbuat egois hanya karena ingin menegakkan keadilan ...."


Yizi bimbang apa yang harus ia lakukan saat ini, dan meragukan apa yang dikatakan sang ksatria suci itu.


Namun melihat tindakannya yang senekad ini membuat Yizi mau tidak mau mempertimbangkan tindakannya ini, namun ia masih punya rasa marah dan benci pada sang ksatria itu.


"Apa yang kau pikirkan Arthur? Apa yang membuatmu menjadi berbeda seperti ini?" Yizi mulai mengajak bicara Arthur yang memang nampak berbeda itu, meskipun ia masih sangat kesal dan tidak mau mendengar apapun yang pria pirang ucapkan itu.


Arthur mengambil waktu beberapa saat, keadaannya mulai bertambah baik ketika serangan Yizi beruntun itu dihentikan saat ini. "Aku sadar ... akulah penyebab kelompok kalian hancur, aku salah karena telah menuduh kalian ...."


"Apa?"


"Kau meminta maaf dan menyesal?"


Arthur masih melihat raut wajah Yizi yang malah bertambah kesal dan marah saat ini; ia tidak tahu penyebab apakah yang membuatnya tersinggung hingga akhirnya Yizi semakin marah seperti itu.

__ADS_1


Arthur berusaha untuk mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya saat ini; sama sekali tidak ada niat untuk merendahkan ataupula berbohong atas ucapannya itu, namun nampaknya Yizi masih belum percaya apa yang sebenarnya ia katakan.


"Meminta maaf? Ahaha ... ahahaha ...."


Yizi tertawa ketika mendengar Arthur berkata seperti itu. "Dengan apa ... yang kau lakukan ini? Kau saat ini meminta maaf dengan mudahnya!?"


Yizi hendak kembali meninju Arthur yang keadaannya sudah parah begitu, Arthur tahu tindakannya ini ternyata tidak begitu berpengaruh pada pria yang ia ajak bicara ini, ia akhirnya kembali menerima apa yang memang seharusnya ia terima.


Yizi memfokuskan seluruh tenaganya di tangan kanannya itu, sekarang ini aura energi kemerahan terlihat jelas berkumpul di tangan kanannya itu; ini berarti ia akan menyelesaikan Arthur dengan satu pukulan saja.


Arthur pasrah dengan keadaannya yang seperti ini, berusaha mempertahankan kesadaran adalah satu-satunya hal yang ia perjuangkan kali ini, namun jika satu lagi pukulan keras dari Yizi mengenainya, ia pasti akan kehilangan kesadarannya, atau ketika ia lihat kekuatan seperti apa yang berusaha Yizi serangkan kepadanya saat ini, bukan tidak mungkin juga ia kehilangan nyawanya.


Memang apapun yang terjadi adalah akibat dari apa yang kulakukan dan akan kuterima saat ini ....


Aku menyesal dengan apa yang telah kuperbuat selama ini ... dan bila memang ini adalah hukuman bagiku; kupikir hukuman ini terlalu ringan dan tidak sebanding dengan perbuatan tidak adil yang kulakukan, bahkan bila memang aku harus kehilangan nyawa kali ini, itu akan tidak pernah cukup untuk mengganti penderitaan orang-orang yang disebabkan oleh perbuatanku.


Aku menerima apapun akhir yang ada padaku, aku Arthur yang selalu dipandang orang sebagai orang serba bisa dan kuat sebenarnya hanyalah seorang penjahat dibalik statusku ini; aku telah dibutakan oleh keinginanku sendiri dan terus-terusan berpikir apa yang menurutku benar.


Jadi aku tidak terlalu terkejut dengan takdirku kali ini; seorang yang jahat sudah pasti akan selalu terbongkar kejahatannya, dan saat ini semua kesalahanku sudah kulihat dengan hal yang selama ini tidak kupakai; hati nuraniku, aku tidak lebih dari orang jahat berkedok orang baik.


Sederhananya akhir dari diriku ini sama saja dengan para penjahat; bisa kuumpamakan Yizi saat ini telah melakukan hal benar yaitu dengan mengakhiri kejahatanku untuk alasan yang baik.


Kuharap aku ... bisa melakukan sesuatu ... untuk mengubah ini ....


Arthur yang menyadari bahwa serangan yang dilakukan Yizi itu adalah serangan pamungkas yang bisa mengakhiri nyawanya dengan instan, namun sang ksatria ini sudah siap menerima serangan itu dengan sepenuh hatinya.


Maafkan aku semua ... aku tidak bisa memperbaiki apa yang telah kulakukan dahulu ...


Selamat tinggal keluargaku, teman-temanku dan masyarakat kerajaan barat ....

__ADS_1


__ADS_2