
Thor sang ksatria suci atau sering disebut orang sebagai pertahanan suci, sesuai dengan julukannya orang ini memang memiliki pertahanan fisik atau sihir yang kuat.
Namun Kibo tidak mengetahui seberapa benar rumor mengenai salah satu ksatria suci ini, meskipun begitu ia tetap mempercayai rumor yang beredar itu.
Kibo sendiri berusaha untuk mengidentifikasi aura dari seorang ksatria suci itu namun sayangnya ia tidak mampu merasakan auranya itu, bahkan hawa kehadirannya saja tidak terasa sama sekali.
Setelah pintu gerbang dibuka, Thor dengan ramah menemani rombongan itu ke sebuah keramaian yang berada di alun-alun kota tak jauh dari sana ada jam besar yang menujukkan waktu.
Kibo sedikit menahan rasa sakit pada kakinya itu, dan berusaha untuk berjalan seperti biasa agar tidak menimbukan kecurigaan apapun. Namun tetap saja meskipun disembunyikan, rasa sakit itu sedikit demi sedikit juga meluap keluar.
Kibo melihat sekitar area kota itu, ramai, itulah menurut pendapatnya sepertinya memang hal yang bagus bila kompetisi diadakan di sini.
Kota Boston yang telah dilihatnya sendiri memang bukan kota biasa, nampaknya kota dekat kerajaan barat ini memiliki ekonomi dan nilai hidup yang lebih baik dan terkesan semua orang yang berada di sini memakai pakaian bagus dan belanja hal-hal yang cukup tinggi, ada yang sedang membeli emas, ada pula yang sedang membeli permata.
Kibo bisa merasakan dengan jelas, permata yang dijual oleh penjual itu memiliki aura yang cukup kuat, nampaknya memang itu bukanlah permata biasa, itu lebih mirip sebagai suatu barang yang bisa memperkuat kekuatan sihir.
Karena alasan tadi di Kota ini tidak ada masyarakat kalangan bawah, bahkan pengemis pun tidak ada di sini, sebuah tempat bagi orang-orang berada yang mempunyai kekayaan materi.
"Tuan Thor adalah penyelenggara kompetisi ini?" Kibo penasaran akan detail mengenai kompetisi yangg akan berjalan itu.
"Oh? Sebenarnya tidak begitu juga, kompetisi ini diadakan dari naungan kerajaan barat, mereka menugaskanku dan Arhur untuk mengawasi jalannya kompetisi ini. Penyelenggara kompetisi ini yang pasti adalah orang-orang dari kerajaan barat."
"Namun peraturan kompetisi diserahkan padaku dan juga Arthur, penyelenggaraannya pun didanai sebagian oleh kami, jalannya kompetisi akan terus kami berdua awasi," jelas Thor.
__ADS_1
Kibo tak habis pikir ada dua orang hebat yang menyelenggarakan acara ini, ia kira orang hebat hanya akan muncul ketika ada sesuatu yang besar, namun ternyata mereka bisa muncul kapanpun.
"Ka-kalau boleh tahu dimanakah Tuan Arthur sekarang?" Saat ini Kibo penasaran akan keberadaan ksatria suci lain.
"Dia saat ini sedang berada bersama Wakil Kota Kota Boston, nampaknya mereka sedang mendiskusikan sesuatu tentang kompetisi kali ini."
"Tu-tuan tidak mengikuti pertemuan itu?" Kibo penasaran akan hal itu.
"Ah ... hahaha, aku tidak begitu tertarik dengan diskusi panjang, selama aku mengetahui intinya, itu sudah cukup bagiku." Thor tersenyum ketika menjawab pertanyaan pria keriting itu.
Nampaknya memang Tuan Thor adalah seseorang yang tidak terlalu memikirkan hal yang rumit, begitulah kesan Kibo pada pria hebat yang satu ini.
Ia kira orang-orang hebat akan selalu memikirkan hal yang rumit, namun ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar.
"Ah, tidak apa-apa Tuan, lagipula memang kami juga yang salah karena telah terlambat satu menit untuk datang kemari."
"Aku tahu, dan jika hal itu terjadi kalian tidak bisa menyalahkan siapapun, termasuk waktu yang telah kalian habiskan untuk sampai ke sini." Thor nampaknya memang mengerti pada perjuangan para petualang ini demi mencapai tempat ini.
