
Sudah pasti kejadian di pantulan cahaya merah itu terjadi di masa lalu. Iblis ini sedang menunjukkan bukti dari perkataannya itu.
Pasukan iblis yang begitu besar itu mampu memukul mundur para ksatria suci, mereka tidak kuasa membendung kekuatan iblis yang begitu masif.
Semuanya mengundurkan diri, kecuali Tuan Thor, mengapa begitu?
‘Tuan Thor....’ Danny terdiam melihat refleksi cahaya merah itu, ia bisa melihat Thor menggunakan teknik pertahanan, dia tetap terlihat percaya diri bahkan ketika tekniknya itu tidak begitu berjalan baik.
Sendirian menghadapi pasukan iblis yang kuat itu, sedang yang lainnya sudah pergi meninggalkannya.
‘Tuan Thor....’
SYUT.
Selesai sudah refleksi cahaya merah tadi, Danny terdiam, ia tidak terlihat langsung percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.
Bisa saja itu hanyalah ilusi karangan iblis hanya demi meyakinkannya saja bukan?
“Aku tidak memaksamu percaya, tapi itulah yang sebenarnya terjadi.” Domer terdengar serius, entah mengapa aura yang dipancarkannya memang meyakinkan.
Meski lawannya bisa saja mereka-rekakan sesuatu demi keuntungannya sendiri, namun pada akhirnya Danny tidak sepenuhnya tidak percaya juga.
‘Dia sampai menunjukkan ini....’ Danny terdiam, apa memang benar para ksatria suci itu meninggalkan Tuan Thor?
Bagaimana jika jawabannya benar? Bagaimana jika dia menunjukkan hal yang sebenarnya?
Memang ada kemungkinan itu, namun Danny tidak mau cepat percaya akan hal itu.
Tuan Thor yang bertarung sendirian melawan para iblis itu, tidak musahil terjadi juga, mengingat beliau adalah tipe orang yang bersemangat dan selalu mementingkan orang lain. Danny tahu fakta ini memang sudah tersebar luas.
Sifat dasar dari setiap anggota ksatria suci pun pada kenyataannya bukanlah rahasia lagi, mereka bersinar dengan bagaimana orang lain memandang mereka.
Thor terkenal karena pertahanannya yang hebat, kemampuannya untuk bertahan di atas rata-rata. Posisinya di garis pertahanan kurang lebih sama seperti iblis yang tengah dihadapinya ini.
‘Tuan Thor mengorbankan nyawanya.’ Kesimpulan itulah yang didapatkan Danny.
Thor mengulur waktu agar para anggota ksatria suci yang lain bisa melarikan diri.
Danny tidak tahu ada masalah apa di sana yang membuat sihir teleportasi berjalan begitu lambat sampai-sampai Tuan Thor harus mengulur waktu seperti itu, namun jika tidak ada masalah dengan hal itu, Tuan Thor seharusnya bisa ikut melarikan diri dengan mudah.
“Kau ada di sana, melakukan sesuatu dengan sihir teleportasi.” Danny mengatakan apa yang ada dalam pikirannya, terdengar sok tahu, namun pada akhirnya ia gatal sekali untuk mengatakannya.
Domer terdiam ia tidak terlihat akan mengatakan sesuatu dengan cepat, yang itu artinya ada kemungkinan apa yang dipikirkan Danny benar adanya.
“Aku sudah memberikan jalan keluar mudah bagi mereka.” Domer tidak menjawab pertanyaan tadi, namun dari kata-kata yang terucap itu Danny bisa aman menganggap pernyataan sebelumnya benar.
Pada kenyataannya, tidak sepenuhnya apa yang dikatakan Domer salah. Danny berusaha berpikir dari sisi lain.
__ADS_1
Kenyataan bahwa dia masih memberikan kesempatan untuk kabur pada lawannya adalah hal yang jelas, namun tidak dengan cara yang mudah.
Itu artinya sudah jelas iblis itu melakukan mempersulit cara melarikan diri mereka.
Sebagai iblis yang bisa saja terus menggempur dan tidak memberi ampun lawan, tentu perbuatan ini bisa disebut sebagai ‘jalan keluar mudah’. Di dukung dengan Domer tidak melakukan apapun lagi selain mempersulit pelarian mereka.
Yang pada akhirnya membuat Thor tidak punya pilihanlain selain menahan serangan para iblis, karena dalam kelompoknya itu dialah yang paling bisa diandalkan.
Bisa saja anggota ksatria suci lain yang melakukannya, namun sudah pasti tidak akan se-efektif Thor dengan kemampuan bertahannya yang sudah tidak perlu diragukan lagi.
“Sekarang kau mengerti maksudku?” Domer menatap Danny masih dengan pandangan tenang, namun terasa serius.
‘Dia mengharapkan sesuatu dari para ksatria suci itu.’ Danny menyimpulkan ini dalam batinnya, iblis ini tidak hanya sekedar menyerang, namun juga peduli dengan pilihan yang dibuat lawannya.
Danny tidak tahu iblis macam apa yang sampai membuat para ksatria suci harus mundur, namun yang pasti iblis sangatlah kuat.
“Kau sudah mendahului mereka yang ingin balas dendam.” Domer melanjutkan perkataannya lagi.
“Mendahului?” Danny terdiam mendengar perkataan iblis itu.
“Pasukanku sudah habis olehmu.”
Danny terdiam, bukankah pasukan iblis yang ia lihat di pantulan layar itu bukanlah iblis yang sama?
