
Salah satu anggota berjalan di depan, ia memegang sebuah pisau kecil yang memang biasa dibawanya selama bertualang, Kibo sendiri berada di barisan tengah saat ini.
Pria besar itu berusaha untuk menyingkirkan ranting dan dedaunan yang menghalangi jalan itu, terlihat memang jalan sebelah kiri itu sama sekali tidak terawat, dan seperti tanda yang menegaskan bahwa 'tidak perlu melalui jalan ini'.
Jalan setapak yang terbengkalai itu merupakan hal yang bagus bagi kebanyakan petualang pada umumnya karena kemungkinan mereka salah mengambil jalan semakin kecil, dan bila dipikir-pikir siapa juga yang akan mengambil jalan yang susah dilalui itu? Kebanyakan petualang tentunya lebih memilih jalan yang bagus dan aman untuk dilewati.
Kali ini Kelompok Alliance Fight's lah yang pertama kali kembali melalui jalan ini setelah sekian lama jalanan itu ditinggalkan dan terbengkalai.
Maka dari itulah mereka harus susah payah melalui berbagai hambatan yang ada di sepanjang jalan setapak itu.
Perlahan-lahan sang pria besar mengayun-ayunkan pisau kecil nan tajamnya itu, dedaunan serta ranting pohon yang lumayan menghalangi jalan mereka perlahan dapat diminimalisir hingga akhirnya mereka dapat melalui jalan tersebut.
Sepanjang perjalanan memang dipenuhi dengan hambatan, namun dengan tak lelah pria besar yang berada di depan itu terus menyingkirkannya agar mereka semua bisa melaluinya.
Perlahan namun pasti mereka terus berjalan, ditengah sempitnya jalur itu, di kiri dan kanan mereka hanya ada semak-semak daun hijau yang cukup tinggi, mereka tidak pernah tahu apa ada duri yang tajam di sana.
Alasan cahaya matahari tidak bisa masuk leluasa ke daerah sini karena memang pepohonan rindang ini yang menutupinya bahkan sesekali mereka menemukan pohon dengan diameter yang cukup besar menghalangi jalan yang sempit itu, pada akhirnya mereka harus membuat jalan baru atau dalam kata lain mereka harus berjuang keras melewati semak dan dahan pohon yang menjulur dan dahan itu tidak rapuh.
Namun pisau pria besar itu sangat tajam, mampu memotong dahan pohon yang menghalangi jalan mereka dengan sekali ayunan saja, dan bila memang dilihat lagi pisau kecil itu bukan pisau biasa yang digunakan di dapur melainkan pisau yang biasa dibawa petualang tentunya.
Beberapa saat mereka berjalan sedikit demi sedikit menyusuri jalan tersebut, suasana di sana mulai gelap perlahan-lahan.
Bagaimana tidak gelap, sebelumnya saja pada waktu sore tadi keadaannya memang sudah suram dan agak gelap namun setelah beberapa saat mereka berjalan terus tanpa dirasa kegelapan itu makin menjadi-jadi.
Kibo akhirnya menginstruksikan agar setiap petualang memakai obor kecilnya masing-masing agar bisa membantu mereka untuk melihat jalanan yang gelap itu.
__ADS_1
Para pria besar itu akhirnya mengeluarkan obor kecil dan menyalakannya dengan api kecil, barang seperti ini sudah biasa dibawa di kalangan petualang seperti mereka.
Nampaknya petang telah tiba, hilir angin dingin berhembus menerpa para petualang itu, namun mereka sama sekali tidak terpengaruh akan hal itu.
Badan mereka kuat dan besar, hal sepele seperti hawa dingin ini tidak akan menganggu mereka semua, namun Kibo terlihat sedikit kedinginan di sana.
Angin yang berhembus di malam hari ini cukup kencang, menimbulkan suara gemerisik pada setiap pohon dan dedaunan di sana.
Suara itu cukup kencang dan membuat telinga mereka tidak bisa mendengar hal lain selain suara gemerisik itu. Dan memang saat ini juga mereka tidak mengobrol satu sama lain sih, mereka fokus untuk terus menyusuri jalan setapak yang sempit itu.