"Ah iya, itu semua berkat Tuan yang mengizinkan kami untuk masuk ke kota ini, kami sangat berterima kasih." Lagi-lagi Kibo merasa sangat terbantu akan kehadiran salah satu anggota ksatria suci itu.
"Tidak masalah, meskipun aku menjunjung tinggi peraturan pada akhirnya aku tidak bisa sempurna, selalu ada kelemahan dibalik sempurnanya segala sesuatu, ada yang diuntungkan ada yang dirugikan."
"Hanya saja memang aku dari kecil tidak berpihak pada kedislipinan ataupun sangat taat pada peraturan, jika aku tahu ada hal yang janggal pada peraturan itu, maka aku tidak segan-segan melanggarnya demi berbuat lebih baik daripada peraturan itu sendiri atau bahkan terlebih lagi jika aku bisa, aku akan mengubah peraturan itu agar bisa seimbang."
__ADS_1
Kibo kagum akan penjelasan dari pria hebat itu, penjelasan yang tersembunyi namun secara jelas mengatakan secara gamblang bahwa memang dirinya itu tidak akan diperbudak oleh suatu peraturan, atau dalam kata lain Tuan Thor merupakan orang yang dinamis dan fleksibel.
"Dalam hal ini, aku lebih menghargai akan upaya kalian agar bisa sampai ke tempat ini, lebih daripada peraturan yang kami buat," ucap Thor, perkataan itu sekaligus mengakhiri alasan mengapa Thor tetap membuka pintu gebang kota ini meskipun semestinya sudah tertutup rapat pada para petualang itu.
"Awalnya aku berjalan-berjalan di sekitar kota ini, tak kusangka ketika orang-orang telah berkumpul untuk mengikuti kompetisi itu, tak sengaja aku mendengar suara keras yang berasal dari gerbang kota, maka akhirnya aku tahu bahwa ternyata masih ada petualang dari luar yang ingin mengikuti kompetisi ini."
"Pria besar yang berada di kelompokmu itu telah melakukan tugasnya dengan baik," puji Thor pada salah satu pria besar yang mengamuk ketika di depan gerbang kota tadi.
Pria besar yang dipuji itu merasa tersipu malu akan pujian dari orang hebat itu, entah mengapa kejantanannya berkurang sedikit kali ini.
"Oh ya, mengapa salah satu dari pria besar yang ada di kelompokmu itu bajunya bersimbah darah? Dan hmm ... sepertinya aku melihat hal yang sama pada kamu Kibo," tanya Thor padanya.
Sebenarnya Thor menyadari hal ini dari awal, dan dirinya menahan pertanyaannya itu sampai pada waktu yang tepat, yaitu saat ini.
Memang siapapun dapat melihat di antara pria besar ini ada dua orang yang mengalami luka, satu pada salah satu pria besar yang baju petualangnya sedikit berwarna merah pada bagian dadanya yang memang tidak lain tidak bukan adalah bekas darahnya sendiri, satu lagi yaitu pada pemimpin mereka sendiri, yang lukanya berada pada bagian pergelangan kaki kanan yang mengakibatkan kini dari paha sampai ke pergelangan kaki harus terlihat perban putih yang menutupi kakinya itu.
"Oh? Kami mengalami sedikit kendala saat menuju ke tempat ini, kami melintasi tempat bernama Rock Valley dan tempat itu benar-benar menghambat kami," jawab Kibo menjelaskan.
"Apa? Kalau tidak salah itu adalah area berbahaya ... mengapa kalian mengambil jalan itu?" Thor sedikit terkejut dengan jawaban yang ia dengar tadi.
Kibo sedikit tertawa. "Hanya itulah jalan tercepat yang bisa kami lalui untuk bisa sampai ke tempat ini, jika kami tidak mengambil jalan itu maka sudah pasti mungkin kami masih dalam perjalanan sekarang."
"Hmmm, aku mengerti ... selain itu yang kutahu Rock Valley adalah sebuah tempat yang sulit dijelaskan, terutama soal rumor tentang tempat itu." Thor mulai tertarik untuk membicarakan soal tempat bernama Rock Valley itu.
__ADS_1
Kibo akhirnya memiliki kesempatan untuk menjelaskan tentang tempat itu pada sang ksatria suci itu.