Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 143: Penginapan


__ADS_3

Kibo mengetuk pintu berwarna coklat itu, yang tingginya hampir sama dengan para anggota Alliance Fight's kebanyakan.


Beberapa ketukan telah mendarat di pintu kayu coklat yang terkesan tak lekang oleh waktu itu, namun belum ada tanda-tanda pintu tersebut akan di buka dari dalam.


Kibo berpikir, mungkin saja pemilik penginapan ini sedang pergi ke luar? Atau mungkin saja sedang tertidur? Bisa juga penginapan telah penuh dan tidak menerima lagi tambahan tamu.


Hari yang sore tidak bisa menunggu mereka lebih lama lagi. Berbagai spekulasi muncul, para anggota Alliance Fight's yang ramai itu tengah mengobrol, lebih tepatnya berbicara pelan satu sama lain.


Bila penginapan yang mereka jumpai saat ini tidak bisa melayani mereka, bisa di pastikan mereka harus tidur di luar lagi, membutuhkan waktu yang agak sedikit lama dan merepotkan.


Ditambah lagi mereka harus menghemat energi mereka hingga dapat pergi meninggalkan area tandus ini.


"Tuan Kibo, bolehkah saya saja yang mengetuk pintu ini?" tawar salah seorang dari anggota Alliance Fight's.


Kibo menyadari dan mempersilahkan dia untuk mengetuk pintu depan penginapan tersebut.


DUG! DUG! DUG!

__ADS_1


Ini sih lebih tepat di bilang menggedor dibanding dengan mengetuk .... batin Kibo.


Gedoran keras dari kepalan tangan yang besar itu membuat sedikit bergetar bangunan kayu itu, sedikit terbesit bila rasanya tidak etis jika mereka menghancurkan penginapan ini hanya dengan menggedor pintu depannya saja.


Itu juga memang karena kekuatan dari para pria besar ini berada di atas rata-rata, maka tidak heran terkadang mereka terlihat melakukan hal yang sederhana namun terkesan berlebihan, sebagai contohnya dalam hal mengetuk pintu.


Tidak lama kemudian pintu penginapan itu terbuka, terlihat seorang wanita muda di sana, memakai pakaian pelayan berwarna B&W namun tidak sedang memegang nampan.


Wanita itu cukup cantik, rambut hitamnya di ikat ke belakang mengikuti setelan baju maid nya itu, warna matanya hijau terlihat ia masih berusia dua puluh tahunan.


"Ummm ...."


Suasana menjadi suram dan nampak menakutkan bagi gadis muda itu, terlihat ia tertegun sejenak, wajahnya yang tadi anggun itu berubah menjadi ekpresi ketakutan yang berangsur-angsur terpaut di wajahnya.


BLAM!


Pria besar itu tidak mengerti mengapa gadis muda itu malah menutup kembali pintunya, kali ini dengan keras tenaganya.

__ADS_1


"Hei, kukira tatapanmu mengintimidasinya deh," ujar Kibo sembari menyentil tubuh besar pria itu.


"Oh, begitukah tuan? Kurasa aku bersikap biasa saja kok ...." Pria besar itu mengatakan yang sejujurnya, ia hanya berniat membantu tuannya dengan cara mengetuk pintu itu, sudah berhasil tindakannya itu kemudian langsung gagal kembali.


Terdengar dari luar suara gadis muda itu, suaranya nyaring namun keras, rasanya ia seperti tengah memanggil seseorang di dalam bangunan penginapan tersebut.


Kibo kemudian mengambil lagi posisi di depan, karena mengingat hanya dialah yang sedikit berbeda dan terlihat tidak begitu menyeramkan daripada yang lain.


Ia kini hanya bisa berharap agar seseorang kembali membukakan pintunya untuk kedua kalinya.


Berharap agar gadis muda tadi kembali dan supaya ia bisa mengklarifikasi tentang kesalahpahaman yang terjadi tadi.


Klek ....


"Ah ...."


Tidak begitu lama, pintu tersebut ternyata terbuka kembali, namun kali ini dengan perlahan.

__ADS_1


Terlihat dari gelapnya ruangan di dalam itu, muncul seseorang namun ternyata bukan gadis yang tadi.


__ADS_2