Kini bisa dibilang mereka sedang melakukan perjalanan malam, mereka tidak menemukan tempat istirahat yang tepat dan juga memang tidak memiliki waktu untuk beristirahat.
Mereka harus segera bisa menemukan area yang agak luas agar mereka bisa menaiki kuda dan bisa bergerak lebih cepat.
Para pria besar di sana kaget dan memulai posisi siaga, masing-masing dari mereka memegang pisau kecil untuk berjaga bila memang bahaya mendekati mereka sembari menuntun langkah kuda mereka.
Kibo menduga lolongan ini adalah lolongan serigala, terdengar dari pola lolongannya yang berbunyi 'auuuuuu' dan berkali-kali terdengar olehnya dan seluruh anggotanya.
Mereka tidak berharap akan ada serigala yang tiba-tiba meloncat ke arah mereka dan menyerang membabi buta, tidak akan mudah melawan mereka di tengah semak tinggi dan sempit seperti ini.
Mereka berusaha tenang meskipun mendengar lolongan itu, tetap menjaga langkah agar bisa cepat melewati jalanan sempit ini.
Namun lolongan itu tidak bertahan lama, hanya beberapa saat saja kemudian tidak terdengar lagi, itu membuat mereka bisa bernafas lega, mereka lebih suka mendengar suara gemerisik angin yang kencang dibanding dengan lolongan serigala.
Beberapa saat kemudian, mereka melihat adanya celah diantara kedua jalan itu, tenyata ada sebuah jembatan yang menghubungkan satu sama lain, dibawahnya ada sebuah sungai dengan aliran cukup deras, padahal cuaca cerah dan tidak hujan, nampaknya aliran sungai ini selalu deras dari waktu ke waktu.
__ADS_1
Kibo sudah menduga pasti ada sebuah jembatan untuk menghubungkan mereka ke daerah seberang, jembatan kayu yang cukup kokoh, sebelumnya ia mengira akan melihat jembatan gantung rapuh. Meskipun pemikirannya berarah ke hal yang tidak enak, namun ketika melihat kenyataan yang berbeda, ini cukup enak (bukan harfiah) juga baginya.
Satu-satunya hal yang bisa dipikirkannya adalah bahwa jembatan ini bisa terus kokoh karena memang jarang dilewati oleh para petualang, selain itu mungkin saja karena pembuatan jembatan ini menggunakan kualitas kayu yang cukup baik sehingga bisa tahan dan terjaga kondisinya meskipun waktu terus berjalan.
Kemudian tanpa berpanjang lebar lagi, mereka segera menyeberangi jembatan itu, mereka berganti satu per satu, karena jika mereka menyebrang secara bersamaan, jembatan kayu yang kokoh ini tentu akan kewalahan juga untuk menahan banyak orang beserta kudanya.
Proses melintasi jembatan kayu itu berjalan mulus tanpa hambatan, kali ini mereka meneruskan perjalanan.
Jalan yang dilalui sedikit lebih lebar dan tidak sesempit yang tadi, pada akhirnya masing-masing dari mereka bisa kembali menaiki kudanya, mereka menebas setiap ranting dan dahan yang menghalangi mereka.
Sesekali kuda mereka juga melompat untuk menghindari batang pohon yang terlihat menghalangi jalan mereka.
Penerangan tidak diperlukan lagi karena adanya cahaya yang masuk ke daerah itu, sehingga kuda mereka berlari sangat cepat menembus kegelapan malam yang di sinari rembulan.
Sebelum pada akhirnya mereka melihat sekelebat bayangan didepan mereka, menghalangi jalur mereka.
Sekebat bayangan seperti wanita berjubah terlihat di sana memaksa para petualamg yang tengah buru-buru itu menghentikan langkah kudanya.
Salah satu dari pria besar itu berkata pada wanita misterius itu.
"Nona bisakah anda memberi jalan untuk kami? Kami tengah buru-buru ...."
Wanita itu menyingkapkan jubah hitamnya, matanya menatap tajam pada pria besar itu.
"Terburu-buru?"
__ADS_1