Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 281: Yakin Berpisah?


__ADS_3

Vincent masih dalam tatapan serius yang tidak main-main, sedangkan Brock masih bingung saat ini, ia tidak yakin harus berbuat seperti apa atau mengatakan hal apa pada Danny saat ini.


"Kalau begitu, sampai jumpa!" Danny membalikkan badannya, Patricia yang melihatnya tahu Danny sedikit menahan kesedihan ketika hendak meninggalkan dua temannya itu.


Danny telah berjalan meninggalkan tempat itu, sedang Patricia masih ada di belakang, ia kemudian menundukkan badannya untuk memberi salam perpisahan pada Brock dan Vincent lalu dengan segera menyusul Danny yang telah mendahuluinya itu.


Setelah ada jarak di antara mereka, tiba-tiba Vincent berteriak memanggilnya.


"Danny!"


Tidak perlu pikir panjang lagi Danny langsung menoleh untuk mengetahui mengapa Vincent memanggilnya yang saat ini memang ia tengah hendak beranjak pergi dari tempat itu.


Vincent mendekat, memang ada jarak di antara mereka, namun tidak begitu jauh. Brock pun mengikuti Vincent karena ingin tahu mengapa ia memanggil Danny saat ini.


Setelah mereka berhadapan, Vincent masih dalam aura seriusnya itu terlihat masih ingin membicarakan sesuatu dengan Danny saat ini.


"Ada apa Vincent?"

__ADS_1


"Apakah kau menganggap jawabanku tadi itu 'tidak'?"


Vincent sepertinya belum selesai dengan apa yang ingin ia bicarakan itu, nampak masih ada hal-hal yang sepertinya masih perlu dibicarakan.


"Hah?" Danny jadi bingung karena Vincent berkata seperti itu, memangnya ada apa dengan jawabannya itu? Bukankah ia tadi menolak secara halus tawarannya itu?


Raut wajah Vincent kini kembali seperti semula, keseriusannya perlahan memudar dan kini ekspresinya yang tidak serius itu muncul kembali.


"Aku tidak pernah berkata tidak padamu tadi huahahaha!" Vincent menolak pinggangnya sembari tertawa dengan cukup lantang saat ini; benar saja Vincent yang biasanya sudah ada kembali saat ini.


"A-apa jangan-jangan?!" Danny memikirkan suatu hal yang tidak terpikirkan sebelumnya olehnya.


"Aku benar-benar berusaha memahami dengan penjelasanmu tadi Danny, dan alhasil itu membuat kepalaku ruwet dan belum memahami sepenuhnya apa yang kau katakan itu Danny." Vincent mengomentari penjelasan Danny yang seperti jalan meliuk-liuk untuk sampai ke tujuan seberang; perlu banyak waktu agar dimengerti, dan itupun jika mengerti.


"Be-benarkah? A-aku tidak bermaksud membuatmu bingung Vincent, dan a- tunggu ... apa itu berarti kalian juga tidak benar-benar memahami penjelasanku tadi?" Danny menanyakan hal ini pada Brock dan Patricia saat ini, mereka tidak mengatakan apapun yang memang sepertinya penjelasan yang dijelaskannya itu cukup rumit untuk didengarkan.


"A-aku paham ... sedikit." Patricia ingin mendukung Danny, namun itu terkesan dipaksakan karena memang Patricia juga adalah tipe orang yang tidak terlalu memikirkan hal yang rumit.

__ADS_1


"A-aku juga." Brock ikut menyatakan jawabannya itu, dan sama saja dengan Patricia terkesan dipaksakan karena memang sebenarnya ia juga bingung bagaimana menanggapi pembicaraan seperti ini.


Karena Danny berusaha untuk menjelaskan sedetail mungkin tentang tujuannya itu, hal itu membuat banyak sekali pengertian yang ada dan sepertinya tidak membuat penjelasan yang begitu jelas pada mereka bertiga yang notabene pemikirannya simple.


"Namun, dari apa yang kutangkap tadi Danny, kau ini berusaha seolah-olah mempertahankan keberadaanmu sebagai manusia biasa yang ditakdirkan melawan para iblis itu ...."


Vincent mulai berbicara pada Danny saat ini, ia sepertinya akan bicara panjang lebar padanya, mode seriusnya kembali ia pasang saat ini, aura keseriusan terasa dengan jelas; untuk seketika Vincent keluar dari mode seriusnya itu, dan sekarang ia masuk kembali ke mode ini.


"Kau selalu beralasan bahwa takdirlah yang membawamu pada tujuanmu saat ini, dan memang tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja kau terus-terusan berlindung pada fakta bahwa kau hanya bisa melakukan itu dengan takdir yang ada di depanmu."


"Dan takdir seperti apa yang ada padamu itu? Aku yakin Danny, kau ini bukan alat untuk menghentikan masalah ini; kau bukanlah seorang biasa yang akan menghentikan kekacauan ini."


"Seorang biasa?" Danny belum paham dengan apa yang dikatakan Vincent saat ini.


"Lho Danny, apa kau tidak pernah baca buku dongeng tentang para pahlawan? Apa yang kau temukan di sana?" Vincent mengajukan pertanyaan itu karena memang ia ragu jangan-jangan pada masa kecilnya pemuda ini tidak pernah membaca atau mendengar kisah tentang pahlawan.


"A-aku suka dengan cerita pahlawan kok! Tapi memangnya itu ada hubungannya?" Danny belum memahami juga apa yang dimaksud oleh Vincent saat ini; lagipula mengapa Vincent berbicara tentang cerita pahlawan dan dongeng saat ini?

__ADS_1


"Hah?! Danny, peka dikit dong!" Vincent seketika itu juga menginjak gas pada ucapannya itu, nada tinggi kini keluar dari mulutnya.


Ternyata memang Vincent harus sedikit mempersiapkan dirinya untuk berbicara panjang lebar, tidak biasanya ia berbicara panjang lebar kecuali jika memang dibutuhkan (dan sebenarnya si Vincent ini bukanlah orang yang terlalu cocok untuk berbicara panjang lebar).


__ADS_2