“Kita kebetulan bertemu, tapi biarlah mereka tidak mendapat kesempatan itu.” Domer tidak menjelaskan lebih lanjut dan malah mengatakan hal ini.
‘Dia adalah pemimpin pasukan yang ia lihat di pantulan cahaya merah tadi, kalau begitu... para iblis tadilah yang membunuh Tuan Thor?’
Danny sampai pada kesimpulan itu, dari apa yang ia lihat sebelumnya, Domer bukanlah penyebab Tuan Thor meninggal, melainkan para iblis yang mengepungnya dan menghancurkan pertahanannya.
Jika yang ia lawan tadi adalah para iblis yang membunuh salah seorang ksatria suci, mengapa ia bisa mengalahkan mereka dengan mudah?
“!” Danny sadar akan suatu hal.
“Kau memberikan kekuatan pada mereka.” Danny menyatakan hal yang muncul di kepalanya.
“Ah, kali ini aku terlambat, semuanya sudah kau bunuh.” Domer tidak lagi melihat para bawahannya terkapar di tanah pasir, mereka semua sudah hilang jadi debu dan abu.
Benarlah apa yang dipikirkan Danny, dialah kunci mengapa pasukan iblis itu bisa mengakhiri Tuan Thor sebelumnya.
Entah berapa banyak yang dia bisa, namun Danny sadar iblis yang ada di hadapannya ini ternyata multi-talenta.
Danny paham akan alasan mengapa dia mengatakan ‘mereka tidak mendapat kesempatan.’ Apa lagi artinya kalau bukan para ksatria suci yang tidak bisa membalaskan dendam pada para iblis yang dahulu membunuh rekan mereka?
Karena memang Danny dan Raven sudah melakukan urusan itu.
Tidak berhenti di situ, akhirnya terungkap juga para iblis yang menjaga padang pasir ini begitu mudah dikalahkan, hanya karena komandannya tidak tepat waktu muncul.
__ADS_1
Apakah itu berarti Domer hanya bisa mentransfer kekuatannya hanya ketika berada dekat dengan sesama rasnya yang lain? Jika melihat apa yang sekarang terjadi, Danny pikir memang seperti itu adanya.
Jika dia bisa mentransferkan energinya dari jarak jauh tentu Danny dan Raven tidak bisa mengalahkan pasukan iblis itu dengan mudah.
“Jadi kau ingin agar aku berpihak padamu?” Danny tidak melihat alasan lain dibalik ini sejauh mereka bercakap-cakap.
Apa iblis ini ingin agar ia melawan Arthur dan ksatria suci yang lain setelah tahu fakta ini?
Danny cukup terkesan Domer sampai berpikir sejauh ini, yang di mana ia pikir iblis hanyalah berpikir sederhana dan hanya peduli soal tujuannya saja.
“Baguslah kalau kau sudah mengerti.” Domer terlihat tenang dan serius, tidak memaksa musuhnya untuk berpihak padanya.
‘Aku tidak tahu banyak soal para ksatria suci... tapi jika itu yang terjadi, aku yakin Tuan Thor punya alasannya sendiri.’
‘Dia ingin melindungi temannya sampai akhir, Domer berusaha memaksaku melihat dari sisi lain.’
‘Dia ingin menunjukkan para anggota ksatria suci masih hanyalah sekumpulan manusia biasa yang ada kekurangan.’
Danny banyak bicara dalam batinnya sekarang, berusaha menilai apa yang ia dengar dari musuhnya itu dengan akal sehat.
Apakah memang tidak ada cara lain lagi untuk mereka melarikan diri selain meninggalkan salah seorang dari mereka?
Mengapa Arthur dan yang lainnya tega meninggalkan rekannya sendiri padahal bisa saja mereka semua berjuang sampai akhir meski kemungkinan menangnya kecil?
Danny merasa itulah pertanyaan tersembunyi yang diajukan iblis itu.
Masalah ini berarti beda ketika berganti sudut pandang, pada akhirnya hal sederhana yang bisa Danny simpulkan adalah: Tuan Thor dengan bangga mengorbankan diri demi rekan-rekannya.
Tidak mungkin ia malah menghina pengorbanan Tuan Thor dan malah memusuhi para ksatria suci.
‘Tuan Thor tetap tersenyum meski sudah tahu apa yang akan terjadi.’ Danny menutup matanya, ia sudah merefleksikan ini dengan baik.
“Aku akan mengalahkanmu, demi Tuan Thor dan para ksatria suci,” ucap Danny sembari menatap tajam pada lawannya.
Sedang aura kuning yang ada padanya masih bersinar terang dan penuh kilatan kilatan cahaya.
Sadar dengan lawannya yang tidak memakai sudut pandangnya, Domer juga menatap dengan fokus. “Pegang kata-katamu.”
“Sihir Kegelapan: Pemecah Sihir.” Domer mengarahkan tangan kanannya ke atas, dan seketika itu juga bermunculan asap hitam di langit, di tanah di sekitarnya yang punya kekuatan yang begitu besar. Membuat area sekitar bergetar dibuatnya.
DRTTT....
“!” Danny merasakan ada sesuatu yang menekan tubuhnya.
‘Dia! Hendak menghancurkan dunia sihirku?!’ Danny sadar kekuatan musuhnya begitu kuat seolah memakan dunia sihir yang ia ciptakan saat pertama kali menggunakan kekuatan batu permata mulia sihir.
“Kita seharusnya bertarung di dunia nyata bukan?” Domer menyadari ini dari awal.
__ADS_1